Showing posts with label Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi. Show all posts

03 January 2017

Menakar Dominasi Media Jakarta: Kaitannya dengan Kekuasaan

Salah satu kekuatan media massa adalah bagaimana mewujudkan sebaran pemberitaan secara proporsional terkait isu-isu yang berkembang di berbagai daerah. Guna menyalurkan aspirasi masyarakat yang aksesnya lebih sulit dibanding berada di perkotaan.
Soal fakta bahwa kejadian penting seputar ibu kota semestinya bisa diketahui oleh semua masyarakat, tentu bukanlah sesuatu yang patut dipersoalkan. Apalagi yang berkaitan dengan produk kebijakan negara. Namun beda halnya ketika dalam rentang waktu yang cukup panjang, perhatian publik melulu diarak ke Jakarta. Sebab jiwa kebangsaan rakyat Indonesia adalah "Indonesia Raya" bukan "Jakarta Raya".
Lantas kenapa media massa berbondong-bondong dan cenderung memanjakan Jakarta? Tentu karena Jakarta adalah tempat produksi segala kepentingan, termasuk isu (agenda). Isu diracik, dikembangkan, dan disebarkan ke segala sisi jantung masyarakat dengan tujuan tertentu, meskipun itu tidak ada kaitannya dengan kemajuan ataupun perkembangan.
Dalam kondisi ini saya menangkap beberapa fakta menarik, yang diharapkan dapat menetralisir pengaruh agenda setting media. Pertama, adanya upaya  siaran stasiun televisi nasional memberikan jatah yang lebih besar terhadap Jakarta adalah ketidakadilan yang dilegalkan. Dari segi demokrasi, mereka dengan sengaja membungkam suara-suara kecil orang-orang pinggiran dan pedesaan. Tidak ubahnya suara-suara kehidupan tersebut dianggap sebagai riak-riak yang hanya mengganggu keelokan tayangan TV.
Kedua, acara televisi selalu berbau sinetron atau hiburan, dan cenderung meninabobokkan. Publik bisa mendapatkan segala bentuk informasi tidak mesti dari televisi, tapi bisa juga dari media cetak dan media elektronik lainnya. Hanya saja, televisi bagi kebanyakan orang, terlepas dari umur maupun statusnya, lebih memilih media elektronik yang satu ini sebagai tempat mengurai kepenatan. Maka dengan modal tersebut, televisi menghidangkan segala menu yang mereka buat, karena sudah tidak mempersoalkan lagi adakah konsumen atau tidak.
Ketiga, dari mata turun ke hati. Acara TV tidak membuat kita berpikir seperti halnya membaca koran. Konsumen menu televisi sangat dimanjakan sekali, sehingga mereka tinggal rebahan atau duduk dengan tenang sambil menggoyangkan kaki ditemani secangkir kopi. Kemudian tanpa disadari, gurihnya hidangan sudah merasuki emosi dan hati penonton. Kalaupun misalnya satu sajian tidak enak disantap, maka cukup menggerakkan telunjuknya. Sehingga dipastikan daya pikir anda tertutup untuk beranjak apalagi menghindar.
Dengan menimbang-nimbang semua ini, diakui atau tidak, membuat kita mengernyitkan dahi. Orang-orang yang berada dibelakang layar televisi bukanlah manusia bodoh dan tidak menyadari efek positif-negatif tayangannya. Akan tetapi yang tidak boleh kita abaikan adalah bahwa bukan efek alami tersebut titik tekannya. Ibarat usaha catering, penjual dapat menyediakan pesanan sesuai khas masakan mereka. Namun bukan berarti pelanggan tidak boleh memesan sesuai seleranya. Penjual akan dengan senang hati menservice kemauan dari pelanggan (pemilik uang) dengan sepenuh hati.
Contoh kasus misalnya, bagaimana dalam beberapa minggu terakhir, media televisi secara serentak memberi perhatian khusus terhadap kasus Ahok. Dari sejak mulai viralnya video Ahok yang ditengarai menistakan agama Islam, demo besar-besaran 4 November yang dikomandoi Ormas FPI, hingga proses gelar perkara. Mengingat agenda jarum suntik media yang terfokus, maka jadilah hampir seluruh publik di seluruh Indonesia menyimak dan ikut-ikutan melakukan penafsiran. Meskipun yang paling mencolok dalam proses ini adalah terjadinya penggamangan terkait yang mana benar-benar ulama dan bukan. Dan hal ini juga bagian dari agenda politik media itu sendiri.
Dengan demikian, sudah jelas kiranya bahwa adanya upaya untuk penyiaran terfokus secara seporadis adalah pencabulan terhadap demokrasi. Media berkewajiban menjadi corong dari aspirasi rakyat dimanapun berada, tanpa mendiskriminasi terhadap suku, agama, dan ras tertentu. Sebab rakyat juga memiliki hak mendapatkan informasi yang sama rata.

Pada gilirannya, penulis mengharapkan kepada seluruh pemilik media, terutama televisi, agar lebih mengangkat harkat dan martabat manusia Indonesia yang notabene menjunjung tinggi moralitas. Sedari sekarang sudah selayaknya media mempelopori pengembangan sumber daya manusia Indonesia dalam mendukung semangat kepemudaan. 
Read More >>>

