Satu Jam Sia-sia di
Teuku Umar
Sudah
sekitar satu jam Prabowo Subianto menunggu di halaman rumah Megawati
Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar Nomor 27, Menteng, Jakarta Selatan. Namun sang
tuan rumah tidak kunjung keluar menyambut kunjungan Komandan Jenderal Kopassus
1996-1998 itu.
Selembar
kertas tertempel di pagar depan rumah Mega. Tulisannya berbunyi “Pada Hari Raya
Idul Fitri 1 Syawal 1434 H Tidak Ada Open House”. Mungkin karena tulisan itu
rumah presiden kelima RI tersebut, yang biasanya ramai dikunjungi simpatisan
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, pada 18 Agustus 2013 alias satu hari
setelah Lebaran menjadi sepi. Tradisi open house tidak digelar karena
Mega dan keluarga masih berselimut duka. Taufiq Kiemas, sang suami, pada 8 Juni
2013, meninggal. Artinya, dalam suasana Lebaran itu, kepergian Taufiq belum
seratus hari.
Prabowo
datang untuk berhalalbihalal sekaligus melakukan komunikasi politik. Tapi tidak
ada satu pun anggota keluarga Mega yang keluar untuk menemuinya. “(Kedatangan
saya) dilaporkan atau tidak, beliau tidak keluar. Setelah saya menunggu cukup
lama, hampir satu jam (beliau) tidak keluar, saya pulang,” ujar Prabowo kepada majalah
detik.
Padahal,
sore harinya, kunjungan Wakil Presiden Boediono ke rumah Mega mendapat sambutan
hangat. Boediono dan Herawati, istrinya, menghabiskan waktu dengan berbincang
bersama Mega, Puan Maharani, dan Muhammad Rizki Pratama.
Penolakan
Mega merupakan akhir dari kongsi politik PDI Perjuangan dengan Partai Gerakan
Indonesia Raya. Koalisi ini bermula saat Mega dan Prabowo menjadi pasangan
calon presiden-calon wakil presiden dalam pemilihan presiden 2009. Meski kalah,
koalisi PDI Perjuangan dan Gerindra berlanjut pada pemilihan Gubernur DKI
Jakarta pada 2012. Dua partai ini mengusung pasangan Joko Widodo dan Basuki
Tjahaja Purnama.
Gagal
bertemu dengan Mega setelah Lebaran, Prabowo masih melobi kalangan dekat PDI
Perjuangan agar bisa dipertemukan dengan ketua umumnya. “Saya berusaha minta
waktu, sampai hari ini saya belum diterima,” tuturnya. Prabowo merasa perlu bertemu
dengan Mega untuk membicarakan kelanjutan perjanjian Batu Tulis, yang
ditandatangani mereka berdua. Bagi Prabowo, perjanjian itu ibarat utang yang
belum dilunasi.
Mega
dan Prabowo berpasangan karena situ-asi yang memaksa mereka menghadapi pemilu
presiden 2009. Saat itu, PDI Perjuangan dan Gerindra merupakan dua partai
politik yang paling akhir melakukan koalisi. Tujuh partai lainnya sudah
menentukan koalisi. Partai Golkar berkongsi dengan Partai Hanura mengusung
Jusuf Kalla dan Wiranto. Partai Demokrat berkongsi dengan Partai Keadilan
Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai
Kebangkitan Bangsa mengusung Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.
Penentuan
koalisi PDI Perjuangan-Gerindra dibuka dengan pertemuan Mega, Theo Syafei, dan
Rini Suwandi dari PDI Perjuangan dengan Prabowo, Muchdi Purwoprandjono, dan
Fadli Zon dari Gerindra. Mereka sepakat melakukan penjajakan koalisi. Pascapertemuan
ini, PDI Perjuangan dan Gerindra langsung membicarakan materi perjanjian
koalisi di Hotel Continental, Jakarta. PDI Perjuangan mengirimkan Theo Syafei,
Pramono Anung, Puan Maharani, Sabam Sirait, dan Tjahjo Kumolo. Sedangkan
Gerindra mengirimkan Hashim Djojohadikusumo, Muchdi Purwoprandjono, Mayjen Edi
Budianto, dan Martin Hutabarat.
