09 October 2012

Teori Disonansi Kognisi

Teori Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance Theory)

Teori disonansi kognitif diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957 (Shaw & Contanzo, 1985) dan berkembang pesat sebagai sebuah pendekatan dalam memahami area umum dalam komunikasi dan pengaruh social (Festinger, 1957). Terdapat beberapa teori dalam menjelaskan konsistensi atau keseimbangan, diantaranya adalah teori ketidakseimbangan Kognitif (cognitive imbalance) oleh Heider (1946), teori Asimetri (asymmetry) oleh Newcomb (1953), dan teori ketidakselarasan (incongruence) oleh Osgood dan Tannembaum (1952). Namun Shaw & Contanzo (1985) mengatakan bahwa teori disonansi kognitif berbeda dalam dua hal penting:
1. Tujuannya untuk memahami hubungan tingkah laku (behavior) dan kognitif (cognitive) secara umum, tidak hanya merupakan sebuah teori dari tingkah laku sosial.
2. Pengaruhnya dalam penelitian psikologi sosial telah menjadi suatu hal yang sangat besar dibandingkan teori konsistensi lainnya.
Teori disonansi kognitif menjadi salah satu penjelasan yang paling luas yang diterima terhadap perubahan tingkah laku dan banyak perilaku social lainnya. Teori ini telah digeneralisir pada lebih dari seribu penelitian dan memiliki kemungkinan menjadi bagian yang terintegrasi dari teori psikologi sosial untuk bertahun-tahun (Cooper & Croyle, 1984, dalam Vaughan & Hogg, 2005).
Pengertian
Festinger (1957) menjelaskan bahwa disonansi kognitif adalah diskrepansi atau kesenjangan yang terjadi antara dua elemen kognitif yang tidak konsisten, menciptakan ketidaknyamanan psikologis. Hal ini didukung oleh Vaughan & Hogg (2005) yang menyatakan bahwa disonansi kognitif adalah suatu kondisi tidak nyaman dari tekanan psikologis ketika seseorang memiliki dua atau lebih kognisi (sejumlah informasi) yang tidak konsisten atau tidak sesuai satu sama lain.
Festinger (1957) menyatakan bahwa kognitif menunjuk pada setiap bentuk pengetahuan, opini, keyakinan, atau perasaan mengenai diri seseorang atau lingkungan seseorang. Elemen-elemen kognitif ini berhubungan dengan hal-hal nyata atau pengalaman sehari-hari di lingkungan dan hal-hal yang terdapat dalam dunia psikologis seseorang. Terdapat dua macam hubungan antar elemen (Festinger, 1957 dalam Shaw & Contanzo,1982), yaitu :
1. Hubungan tidak relevan (irrelevant), yaitu tidak adanya kaitan antara dua elemen kognitif. Misalnya: pengetahuan bahwa merokok buruk bagi kesehatan dengan pengetahuan bahwa di Indonesia tidak pernah turun salju.
2. Hubungan relevan, yaitu hubungan yang terkait sehingga salah satu elemen mempunyai dampak terhadap elemen yang lainnya. Hubungan ini terdiri dari dua macam, yaitu:
a. Disonan, jika dari kedua elemen kognitif, satu elemen diikuti penyangkalan (observe) dari yang elemen lainnya. Contoh: seseorang yang mengetahui bahwa bila terkena hujan akan basah mengalami disonan ketika pada suatu hari ia ternyata mendapati dirinya tidak basah saat ia terkena hujan.
b. Konsonan, terjadi ketika dua elemen bersifat relevan dan tidak disonan, dimana satu kognisi diikuti secara selaras. Contoh: seseorang yang mengetahui bahwa bila terkena hujan akan basah dan memang selalu basah bila terkena hujan. Dua orang individu yang memiliki situasi yang sama memiliki kemungkinan berbeda dalam kondisi disonan.
Aronson (dalam Shaw & Contanzo, 1985) menyatakan bahwa perbedaan individu berperan dalam proses disonansi kognitif. Perbedaan ini terjadi dalam kemampuan subyek dalam mentoleransi disonansi, cara yang dipilih subyek untuk mengurangi kondisi disonan, dan cara subyek memandang suatu masalah sebagai konsonan atau disonan.