Kelemahan Netbook Asus Eee PC 1015B


Selamat datang.......sobat-sobat di warung diskusi. Kali ini aku akan sedikit mendiskusikan tentang sebuah realitas terkait dunia tekno. Yang kata sebagian banyak orang memberikan bayak kemudahan dan tanpa sedikitpun mempersulit diri kita. Mulai dari HP, Komputer, Laptop, Netbook, dan beragam teknologi lainnya.
Tapi sayang, keyakinan semacam itu tidak banyak sesuai dengan kenyataan. Sebaliknya, Justru yang tanpak dari tawaran instan teknologi adalah secara tidak langsung menjadikan kita malas-malasan, sehingga enggan untuk berpikir keras. Serta selalu dan selalu mengembalikan segala sesuatu pada kemolekan teknologi.
Lihat saja, misalnya, bila kita mencoba bandingkan antara satu produk dengan produk lainnya. Tidak jarang, malah membuat kita pusing. (Yaaaaac,,,,tentu saja beda lagi bagi sobat-sobat yang kantongnya selalu dijauhkan dari musim kemarau alias tajir gitu, jadi bila suatu waktu timbul keinginan untuk sama kayak lainnya hanya tinggal beli dueh bahkan langsung yang sekelas Apple). Padahal, hampir bisa dikatakan perkembangan teknologi terus mengalami akselerasi setiap saat.
Hampir semua yang dipaparkan disini sebenarnya berangkat dari pengalaman penulis.  Awalnya, penulis dikasih kepercayaan oleh seorang temen (sebenarnya yang paling tepat temen mesra gtu, hehehe) untuk ngerawat laptopnya. Laptopnya tersebut merek Acer type 5050. Pada suatu waktu, terdapat jin ifrit yang spesialisasinya klo nggak memanipulasi file-file bisa-bisa laptopnya nggak bisa idup lagi. Nah, punya temenq itu kemarin hampir semua software di partisi C nggak fungsi semua atau eror, ya mau tidak mau harus diinstal ulang deh.
Tapi, enaknya, sekalipun driver laptopnya hilang, tapi dengan mudah aku download di situs resminya Acer (www.Acer.com). Tinggal masukin typenya, maka tinggal milih driver apa yang mau didownload. Walaupun, kelemahan yang paling populer dari Acer adalah prosesornya cepet panas. Dan klo bahasanya temen-temen ketika nongkrong sambil hotspotan, wah kalo telur ditaruh dideketnya bisa mateng juga nic. Gimana tidak, wong panasnya kyak neraka. Lebai toh? Ya, mau gimana lagi wong pake kipas aja nggak mempan.
Nah, selanjutnya kita berpindah pada produk yang memang menjadi inti pembicaraan kita, yaitu Asus type 1015B. Untuk yang ini memang kebetulan kepunyaan penulis sendiri. Tanpa bertele-tele lagi, suatu saat netbook q ntu biasa aja wirelessnya berfungsi seperti lainnya, tapi tahu-tahu malah ‘signal limited’ (sinyal terbatas) terus. Padalah, ketika dipake hotspotan punya yang lain sinyalnya penuh. Sementara punya q sinyal ada tapi nggak bisa connect. Karena udah kehabisan akal, akhirnya penulis masrahin sama temen yang memang udah terbiasa mengotak-atik laptop sambil dia minta bantuan temen-temennya. Hasil akhirnya, sama saja tidak gool dan parahnya lagi tidak diketahui penyebabnya. Sehingga, kesimpulan akhir yang memang biasa dipake oleh para ulat-ulat komputer dan laptop, harus diinstal ulang.
Setelah mengikuti anjuran tersebut, ternyata memang berhasil. Walaupun awalnya, ketika penulis mencoba nginstal sendiri, sempat emosi karena nggak dapet-dapet pinjeman flasdish yang di atas 4 GB. Sebab, seperti, diinformasikan oleh mbah google, untuk nginstal windows 7 memang minimal kapasitas flasnya 4GB, bahkan di atasnya. Dan yang enak lagi kalo punya hardish eksternal. Cuma, dari saking mumetnya tak suruh instalin aja sama temen. Dari pengakuannya sih katanya dia make yang 4 GB. Tapi, bagi penulis hal tersebut tidak penting asal udah bisa diintal ulang.
Klimaknya, penulis tinggal nginstal driver netbooknya. Nah di sini nic emosi udah mulai memuncak. Dikarenakan CD driver ikutannya ketinggalan di rumah tepatnya di pulau garam sana. Sementara, penulis ada di Jogja, menyebalkan banget kan? Tentu saja belum. Karena saya masih berpikir bahwa tinggal download aja di situsnya (www.Asus.com) atau situs konco-konco lain yang juga menyediakan. Langsung aja saya pergi ke warnet. Tapi, yang didapati malah hanya tambah membingungkan aja.  Soalnya, walaupun udah tak masukin type Asusnya, yang keluar malah berbagai macam jenis dan model. Baik driver VGA, Wireless, Touchpad, Audio, LAN, BIOS, dan lain-lain. Masing-masing dari driver tersebut menyediakan lebih satu jenis versi.  Padahal yang kita butuhkan dari masing-masing semua itu kan cuma satu versi saja. Namun, ketika saya cocokkan dengan driver awal yang di laptop malah nggak ada yang cocok sama sekali. Tentu saja, saya putus asa.
Akan tetapi, bagi sobat-sobat semua. Nggak usah ikut pusing seperti yang pernah aku alami. Karena, tinggal download aja semua yang tersedia, kemudian dicoba satu     persatu. Atau yang lebih gampang lagi, pilih versi yang paling mendekati dengan driver sebelumnya. Oke, selamat mencoba semua dan jangan cepat putus asa. Karena, dari semua yang kita lakukan mempunyai nilai pelajaran kalau kita bisa terus bersabar dan memahaminya.

Read More >>>

09 October 2012

Teori Disonansi Kognisi

Teori Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance Theory)

Teori disonansi kognitif diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957 (Shaw & Contanzo, 1985) dan berkembang pesat sebagai sebuah pendekatan dalam memahami area umum dalam komunikasi dan pengaruh social (Festinger, 1957). Terdapat beberapa teori dalam menjelaskan konsistensi atau keseimbangan, diantaranya adalah teori ketidakseimbangan Kognitif (cognitive imbalance) oleh Heider (1946), teori Asimetri (asymmetry) oleh Newcomb (1953), dan teori ketidakselarasan (incongruence) oleh Osgood dan Tannembaum (1952). Namun Shaw & Contanzo (1985) mengatakan bahwa teori disonansi kognitif berbeda dalam dua hal penting:
1. Tujuannya untuk memahami hubungan tingkah laku (behavior) dan kognitif (cognitive) secara umum, tidak hanya merupakan sebuah teori dari tingkah laku sosial.
2. Pengaruhnya dalam penelitian psikologi sosial telah menjadi suatu hal yang sangat besar dibandingkan teori konsistensi lainnya.
Teori disonansi kognitif menjadi salah satu penjelasan yang paling luas yang diterima terhadap perubahan tingkah laku dan banyak perilaku social lainnya. Teori ini telah digeneralisir pada lebih dari seribu penelitian dan memiliki kemungkinan menjadi bagian yang terintegrasi dari teori psikologi sosial untuk bertahun-tahun (Cooper & Croyle, 1984, dalam Vaughan & Hogg, 2005).
Pengertian
Festinger (1957) menjelaskan bahwa disonansi kognitif adalah diskrepansi atau kesenjangan yang terjadi antara dua elemen kognitif yang tidak konsisten, menciptakan ketidaknyamanan psikologis. Hal ini didukung oleh Vaughan & Hogg (2005) yang menyatakan bahwa disonansi kognitif adalah suatu kondisi tidak nyaman dari tekanan psikologis ketika seseorang memiliki dua atau lebih kognisi (sejumlah informasi) yang tidak konsisten atau tidak sesuai satu sama lain.
Festinger (1957) menyatakan bahwa kognitif menunjuk pada setiap bentuk pengetahuan, opini, keyakinan, atau perasaan mengenai diri seseorang atau lingkungan seseorang. Elemen-elemen kognitif ini berhubungan dengan hal-hal nyata atau pengalaman sehari-hari di lingkungan dan hal-hal yang terdapat dalam dunia psikologis seseorang. Terdapat dua macam hubungan antar elemen (Festinger, 1957 dalam Shaw & Contanzo,1982), yaitu :
1. Hubungan tidak relevan (irrelevant), yaitu tidak adanya kaitan antara dua elemen kognitif. Misalnya: pengetahuan bahwa merokok buruk bagi kesehatan dengan pengetahuan bahwa di Indonesia tidak pernah turun salju.
2. Hubungan relevan, yaitu hubungan yang terkait sehingga salah satu elemen mempunyai dampak terhadap elemen yang lainnya. Hubungan ini terdiri dari dua macam, yaitu:
a. Disonan, jika dari kedua elemen kognitif, satu elemen diikuti penyangkalan (observe) dari yang elemen lainnya. Contoh: seseorang yang mengetahui bahwa bila terkena hujan akan basah mengalami disonan ketika pada suatu hari ia ternyata mendapati dirinya tidak basah saat ia terkena hujan.
b. Konsonan, terjadi ketika dua elemen bersifat relevan dan tidak disonan, dimana satu kognisi diikuti secara selaras. Contoh: seseorang yang mengetahui bahwa bila terkena hujan akan basah dan memang selalu basah bila terkena hujan. Dua orang individu yang memiliki situasi yang sama memiliki kemungkinan berbeda dalam kondisi disonan.
Aronson (dalam Shaw & Contanzo, 1985) menyatakan bahwa perbedaan individu berperan dalam proses disonansi kognitif. Perbedaan ini terjadi dalam kemampuan subyek dalam mentoleransi disonansi, cara yang dipilih subyek untuk mengurangi kondisi disonan, dan cara subyek memandang suatu masalah sebagai konsonan atau disonan.
Sumber penyebab
Festinger (1957) menyebutkan dua situasi umum yang menyebabkan munculnya disonansi, yaitu ketika terjadi peristiwa atau informasi baru dan ketika sebuah opini atau keputusan harus dibuat, dimana kognisi dari tindakan yang dilakukan berbeda dengan opini atau pengetahuan yang mengarahkan ke tindakan lain. Lebih lanjut Festinger (1957) menyebutkan empat sumber disonansi dari stituasi tersebut, yaitu:
a.       Inkonsistensi logika (logical incosistency), yaitu logika berpikir yang mengingkari logika berpikir yang lain. Misalnya seseorang yang percaya bahwa manusia dapat mencapai bulan dan juga percaya bahwa manusia tidak dapat membuat alat yang dapat membantu keluar dari atmosfir bumi.
b.      Nilai budaya (cultural mores), yaitu bahwa kognisi yang dimiliki seseorang di suatu budaya kemungkinan akan berbeda di budaya lainnya. Misalnya seorang Jawa yang mengetahui bahwa makan dengan menggunakan tangan di daerahnya adalah suatu hal yang wajar, disonan dengan kenyataan bahwa hal tersebut tidak wajar pada etika makan di budaya Inggris.
c.       Opini umum (opinion generality), yaitu disonansi mungkin muncul karena sebuah pendapat yang berbeda dengan yang menjadi pendapat umum. Misalnya seorang anggota partai demokrat yang dianggap publik pasti akan mendukung kandidat dari partai yang sama, ternyata lebih memilih kandidat dari partai Republik yang merupakan lawan dari partainya.
d.      Pengalaman masa lalu (past experience), yaitu disonansi akan muncul bila sebuah kognisi tidak konsisten dengan pengalaman masa lalunya. Misalnya seseorang yang mengetahui bahwa bila terkena hujan akan basah mengalami disonan ketika pada suatu hari ia ternyata mendapati dirinya tidak basah saat ia terkena hujan.
Implikasi Teori
Menurut Festinger, teori disonansi kognitif memiliki implikasi penting dalam banyak situasi spesifik (dalam shaw&Constanzo, 1982). Festinger menjabarkan implikasi dalam keputusan (decisions), Forced Compliance, Pencarian informasi (Exposure to Information), dan dukungan social (social support). Dari situasi tersebut dapat diketahui besarnya kekuatan disonansi.
1.      Keputusan (decisions)
Festinger (1957) menyatakan bahwa disonansi merupakan konsekuensi yang tidak dapat dihindarkan dari keputusan. Hal tersebut didasari oleh kenyataan bahwa seorang individual harus berhadapan dengan sebuah situasi konflik sebelum sebuah keputusan dapat dibuat. Pada umumnya, elemen disonan adalah aspek negatif dari alternative yang dipilih dengan aspek positif dari alternatif yang ditolak. Disonansi akan semakin kuat jika keputusan semakin penting dan jika ketertarikan dari alternatif yang tidak dipilih semakin besar. Contoh dari munculnya disonansi dari keputusan yang diambil adalah perokok berat yang memutuskan untuk tetap merokok mengalami disonan ketika ia mengalami sakit kanker paru-paru akibat merokok ( hal negatif dari alternatif yang dipilih) dengan hal positif yang akan ia dapat bila tidak merokok, yaitu sehat (alternatif yang ditolak).
2.      Forced Compliance
Forced Compliance merupakan suatu permintaan dari luar diri seseorang yang dipaksakan kepada seorang individu. Aplikasi dari teori disonansi pada Forced Compliance terbatas pada permintaan publik (Compliance) tanpa disertai oleh perubahan pendapat pribadi. Sumber disonansi adalah kesadaran seseorang dari tingkah laku yang diharuskan publik yang tidak konsisten dengan pendapat pribadi. Forced Compliance ini mempengaruhi individu (misalnya perokok berat) yang membuat berhasil mengubah (berhenti merokok), merubah perilaku atau ucapan yang terlihat merubah opini dan keyakinan mereka dengan tetap memegang keyakinan sebelumnya (merokok sembunyi-sembunyi), atau justru membuat mereka mencari dukungan sosial yang mendukung pendapatnya (bergabung dengan klub penggemar rokok).
3.      Pencarian informasi (Exposure to Information)
Festinger memberikan hipotesis bahwa pencarian informasi aktif berkorelasi dengan kekuatan disonansi. Disonansi menyebabkan pencarian informasi menjadi selektif, yaitu individu akan lebih mencari informasi yang menyebabkan konsonan dan menghindari informasi yang menyebabkan disonansi.
4.      Dukungan sosial (social support)
Dukungan sosial (social support) berperan dalam mengurangi kondisi disonan (Festinger, 1957). Disonansi kognitif akan dihasilkan oleh seseorang yang mengetahui bahwa orang lain memilki opini yang berlawanan dengan opininya. Dalam hal ini akan dilihat seberapa stigma, yang merupakan keyakinan atau pendapat yang dimiliki oleh masyarakat terhadap mantan napi, konsonan dengan keyakinan atau pendapat mantan napi itu sendiri. LSM Sahabat Andik berupaya memberikan dukungan sosial salah satunya dengan memberikan opini yang positif terhadap mantan napi. Kekuatan disonansi yang dimiliki mantan napi yang bergabung ke dalam LSM Sahabat Andik tergantung dari:
1. Seberapa besar elemen kognitif sosial terhadap mantan napi konsonan dengan opini yang dimiliki mantan napi itu sendiri.
2. Jumlah orang yang dikenal oleh suatu individu yang memiliki opini yang sama dengan dirinya.
3. Pentingnya elemen atau opini tersebut.
4. Relevansi orang atau kelompok dengan opini individu.
5. Ketertarikan mantan napi terhadap orang atau kelompok.
6. Besarnya ketidaksetujuan individu terhadap opini yang ada.
Maka dari hal-hal tersebut diatas dapat dilihat seberapa jauh LSM tersebut mampu memberikan dukungan sosial kepada mantan napi yang bergabung didalamnya untuk mengurangi disonansi kognitif yang dimiliki relawan mantan napi.
Upaya mengatasi
Festinger menunjukkan bahwa kita akan mencari keselarasan dalam tingkah laku dan keyakinan serta mencoba untuk menurunkan tekanan dari inkosistensi dari elemen yang ada Vaughan & Hogg (2005). Ketika terjadi disonansi kognitif, Festinger (1957) menyatakan bahwa terdapat konsekuensi ketika seseorang mengalami disonansi yang di tunjukkan melalui 2 hipotesis dasarnya, yaitu:
a.       Terjadi ketidaknyamanan psikologis yang mendorong seseorang untuk mengurangi disonansi ini dan mencapai kondisi yang konsonan (relevan antar elemen kognitif).
b.      b. Seseorang tidak hanya berusaha untuk menguranginya tetapi juga akan menghindari situasi dan informasi yang dapat meningkatkan disonansi.
Dari dua hipotesis ini, lebih lanjut Festinger menjelaskan mengenai upaya yang mungkin dilakukan oleh individu yaitu dengan:
1.      Pengurangan disonansi, melalui 3 kemungkinan cara:
a.       Mengubah elemen tingkah laku
Misalnya : seseorang yang ingin piknik di luar ruangan tetapi ternyata hujan, memilih untuk mencari kegiatan lain di dalam rumah.
b.      Mengubah elemen kognitif lingkungan
Misalnya : seseorang perokok berat yang mempercayai bahwa merokok tidak mengganggu kesehatan dan mengetahui orang lain berpendapat berbeda, berusaha mempengaruhi orang lain yang berbeda pendapat tersebut untuk mendukung pendapatnya.
Festinger (1957) menyatakan bahwa umumnya orang yang sangat merasa yakin akan opininya akan mencari orang lain yang setuju dan mendukung dengan opininya. Cara tersebut adalah cara yang paling banyak dilakukan untuk mengurangi tekanan untuk merubah kognisi yang dimiliki seseorang, dengan kata lain disinilah dukungan sosial dibutuhkan.
c.       Menambah elemen kognitif baru
Misalnya : seorang perokok berat diatas, meyakinkan dirinya sendiri bahwa merokok masih lebih baik daripada mengkonsumsi alkohol atau narkoba yang jauh lebih merusak kesehatan.
2.      Penghindaran disonansi
Misalnya : seorang perokok berat berusaha tidak mendengarkan atau mengacuhkan orang lain dan hal-hal lain (misalnya iklan) yang menginformasikan tentang bahaya rokok bagi kesehatan.
Festinger (1957) menyatakan bila seseorang mengetahui bahwa orang lain memilki opini yang berlawanan dengan opininya, maka individu tersebut akan berupaya mengurangi disonansi dengan merubah opini yang dimilikinya, dengan mempengaruhi mereka yang tidak setuju dengan opininya, atau membuat mereka yang tidak setuju untuk tidak membandingkan dengan dirinya.

Read More >>>

01 July 2012

Metodologi Penelitian Komunikasi

METODELOGI PENELITIAN KOMUNIKASI 
(Analisis Isi, Wacana , Semiotika, Framing, Kebijakan Redaksional, Dan Analisis Korelasional)

Analisis Isi
Analisis isi (Content Analysis) adalah tekhnik penelitian untuk membuat inferensi – inferensi yang dapat ditiru (replicable), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Logika dasar dalam komunikasi, bahwa setiap komunikasi selalu berisi pesan dalam sinyal komunikasinya itu, baik berupa verbal maupun nonverbal. Sejauh ini, makna komuniaksi menjadi amat dominan dalam setiap peristiwa komunikasi.
Sebenarnya analisis isi komunikasi amat tua umurnya, setua umur manusia. Namun, panggunaan teknik ini diintoduksikan di bawah nama analisis isi (content analysis) dalam metode penelitian tidak setua umur penggunaan istilah tersebut. Tuanya umur penggunaan analisis isi dalam praktik kehiudupan menusia terjadi karena sejak ada manusia di dunia, manusia saling menganalisis makna komunikasi yang dilakukan antara satu dengan lainnya. Gagasan untuk menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian justru muncul dari orang seperti Bernard Berelson (1959). Ia telah menaruh banyak perhatian pada analisis isi.
Berelson mendefinisikan analisis isi dengan: content anlysis is a research technique for the objective, systematic, and quantitative description of the manifest content of communication. Tekanan Berelson adalah menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian yang objektif, sistematis, dan deskripsi kuantitatif dari apa yang tampak dalam komunikasi. Kendatipun banyak kritik yang dapat kita sampaikan pada definisi Berlson sehubungan perkembangan analisis isi sampai hari ini, namun catatan mengenai objektif dan sistematik dalam menganalisis isi komunikasi yang tampak dalam komunikasi, menjadi amat penting utnuk dibicarakan saat ini.
Analisis isi dapat di pergunakan pada teknik kuantitatif maupun kualitatif, tergantung pada sisi mana peneliti memanfaatkannya. Dalam penelitian kualitatif, Analisis Isi ditekankan pada bagaimana peneliti melihat keajekan isi komunikasi secara kualitatif, pada bagaimana peneliti memaknakan isi komunikasi, membaca simbol-simbol, memaknakan isi interaksi simbolis yang terjadi dalam komunikasi.
Karya-karya besar dalam penelitian kualitatif tentang penggunaan analisis isi seperti yang dilakukan oleh Max Weber dalam bukunya The proestant ethic dan the spirit of capitalism. Dalam karya ini Max Weber berusaha menentukan apa yang di maknakan dengan “Spirit of capitalism” terutapa dari apa yang di tulis oleh Benyamin Franklik. Namun, Weber lebih banyak bertitik tolak dari kasus-kasus konkret yang bertujuan untuk menciptakan tipe-tipe ideal (ideal types) dari sekadar menghasilkan suatu deskripsi objektif dan sistematis dari tulisan Franklin. Jadi, dalam menyifatkan “Protestan ethic dan spirit of capitalism”, maka Weber mengkaji isi tulisan Franklin secara ideal. Hal ini dilakukan dengan sengaja karena Weber tidak percaya bahwa realitas historis adalah seperti yang dideskripsikan dalam tipe-tipe ideal yang diciptakan, seperti ascetism, rational organization of labour, dan lainnya.
Selain itu penggunaan analisis isi tidak berbeda dengan penelitian kualitatif lainnya. Hanya saja, karena teknik ini dapat digunakan pada pendekatan yang berbeda (baik kuantitatif maupun kualitatif), maka penggunaan analisis isi tergantung pada kedua pendekatan itu. Penggunaan analisis isi untuk penelitian kualitatif tidak jauh berbeda dengan pendekatan lainnya. Awal mula harus ada fenomena komunikasi yang dapat diamati, dalam arti bahwa peneliti harus lebih dulu dapat merumuskan dengan tepat apa yang ingin diteliti dan semua tindkan harus didasarkan pada tujuan tersebut.
Langkah berikutnya adalah memilih unit analisis yang akan di uji, memilih objek penelitian yang menjadi sasaran analisis. Kalau objek penelitan berhubungan dengan data-data verbal (hal ini umumnya ditemukan dalam analisis isi), maka perlu disebutkan tempat, tanggal, dan alat komunikasi yang bersangkutan. Namun, kalau objek penelitian berhubungan dengan pesan-pesan dalam suatu media, perlu di lakukan identifikasi terhadap pesan dan media yang mengantarkan pesan itu.
Penggunaan analisis isi dapat dilakukan sebagaimana pual W.Missing melakukan studi tentang “The Voice of America”. Analisis isi didahului dengan melakukan coding terhadap istilah-istilah atau penggunaan kata dan kalimat yang relevan, yang paling banyak muncul dalam media komunikasi. Dalam hal pemberian coding, perlu juga di catat konteks mana istilah itu muncul. Kemudian, dilakukan klasifikasi terhadap coding yang telah dilakukan. Klasifikasi dilakukan dengan melihat sejauh mana satauan makna berbungan dengan tujuan penelitian. Klasifikasi ini dimaksudkan untuk membangun kategori dari setiap klasifikasi. Kemudian, satuan makna dan kategori dianalisis dan di cari hubungan satu dengan lainnya untuk menemukan makna, arti, dan tujuan isi komunikasi itu. Hasil analisis ini kemudian dideskripsikan dalam bentuk draf laporan penelitian sebagaimana umumnya laporan penelitian.
Beberapa Bentuk Klasifikasi
Ada beberapa bentuk klasifikasi dalam analisis isi. Janis menjelaskan klasifikasi sebagai berikut:
  1. Analisis isi pragmatis, dimana klasifikasi dilakukan terhadap tanda menurut sebab akibatnya yang mungkin. Misalnya, berapa kali suatu kata diucapkan yang dapat mengakibatkan munculnya sikap suka terhadap produk sikat gigi A.
  2. Analisis isi semantik, di lakukan untuk mengklasifikasikan: tanda menurut maknanya. Analisis ini terdiri dari tiga jenis sebagai berikut:
  1. Analisis penunjukan (designation), menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu (orang, benda, kelompok, atau konsep) dirujuk.
  2. Analisis penyifatan (attributions), menggambarkan frekuensi seberapa sering karakterisasi dirujuk (misalnya referensi kepada ketidakjujuran, kenakalan, penipuan, dan sebagainya).
  3. Analisis pernyataan (assertions), menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu dikarakteristikkan secara khusus. Analisis ini secara kasar di sebut analisis tematik. Contohnya, referensi terhadap perilaku nyontek di kalangan mahasiswa sebagai maling, pembohong dan sebagainya
  1. Analisis sarana tanda (sign-vechile), dilakukan untuk mengklasifikasi isi pesan melalui sifat psikofisik dari tanda, misalnya berapa kali kata cantik muncul, kata seks muncul.
Dalam penelitian kualitatif, penggunaan analisis isi lebih banyak ditekankan pada bagaimana simbol-simbol yang ada pada komunikasi itu terbaca dalam interaksi sosial, dan bagimana simbol-simbol itu terbaca dan dianalisis oleh peneliti. Dan sebagaimana penelitian kualitatif lainnya, kredebilitas peneliti menjadi amat penting. Analisis isi memerlukan peneliti yang mampu menggunakan ketajaman analisisnya untuk merajut fenomena isi komunikasi menjadi fenomena sosial yang terbaca oleh orang pada umumnya.
Dapat dipahami bahwa makna simbol dan interaksi amat majemuk sehingga penafsiran ganda terhadap objek simbol tunggal umumnya menjadi fenomena umum dalam penelitian sosial. Oleh karena itu , analisis isi menjadi tantangan sangat besar bagi peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, pemahaman dasar terhadap kultur dimana komunikasi itu terjadi amat penting. Kultur ini menjadi muara yang luas terhadap berbagai macam bentuk komunikasi di masyarakat.
Pada penelitian kualitatif, terutama dalam strategi verifikasi kualiatif, teknik analisis data ini diangap sebagai teknik analisis data yang sering digunakan. Namun selain itu pula, teknik analisis ini dipandang sebagai teknik analisis data yang paling umum. Artinya, teknik ini adalah yang paling abstrak untuk menganalisis data-data kualitatif. Content analysis berangkat dari anggapan dasar dari ilmu-ilmu sosial bahwa studi tentang proses dan isi komunikasi adalah dasar dari studi-studi ilmu sosial. Deskripsi yang diberikan para ahli sejak janis (1949), Berelson (1952) sampai Lindzey dan Aronso (1968) tentang Content Anlysis, selalu menampilkan tiga syarat, yaitu: objektivitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi.
Analisis isi sering digunakan dalam analisis-analisis verifikasi. Cara kerja atau logika analisis data ini sesungguhnya sama dengan kebanyakan analisis data kuantitatif. Peneliti memulai analisisnya dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasikan data tersebut dengan kriteria-kriteria tertentu serta melakukan prediksi dengan teknik analisis yang tertentu pula. Secara lebih jelas, alur analisis dengan menggunakan Teknik Content Analysis.
Analisis Wacana
Analisis wacana adalah analisis isi yang lebih bersifat kualitatif dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif yang selama ini banyak digunakan oleh para peneliti. Jika pada analisis kuantitatif, pertanyaan lebih ditekankan untuk menjawab “apa” (what) dari pesan atau teks komunikasi, pada analisis wacana lebih difokuskan untuk melihat pada “bagaimana” (how), yaitu bagaimana isi teks berita dan juga bagaimana pesan itu disampaikan.
Analisis wacana merupakan suatu kajian yang digunakan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Penggunaan bahasa secara alamiah ini berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi sehari-hari. Stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankan kajian penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antar penutur. Senada dengan itu, cocok dalam hal ini menyatakan bahwa analisis wacana itu merupakan kajian yang membahas tentang wacana, sedangkan wacana itu adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Menurut Stubbs (Arifin,2000:8).
Analisis wacana dalam Sobur ( 2006:48) adalah studi tentang struktur pesan pada dalam komunikasi. Lebih tepatnya lagi, telaah mengenai aneka fungsi (prakmatik) bahasa. Kajian tentang pembahasaan realitas dalam sebuah pesan tidak hanya apa yang tampak dalam teks atau tuklisan, situasi dan kondisi (konteks) seperti apa bahasa tersebut diujarkan akan membedakan makna subyektif atau makna dalam perspektif mereka.
Crigler (1996) dalam Sobur (2006 : 72) mengemukakan bahwa analisis wacana termasuk dalam pendekatan konstruktionis. Ada dua karakteristik penting dari pendekatan konstruksionis yaitu :
  1. Pendekatan konstruksionis menekankan pada politik pemaknaan dan proses bagaimana seseorang membuat gambaran tentang realitas politik.
  2. Pendekatan konstruksionis memandang kegiatan komunikasi sebagai suatu proses yang terus menerus dan dinamis. Dari sisi sumber (komunikator), pendekatan konstruksionis memeriksa pembentukan bagaimana pesan ditampilkan, dan dari sisi penerima ia memeriksa bagaimana konstruksi individu ketika menerima pesan.
Kembali pada anilsa wacana yang sesungguhnya berusaha memahami bagaimana realitas dibingkai, direproduksi dan didistribusikan ke khalayak. Analisis ini bekerja menggali praktek-praktek bahasa di balik teks untuk menemukan posisi ideologis dari narasi dan menghubungkannya dengan struktur yang lebih luas. Dengan demikian analisis wacana merupakan salah satu model analisa kritis yang memperkaya pandangan khalayak bahwa ada keterkaitan antara produk media, ekonomi dan politik. Keterkaitan ini dapat dimunculkan pada saat analisis wacana bergerak menuju pertanyaan bagaimana bahasa bekerja dalam sebuah konteks dan mengapa bahasa digunakan dalam sebuah konteks dan bukan untuk konteks yang lain.
Pada dasarnya ada beberapa perbedaan mendasar antara analisis wacana dengan analisis isi yang bersifat kuantitatif adalah sebagai berikut. Analisis wacana lebih bersifat kualitatif daripada yang umum dilakukan dalam analisis isi kuantitatif karena analisis wacana lebih menekankan pada pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori, seperti dalam analisis isi. Analisis isi kuantitatif digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang bersifat manifest (nyata), sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada pesan yang bersifat latent (tersembunyi).
Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan “apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia dikatakan (how). Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi, sedangkan analisis isi kuantitatif memang diarahkan untuk membuat generalisasi.
Analisis Semiotik (Semiotic Analysis)
Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya. Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik, yaitu semiotik binatang, semiotik tanda-tanda bauan, komunikasi rabaan, kode-kode cecapan, paralinguistik, semiotik medis, kinesik dan proksemik, kode-kode musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa alam, komunikasi visual, sistem objek, dan sebagainya Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas, misalnya saja bisa mengambil objek penelitian, seperti pemberitaan di media massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan sastra sampai kepada musik.
Berkenaan dengan hal tersebut, analisis semiotik merupakan upaya untuk mempelajari linguistik-bahasa dan lebih luas dari hal tersebut adalah semua perilaku manusia yang membawa makna atau fungsi sebagai tanda. Bahasa merupakan bagian linguistik, dan linguistik merupakan bagian dari obyek yang dikaji dalam semiologi. Selain bahasa yang merupakan representasi terhadap obyek tertentu, pemikiran tertentu atau makna tertentu, obyek semiotika juga mempelajari pada masalah-masalah non linguistik.
Salah seorang sarjana yang secara konservatif menjabarkan teori De de Saussure ialah RolandBarthes (1915 – 1980). Ia menerapkan model Ferdinand De Saussure dalam penelitiannya tentang karya -karya sastra dan gejala-gejala kebudayaan, seperti mode pakaian. Bagi Barthes komponen – komponen tanda penanda – petanda terdapat juga pada tanda -tanda bukan bahasa antara lainterdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan si stem citra dan kepercayaan yang dibentukmasyarakat untuk memp-ertahankan dan menonjolkan identitasnya (de Saussure,1988).
Selanjutnya Barthes (1957 dalam de Saussure) menggunakan teori signifiant - signifie yang dikembangkan menjadi teori tentang metabaha sa dan konotasi. Istilah signifiant menjadi ekspresi (E) dan signifie menjadi isi (C). Namun Barthes mengatakan bahwa antara E dan C harus ada relasi (R) ter-tentu, sehingga membentuk tanda ( sign, Sn). Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda.
Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama. Pengem-bangan ini disebut sebagai gejala meta -bahasa dan membentuk apa yang disebut kesinoniman (synonymy). Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi dan oleh Barthes disebut sistem primer. Kemudian pengembangan -nya disebut sistem sekunder. Sistem sekunder ke arah ekspresi dise but metabahasa. Sistem sekunder ke arah isi disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi. Konsep konotasi ini tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga oleh paham pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya.
Macam-macam Semiotik
Hingga saat ini, sekurang-kurangnya terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang (Pateda, dalam Sobur, 2004). Jenis -jenis semiotik ini antara lain semiotik analitik, diskriptif, faunal zoosemiotic, kultural, naratif, natural, normatif, sosial, struktural.
  1. Semiotik analitik merupakan semiotik yang menganalisis sistem tanda. Peirce mengatakan bahwa semiotik berobjekkan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, obyek dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada obyek tertentu.