Mereka
sepakat untuk membentuk tim kecil untuk merumuskan klausul perjanjian koalisi.
Perumusan ini berjalan alot. Prabowo berkukuh duduk sebagai capres walaupun
perolehan suara partainya kecil. Alasannya, elektabilitasnya lebih tinggi
dibanding Mega. Namun PDI Perjuangan merasa perolehan suara Gerindra terlalu
kecil sehingga menilai Prabowo lebih laikduduk sebagai cawapres mendampingi
Mega.
Perolehan
suara PDI Perjuangan dalam pemilu legislatif 2009 sebesar 14,6 persen,
sedangkan Partai Gerindra 4,9 persen. Adapun ambang batas pengajuan capres dan
cawapres adalah 20 persen perolehan suara.
Pada
15 Mei 2009, pembicaraan kesepakatan dilakukan di Istana Batu Tulis, Bogor,
Jawa Barat. Kedua partai menyetujui tujuh poin kesepakatan kerja sama. Hari itu
adalah sehari sebelum tenggat pendaftaran nama pasangan capres-cawapres di
Komisi Pemilihan Umum. Prabowo setuju duduk sebagai cawapres mendampingi Mega,
tapi ia memberikan persyaratan, yakni Mega mendukung Prabowo sebagai capres
pada Pemilu 2014. Syarat ini menjadi klausul terakhir kesepakatan koalisi PDI
Perjuangan-Gerindra.
Menjelang
tengah malam, pasangan Mega-Prabowo diumumkan di rumah Mega, Jalan Teuku Umar,
Menteng, Jakarta Selatan. Nah, seusai pengumuman itu, perjanjian diteken. “Jadi
ditandatanganinya di Teuku Umar,” kata Prabowo. “Ditandatangani pakai bolpoin
saya,” Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menambahkan.
Klausul
inilah yang membuat Prabowo tidak ikhlas mengakhiri kongsi politik PDI
Perjuangan-Gerindra. Perjanjian Batu Tulis mengikatMega untuk mendukung Prabowo
sebagai capres pada Pemilu 2014, sehingga kongsi tidak boleh pecah sebelum
2014. Apalagi kongsi ini berhasil membuat kedua partai merajai DKI Jakarta
dalam pemilihan gubernur 2010. Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, yang diusung
kedua partai itu, mengalahkan koalisi tujuh parpol lainnya dalam putaran kedua
pemilihan gubernur. Prabowo mengaku berkorban cukup banyak untuk mendukung
kampanye Jokowi-Ahok. Ia membujuk Mega agar mau memboyong Jokowi dari Surakarta
ke Jakarta. Jokowi merupakan kader PDI Perjuangan di Jawa Tengah.
Ia
juga menyebutkan merogoh kocek sekitarRp 60 miliar untuk melumasi mesin
politik. Uang ini digunakan untuk menggerakkan tim sukses dan membiayai
kampanye Jokowi-Ahok di Jakarta. “Dengan ikhlas, tanpa minta imbalan, tanpa
mahar politik. Ya, itulah riwayatnya,” tutur Prabowo.Tapi malang bagi Prabowo.
Tanpa berbicara dengan dirinya, PDI Perjuangan justru menggadang-gadang Jokowi
sebagai capres 2014.
Pada
14 Maret 2014, deklarasi dilakukan serentak oleh Jokowi, yang tengah bertandang
ke kompleks Rumah Pitung di Marunda, Jakarta Utara, dan pengurus Dewan Pimpinan
Pusat PDI Perjuangan di kantor DPP, Jalan Lenteng Agung Nomor 99, Jakarta
Selatan. Prabowo harus menelan kekecewaan, tapi ia tidak dapat berbuat banyak.
PDI Perjuangan memiliki aturan pengusungan capres sesuai dengan mekanisme
partai. Menggunakan alasan itu, Partai Banteng bisa saja memutus kongsi dengan
Gerindra.
“Kalau
Anda manusia dan berada di pihak saya, bagaimana? Ya, pikirkan saja. Saya tidak
mengerti apa salah saya, saya menghormati beliau (Mega),” Prabowo mengeluh.
Kekecewaannya pun menumpuk. Ia kesal Mega mengingkari perjanjian Batu Tulis.
Lebih kesal lagi, Mega lebih memilih Jokowi, “anak bawang” yang dibawanya dari
Solo ke Jakarta.
Prabowo
mengaku sebenarnya meragukan loyalitas Jokowi. Pasalnya, Jokowi tidak pernah
berterima kasih sejak mendapat dukungan penuh dari Prabowo, baik secara politik
maupun pendanaan. “Toto kromo-nya itu tidak bagus. Jokowi tidak ucapkan
terima kasih sama sekali,” ujar Prabowo.
Amarah
Prabowo tidak dapat disembunyikan. Ia menggunakan pengingkaran perjanjian Batu
Tulis sebagai serangan dalam kampanye pemilu legislatif. Berulang kali ia
berteriak mengenai pemimpin mencla-mencle, capres boneka, dan pemimpin
pembohong (lihat infografis). Selain itu, sehari pascadeklarasi pencalonan
Jokowi oleh PDI Perjuangan, perjanjian Batu Tulis beredar melalui media sosial.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengaku perjanjian yang beredar di
media sosial itu memang dokumen asli. Namun ia tidak tahu siapa yang
mengunggahnya ke dunia maya.
PDI
Perjuangan sendiri tidak mau ambil pusing meladeni Prabowo. Sekretaris Jenderal
PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo menganggap perjanjian Batu Tulis hangus semenjak
pasangan Mega-Prabowo tidak berhasil memenangi pilpres 2009. Klausul perjanjian
disusun secara berjenjang. Jika klausul pertama tidak dapat dicapai, koalisi
bubar. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma
Sundari, pun mengakui, selama duduk di DPR, PDI Perjuangan dan Gerindra tidak
selalu berkongsi. Perbedaan di antara kedua fraksi masih terjadi seperti
laiknya tak ada kongsi politik, sehingga aneh jika Prabowo menagih klausul
dukungan capres 2014.
Partai
berlogo banteng moncong putih itu pun membiarkan Prabowo mencak-mencak di
panggung kampanye. Mereka menganggap aksi itu sebagai atraksi politik pada masa
kampanye saja. “Kita sabarlah. Selama ini kita mengkritik orang, sekarang kita
banyak sabarlah,” ucap Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait.
Jokowi
yang diserang Prabowo kalem saja. Menanggapi sindiran, capres PDI Perjuangan
itu menganjurkan agar kampanye dilakukan secara sopan. Ia tidak merasa sebagai
capres boneka ataupun pemimpin yang mencla-mencle. “Saya tidak punya
boneka,” kata Jokowi. Diungkit-ungkit soal utang jasa kepada Pra-bowo saat
pemilihan gubernur, Jokowi menegaskan, yang membawanya ke Jakarta adalah Mega
dan PDI Perjuangan. Mega juga pernah memberi klarifikasi yang sama. Namun
Jokowi tidak berkeberatan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantunya, tidak terkecuali kepada Prabowo. “Terima kasih kepada Pak
Prabowo. Terima kasih semua,” kata Jokowi.
Amarah di Pondok
Indah
Diskusi
di rumah Hashim Djojohadikusumo di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan,
tiba-tiba beku. Lima pemimpin partai politik Islam, Partai Amanat Nasional dan
Partai Persatuan Pembangunan, diam terpaku di meja setelah menyampaikan
kesimpulan. Di depan mereka, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo
Subianto memasang muka merah padam. Amarahnya meledak.
Pada
28 Mei 2009, tiga hari setelah pengumuman rekapitulasi suara pemilu legislatif,
mereka berdiskusi serius tentang kemungkinan koalisi. Hasilnya, kongsi politik
Partai Gerindra, PAN, dan PPP tidak dapat dilanjutkan.
PAN
diwakili oleh Soetrisno Bachir dan Totok Daryanto. PPP diwakili oleh
Suryadharma Ali, Suharso Monoarfa, dan Hasrul Azwar. Sedangkan tuan rumahnya
adalah Hashim, adik Prabowo. Ia mewakili Partai Gerindra bersama Prabowo dan
Bambang Kristiono.
Sebelumnya,
mereka duduk meriung di ruang tamu. Suryadharma dan Soetrisno berada di sebelah
kiri Prabowo. Satu persatu para tamu berusaha
memaparkan kegagalan rencana koalisi yang akan dibangun. Mereka menyebutnya
Koalisi Nusantara. Tiga partai ini sepakat mengusung Prabowo sebagai calon
presiden. Namun suara mereka tidak cukup untuk mengajukan calon presiden. PAN
memperoleh 46 kursi,PPP mendapatkan 38 kursi, sementara Gerindra sendiri hanya
26 kursi. Total suara 110. Padahal ambang batas pengajuan capres adalah 112
suara.
Prabowo
tidak puas terhadap penjelasan calon kawan koalisinya itu. Emosinya mulai
meninggi. Menurut sumber majalah detik, bekas menantu Soeharto itu marah
besar. Dia meninggalkan ruang pertemuan. Hashim, yang duduk di seberang
Prabowo, akhirnya berdiri menyusul untuk menenangkan abangnya itu.
Menurut
Sekretaris Jenderal PPP Romahurmuziy, ketua umumnya itu mengaku dag-dig-dug
menghadapi amarah mantan Komandan Jenderal Kopassus tersebut. Kemarahan Prabowo
benar-benar berada di puncak. Ambisinya menjadi capres rontok.
Totok
Daryanto membenarkan adanya pertemuan itu. Tapi dia membantah anggapan Prabowo
menunjukkan amarahnya kepada tamu. “Saya agak lupa persisnya, tapi seingat saya
semua berakhir dengan baik,” ujar Totok kepada majalah detik. Namun masa
berlalu, tragedi amarah Prabowo di Pondok Indah itu sudah dilupakan. Minggu, 23
Maret 2014, Suryadharma, Djan Faridz, dan KH Iskandar Nur menghadiri kampanye
akbar Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Mereka
bertiga mengenakan jas hijau lengkap dengan lambang Ka’bah.
Ketiganya
berdiri satu panggung dengan Prabowo dikepung barisan simpatisan Gerindra.
Suryadharma berorasi setelah Prabowo menskors pidatonya. Prabowo memberi
kesempatan kepada Suryadharma, sebab para politikus PPP itu akan segera pergi
dari GBK untuk acara lain. “Prabowo nantinya adalah presiden para petani,
presiden para nelayan, presiden kaum wong cilik,” ucap Suryadharma
disambut sorak simpatisan Gerindra.
Prabowo
dan Suryadharma kembali saling dukung setelah gagal membangun koalisi pada
2009. Tapi tidak semua petinggi PPP bisa berdamai dengan ingatan buruk amarah
Prabowo. Wakil Ketua PPP Suharso Monoarfa mengatakan Suryadharma tidak pernah
berkomunikasi dengan pengurus partai lainnya terkait kehadirannya dalam
kampanye Partai Gerindra. “Itu move pribadi,” ujar Suharso. Dia pun
menuding Suryadharma berambisi menjadi calon wakil presiden bagi Prabowo.
Mantan Menteri Perumahan Rakyat itu menuturkan Musyawarah Kerja Nasional PPP di
Bandung pada 2014 menyebutkan enam nama tokoh yang layak diusung menjadi capres
atau cawapres, yakni Joko Widodo, Isran Noor, Din Syamsuddin, Jimly
Asshiddiqie, Jusuf Kalla, dan Khofifah Indar Parawansa. “Nama Prabowo tidak
masuk tangkapan radar kami,” kata Suharso.
Sumber:
Majalah Detik Edisi 122, 31 Maret-6 April 2014.