Sumber penyebab
Festinger (1957) menyebutkan dua situasi umum yang menyebabkan munculnya disonansi, yaitu ketika terjadi peristiwa atau informasi baru dan ketika sebuah opini atau keputusan harus dibuat, dimana kognisi dari tindakan yang dilakukan berbeda dengan opini atau pengetahuan yang mengarahkan ke tindakan lain. Lebih lanjut Festinger (1957) menyebutkan empat sumber disonansi dari stituasi tersebut, yaitu:
a.       Inkonsistensi logika (logical incosistency), yaitu logika berpikir yang mengingkari logika berpikir yang lain. Misalnya seseorang yang percaya bahwa manusia dapat mencapai bulan dan juga percaya bahwa manusia tidak dapat membuat alat yang dapat membantu keluar dari atmosfir bumi.
b.      Nilai budaya (cultural mores), yaitu bahwa kognisi yang dimiliki seseorang di suatu budaya kemungkinan akan berbeda di budaya lainnya. Misalnya seorang Jawa yang mengetahui bahwa makan dengan menggunakan tangan di daerahnya adalah suatu hal yang wajar, disonan dengan kenyataan bahwa hal tersebut tidak wajar pada etika makan di budaya Inggris.
c.       Opini umum (opinion generality), yaitu disonansi mungkin muncul karena sebuah pendapat yang berbeda dengan yang menjadi pendapat umum. Misalnya seorang anggota partai demokrat yang dianggap publik pasti akan mendukung kandidat dari partai yang sama, ternyata lebih memilih kandidat dari partai Republik yang merupakan lawan dari partainya.
d.      Pengalaman masa lalu (past experience), yaitu disonansi akan muncul bila sebuah kognisi tidak konsisten dengan pengalaman masa lalunya. Misalnya seseorang yang mengetahui bahwa bila terkena hujan akan basah mengalami disonan ketika pada suatu hari ia ternyata mendapati dirinya tidak basah saat ia terkena hujan.
Implikasi Teori
Menurut Festinger, teori disonansi kognitif memiliki implikasi penting dalam banyak situasi spesifik (dalam shaw&Constanzo, 1982). Festinger menjabarkan implikasi dalam keputusan (decisions), Forced Compliance, Pencarian informasi (Exposure to Information), dan dukungan social (social support). Dari situasi tersebut dapat diketahui besarnya kekuatan disonansi.
1.      Keputusan (decisions)
Festinger (1957) menyatakan bahwa disonansi merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan dari keputusan. Hal tersebut didasari oleh kenyataan bahwa seorang individual harus berhadapan dengan sebuah situasi konflik sebelum sebuah keputusan dapat dibuat. Pada umumnya, elemen disonan adalah aspek negatif dari alternative yang dipilih dengan aspek positif dari alternatif yang ditolak. Disonansi akan semakin kuat jika keputusan semakin penting dan jika ketertarikan dari alternatif yang tidak dipilih semakin besar. Contoh dari munculnya disonansi dari keputusan yang diambil adalah perokok berat yang memutuskan untuk tetap merokok mengalami disonan ketika ia mengalami sakit kanker paru-paru akibat merokok ( hal negatif dari alternatif yang dipilih) dengan hal positif yang akan ia dapat bila tidak merokok, yaitu sehat (alternatif yang ditolak).
2.      Forced Compliance
Forced Compliance merupakan suatu permintaan dari luar diri seseorang yang dipaksakan kepada seorang individu. Aplikasi dari teori disonansi pada Forced Compliance terbatas pada permintaan publik (Compliance) tanpa disertai oleh perubahan pendapat pribadi. Sumber disonansi adalah kesadaran seseorang dari tingkah laku yang diharuskan publik yang tidak konsisten dengan pendapat pribadi. Forced Compliance ini mempengaruhi individu (misalnya perokok berat) yang membuat berhasil mengubah (berhenti merokok), merubah perilaku atau ucapan yang terlihat merubah opini dan keyakinan mereka dengan tetap memegang keyakinan sebelumnya (merokok sembunyi-sembunyi), atau justru membuat mereka mencari dukungan sosial yang mendukung pendapatnya (bergabung dengan klub penggemar rokok).
3.      Pencarian informasi (Exposure to Information)
Festinger memberikan hipotesis bahwa pencarian informasi aktif berkorelasi dengan kekuatan disonansi. Disonansi menyebabkan pencarian informasi menjadi selektif, yaitu individu akan lebih mencari informasi yang menyebabkan konsonan dan menghindari informasi yang menyebabkan disonansi.