  2. Semiotik deskriptif adalah semiotik yang memperhatikan sistem tanda yang dapat kita alami sekarang meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang.
  3. Semiotik faunal zoosemiotic merupakan semiotik yang khusus memper hatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Semiotik kultural merupakan semiotik yang khusus menelaah system tanda yang ada dalam kebudayaan masyarakat.
  4. Semiotik naratif adalah semiotik yang membahas sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan c erita lisan (folklore).
  5. Semiotik natural atau semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Semiotik normative merupakan semiotik yang khusus membahas sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma.
  6. Semiotik sosial merupakan semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang kata maupun lambing rangkaian kata berupa kalimat. Semiotik struktural adalah semiotik yang khusus menelaah system tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.
Analisis Framing
Analisa Framing adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui bagaimana realitas (aktor, kelompok, atau apa saja) dikonstruksi oleh media (Eriyanto, 2005, p.3). Analisa framing memiliki dua konsep yakni konsep pskiologis dan sosiologis. Konsep psikologis lebih menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi pada dirinya sedangkan konsep sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas.  Analisis Framing sendiri juga merupakan bagian dari analisis isi yang melakukan penilaian tentang wacana persaingan antar kelompok yang muncul atau tampak di media.
Analisis Framing juga dikenal sebagai konsep bingkai, yaitu gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua turunannya, yaitu simbol berupa framing device dan reasoning device. Framing device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang menunjukkan “julukan” pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada analisis sebab-akibat. Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora, perumpamaan atau pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan. Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam. Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah gambar-gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen penalaran, Roots memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles merupakan premis atau klaim moral, dan Consequences merupakan kesimpulan logika penalaran.
Teknik Framing Dan Konsep Model Zhondhang Pan Dan Gerald M Kosicki
Menurut Etnman, framing berita dapat dilakukan dengan empat teknik, yakni pertama, problem identifications yaitu peristiwa dilihat sebagai apa dan nilai positif atau negatif apa, causal interpretations yaitu identifikasi penyebab masalah siapa yang dianggap penyebab masalah, treatmen rekomnedations yaitu menawarkan suatu cara penanggulangan masalah dan kadang memprediksikan penanggulannya, moral evaluations yaitu evaluasi moral penilaian atas penyebab masalah.
Ada dua konsep framing yang saling berkaitan, yaitu konsep psikologis dan konsep sosiologis yaitu :
  1. Dalam konsep psikologis, framing dilihat sebagai penempatan informasi dalam suatu konteks khusus dan menempatkan elemen tertentu dari suatu isu dengan penempatan lebih menonjol dalam kognisi seseorang. Elemen-elemen yang diseleksi itu menjadi lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan seseorang saat membuat keputusan tentang realitas.
  2. Sedangkan konsep sosiologis framing dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya Dalam Zhondhang Pan Dan Gerald M Kosicki, kedua konsep tersebut diintegrasikan.
Secara umkum konsepsi psikologis melihat frame sebagai persoalan internal pikiran seseorang, dan konsepsi sosiologis melihat frame dari sisi lingkungan sosial yang dikontruksi seseorang.  Dalam model ini, perangkat framing yang digunakan dibagi dalam empat struktur besar, yaitu sintaksis (penyusunan peristiwa dalam bentuk susunan umum berita), struktur skrip (bagaimana wartawan menceritakan peristiwa ke dalam berita), struktur tematik (bagaimana wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat, atau antar hubungan hubungan kalimat yang memberntuk teks secara keseluruhan), dan struktur retoris (bagaimana menekankan arti tententu dalam berita)
Analisa Kebijakan Redaktur
Kebijakan sendiri merujuk pada tiga hal yakni sudut pandang (point of view); rangkaian tindakan (series of actions) dan peraturan (regulations). Ketiga hal tersebut menjadi pedoman bagi para pengambil keputusan untuk menjalankan sebuah kebijakan. Dan seorang Redaktur merupakan suatu pimpinan sekaligus penanggung jawab dalam suatu media. Oleh karenanya Analisa Kebijakan Redaktur merupakan suatu proses analisa mengenai kebijakan redaktur dalam proses penerbitan suatu media.
Dalam proses analisa kebijakan, terdapat dua pendekatan yaitu:
  1. Analisis proses kebijakan (analysis of policy process), dimana dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas proses perumusan, penentuan agenda, pengambilan keputusan, adopsi, implementasi dan evaluasi dalam proses kebijakan. Jika dilihat dari item analisisnya, pendekatan ini lebih melihat kandungan (content) sebuah proses kebijakan.
  2. Analisis dalam dan untuk proses kebijakan (analysis in and for policy process), dimana dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas teknik analisis, riset, advokasi dalam sebuah proses kebijakan. Nampaknya, pendekatan ini cenderung melihat prosedur proses kebijakan. Hasil analisis kebijakan adalah informasi yang relevan bagi pihak-pihak yang akan melaksanakan kebijakan. Analisis bisa dilakukan pada semua tahap proses kebijakan Analisis pada tahap selanjutnya mencakup interpretasi dan sosialisasi kebijakan, merencanakan serta menyusun kegiatan implementasi kebijakan. Hasil analisis pada tahap ini adalah aksi kebijakan (policy action).
  3. Analisis berikutnya adalah evaluasi implementasi kebijakan dengan memperhatikan tingkat kinerja dan dampak sebuah implementasi kebijakan. Hasil analisisnya berupa informasi kinerja yang akan menjadi dasar tindakan apakah kebijakan tersebut akan diteruskan atau sebaliknya.
Tipe Analisis Kebijakan
Tipe analisis kebijakan dikategorikan menjadi dua tipe yaitu:
  1. Tipe analisis akademis. Tipe analisis ini berfokus pada hubungan antara faktor determinan utama dengan isi kebijakan dan berusaha untuk menjelaskan hakikat, karakteristik dan profil kebijakan dan bersifat komparatif baik dari segi waktu maupun segi subtansi.
  2. Tipe analisis terapan. Tipe analisis ini lebih memfokuskan diri pada hubungan isi kebijakan dengan dampak kebijakan serta lebih berorientasi pada evaluasi kebijakan dan bertujuan untuk menemukan alternatif lebih baik dan bisa menggantikan kebijakan yang sedang dianalisis.
Elemen dalam Kebijakan yang Menjadi target analisis
Terdapat tiga elemen dalam kebijakan yang menjadi target analisis, yakni:
  1. faktor determinan utama;
  2. isi kebijakan; dan
  3. dampak kebijakan baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan.
Analisa Korelasional
Analisa Korelasional adalah analisa yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Analisa korelasional/hubungan/assosiasi dapat dikatakan merupakan pengembangan dari analisa deskriptif (untuk selanjutnya baca : deskriptif-kuantitatif), kalau dalam penelitia deskriptif kita mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, menyusunya dengan sistematis, kita analisa dengan cermat dan yang dideskripsikan dalam analisis penelitian adalah variabel-variabel penelitian, situasi dan kondisi yang melingkupinya. Penelitian korelasional bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar gejala (variabel), hubungan tersebut positif atau negatif dan seberapa erat hubungan antar gejala tersebut.
Misalnya pengusaha ingin mengetahui hubungan antara muatan informasi (kecukupan/kekurangan informasi) dan kebutuhan akan informasi, Divisi Humas ingin mengetahui hubungan antara kualitas media (daya tarik untuk dibaca, sesuai dengan kebutuhan, terpercaya, mudah dipahami, lengkap dan jelas dsb) dan motif pengunaan media, dosen ingin mengetahui hubungan antara pemberian tugas dengan prestasi mahasiswa dsb.
Terdapat beberapa perbedaan yang membedakan Analisa Korelasional dan Analisa Deskriptif yaitu bahwa dalam analisa deskriptif tidak membahas tentang hubungan antar variabel, sedangkan kalau kita lihat dari jenis datanya sama, yang membedakan adalah sifat-sifat analisanya, analisa deskripsi mendeskripsikan variabel dan karakteristik responden, sedangkan analisa korelasional meneliti bagaimana untuk memperoleh kejelasan ada tidaknya hubungan antar variabel dan karakteristik responden seperti apa dalam konteks penelitian tersebut. Statistik deskripsi tidak berupaya adanya generalisasi data sampel terhadap populasi, sedangkan analisis korelasional selain mendesripsikan data sampel, peneli ingin memperoleh kesimpulan apakah korelasi (yang sebenarnya data sampel) tersebut juga berlaku pada populasi (dengan uji signifikansi).
Perbedaan tersebut dapat terlihat dari analisa deskriptif kita mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, menyusunya dengan sistematis, kita analisa dengan cermat dan yang dideskripsikan dalam analisis penelitian adalah variabel-variabel penelitian, situasi dan kondisi yang melingkupinya. Analisa korelasional bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar gejala (variabel), hubungan tersebut positif atau negatif dan seberapa erat hubungan antar gejala tersebut.  Misalnya pengusaha ingin mengetahui hubungan antara muatan informasi (kecukupan/kekurangan informasi) dan kebutuhan akan informasi, Divisi Humas ingin mengetahui hubungan antara kualitas media (daya tarik untuk dibaca, sesuai dengan kebutuhan, terpercaya, mudah dipahami, lengkap dan jelas dsb) dan motif pengunaan media, dosen ingin mengetahui hubungan antara pemberian tugas dengan prestasi mahasiswa dsb.
Statistik deskripsi tidak berupaya adanya generalisasi data sampel terhadap populasi, sedangkan analisis korelasional selain mendesripsikan data sampel, peneli ingin memperoleh kesimpulan apakah korelasi (yang sebenarnya data sampel) tersebut juga berlaku pada populasi (dengan uji signifikansi). Penelitian korelasi (secara statistik) menunjukkan adanya ko-variasi (sebaran data yang sama) antar variabel, apakah variasi-variasi pada satu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor yang lain, yang mana hubungan tersebut kemungkinan merupakan :
1. “ ko-variasi antar variabel dari penyebab (dependen) yang sama”
2. “ko-variasi antar variabel akibat (independent)” , atau
3. atau mungkin korelasi tersebut sifatnya “hanya kebetulan saja”.  Untuk memperoleh informasi yang akurat tentang dugaan hubungan antar variabel tersebut dapat perpedoman pada teori (konsep dan proposisi), model, atau melakukan penelitian secara intensif dan mendalam.
Penelitian asosiasi atau korelasi sering dikaburkan dengan penelitian/analisis causal (sebab-akibat), korelasi yang kuat dianggap adanya hubungan sebab-akibat. Hubungan kausal dapat diinterpretasikan pasti “ada hubungan” yang sifatnya kausalitas, tetapi kalau “ada hubungan” belum tentu adanya kausalitas. Kita sering terjebak dengan proses berfikir yang nampaknya logis atau cara berfikir linier, hal inilah yang perlu dicermati, khususnya dalam perumusan masalah. Jika ada kesalahan dalam membuat perumusan masalah, alih-alih pertanyaan yang salah tentang obyek yang kita teliti tidak akan menghasilkan jawaban yang benar.
Sebagai Contoh, pernyataan :
  1. Pengaruh “kemampuan membaca” terhadap “lamanya belajar Mahasiswa”
  2. Hubungan antara “kemampuan membaca”dengan “lamanya belajar Mahasiswa”
  3. Pengaruh “kemampuan membaca” dan “lamanya belajar Mahasiswa” terhadap “Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Metode Penelitian Komunikasi”.
Adanya hubungan antara “kemampuan membaca” dan “lamanya belajar” jangan diinterpretasikan bahwa “lamanya belajar” disebabkan oleh “kemampuan membaca”. Atau “Lamanya Belajar” diakibatkan oleh “ Kemampuan membaca”. Mahasiswa yang “lama belajar” belum tentu atau bukan karena “kemampuan membacanya yang kurang”, tetapi (diduga) karena akan mengikuti UTS, karena ingin bisa, lagi tertarik dsb. Bandingkan dengan; Pengaruh “kemampuan membaca” dan “ lamanya belajar” terhadap “Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Metode Penelitian Komunikasi”.
Jika kita perhatikan dengan seksama, dari ketiga pernyataan tersebut yang secara logika mana yang lebih dapat diterima dan benar. Dengan demikian tipe hubungan antar variabel dalam penelitian korelasional adalah hubungan simetri, adalah jenis hubungan antar variabel yang mana suatu variabel yang satu tidak disebabkan oleh variabel yang lain atau tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain.
Hal ini dapat terjadi apabila :
  1. Kedua variabel tersebut merupakan dimensi/indikator untuk konsep yang sama, misalnya : Hubungan antara frekuensi penggunaan media, durasi (lama), pilihan jenis media dan jenis isi sebagai indikator dari pola penggunaan media dsb.
  2. Sebagai akibat dari faktor yang sama, Misalnya; Penguasaan materi, lulus mata kuliah, IP bagus sebagai akibat yang sama karena rajin membaca/belajar dsb.
  3. Berkaitan secara fungsional, apabila keberadaan sesuatu hal diikuti oleh keberadaan yang lainnya atau sebaliknya. Misalnya : ada mahasiswa ada dosen, ada asap – ada api, ada pekerja – ada majikan, ada pimpinan – ada bawahan, dsb.
  4. Hubungan yang sifatnya kebetulan saja. Misalnya; hubungan mimpi buruk dengan kehilangan HP, hubungan berkokok-nya ayam dengan terbitnya matahari, dsb.
Analisis Data dalam Analisa Korelasional
Dalam melakukan analisis data yang perlu diperhatikan adalah :
  1. Masalah dan Tujuan penelitian;
  2. Hubungan antar variabel (hipotesis penelitian) yang dalam analisa statistik sebagai hipotesis statistik (Ho dan H1);
  3. Jenis informasi dan jenis data; apakah data yang kita peroleh sebagai data nominal, ordinal, interval atau rasio;
  4. Kesesuaian antara jenis data dengan jenis analisa statistik yang digunakan;
  5. Taraf signifikansi (α) atau tingkat kepercayaan (1- α);
  6. Berbagai variasi analisis data berdasarkan kebutuhan dsb. Alat analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan dua atau lebih variabel. Korelasi antar dua variabel disebut korelasi sederhana, dan korelasi lebih dari dua variabel disebut korelasi berganda (multiple Correlation). Sehingga alat anlisa ada rumus untuk menghitung korelasi sederhana dan berganda.
Berbagai variasi alat analisa korelasi tergantung dari hubungan antar variabel dan jenis data, apakah nominal, ordinal atau interval dan tujuan penelitian kita.
Daftar Pustaka:
Al Rasyid, Harun, 2000, Hand out Statistik Sosial, PPS UNPAD, Bandung.
Alex Sobur, Analis is Teks Media…..hal 172
Bungin, Burhan, 2008, Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm. 155 – 156.
Bungin, Burhan, 2008, Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm. 156 – 159.
Dajan, Anto, 1996, Pengantar Statistik Jilid I, LP3ES, Jakarta.
Dajan, Anto,1996, Pengantar Statistik Jilid II, LP3ES, Jakarta .
Kriyantono, Rachmat, 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm.247-251
Rakhmat ,Jalaludin, 1999, Metode Penelitian Komunikasi, Rosdakarya, Bandung .
Sudradjat M,2002, Metode Penarikan Sampel dan Penyusunan Skala, UNPAD Bandung.
Wimmer D. Roger, 1987, Mass Media Research, Wadsworth Publisher Company, Belmont, California .
Online :
Perpustakan online Uniersitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Perpustakan online Universitas  Kristen Petra

Read More >>>