4.      Dukungan sosial (social support)
Dukungan sosial (social support) berperan dalam mengurangi kondisi disonan (Festinger, 1957). Disonansi kognitif akan dihasilkan oleh seseorang yang mengetahui bahwa orang lain memilki opini yang berlawanan dengan opininya. Dalam hal ini akan dilihat seberapa stigma, yang merupakan keyakinan atau pendapat yang dimiliki oleh masyarakat terhadap mantan napi, konsonan dengan keyakinan atau pendapat mantan napi itu sendiri. LSM Sahabat Andik berupaya memberikan dukungan sosial salah satunya dengan memberikan opini yang positif terhadap mantan napi. Kekuatan disonansi yang dimiliki mantan napi yang bergabung ke dalam LSM Sahabat Andik tergantung dari:
1. Seberapa besar elemen kognitif sosial terhadap mantan napi konsonan dengan opini yang dimiliki mantan napi itu sendiri.
2. Jumlah orang yang dikenal oleh suatu individu yang memiliki opini yang sama dengan dirinya.
3. Pentingnya elemen atau opini tersebut.
4. Relevansi orang atau kelompok dengan opini individu.
5. Ketertarikan mantan napi terhadap orang atau kelompok.
6. Besarnya ketidaksetujuan individu terhadap opini yang ada.
Maka dari hal-hal tersebut diatas dapat dilihat seberapa jauh LSM tersebut mampu memberikan dukungan sosial kepada mantan napi yang bergabung didalamnya untuk mengurangi disonansi kognitif yang dimiliki relawan mantan napi.
Upaya mengatasi
Festinger menunjukkan bahwa kita akan mencari keselarasan dalam tingkah laku dan keyakinan serta mencoba untuk menurunkan tekanan dari inkosistensi dari elemen yang ada Vaughan & Hogg (2005). Ketika terjadi disonansi kognitif, Festinger (1957) menyatakan bahwa terdapat konsekuensi ketika seseorang mengalami disonansi yang di tunjukkan melalui 2 hipotesis dasarnya, yaitu:
a.       Terjadi ketidaknyamanan psikologis yang mendorong seseorang untuk mengurangi disonansi ini dan mencapai kondisi yang konsonan (relevan antar elemen kognitif).
b.      b. Seseorang tidak hanya berusaha untuk menguranginya tetapi juga akan menghindari situasi dan informasi yang dapat meningkatkan disonansi.
Dari dua hipotesis ini, lebih lanjut Festinger menjelaskan mengenai upaya yang mungkin dilakukan oleh individu yaitu dengan:
1.      Pengurangan disonansi, melalui 3 kemungkinan cara:
a.       Mengubah elemen tingkah laku
Misalnya : seseorang yang ingin piknik di luar ruangan tetapi ternyata hujan, memilih untuk mencari kegiatan lain di dalam rumah.
b.      Mengubah elemen kognitif lingkungan
Misalnya : seseorang perokok berat yang mempercayai bahwa merokok tidak mengganggu kesehatan dan mengetahui orang lain berpendapat berbeda, berusaha mempengaruhi orang lain yang berbeda pendapat tersebut untuk mendukung pendapatnya.
Festinger (1957) menyatakan bahwa umumnya orang yang sangat merasa yakin akan opininya akan mencari orang lain yang setuju dan mendukung dengan opininya. Cara tersebut adalah cara yang paling banyak dilakukan untuk mengurangi tekanan untuk merubah kognisi yang dimiliki seseorang, dengan kata lain disinilah dukungan sosial dibutuhkan.
c.       Menambah elemen kognitif baru
Misalnya : seorang perokok berat diatas, meyakinkan dirinya sendiri bahwa merokok masih lebih baik daripada mengkonsumsi alkohol atau narkoba yang jauh lebih merusak kesehatan.
2.      Penghindaran disonansi
Misalnya : seorang perokok berat berusaha tidak mendengarkan atau mengacuhkan orang lain dan hal-hal lain (misalnya iklan) yang menginformasikan tentang bahaya rokok bagi kesehatan.
Festinger (1957) menyatakan bila seseorang mengetahui bahwa orang lain memilki opini yang berlawanan dengan opininya, maka individu tersebut akan berupaya mengurangi disonansi dengan merubah opini yang dimilikinya, dengan mempengaruhi mereka yang tidak setuju dengan opininya, atau membuat mereka yang tidak setuju untuk tidak membandingkan dengan dirinya.

No comments: