METODELOGI
PENELITIAN KOMUNIKASI
(Analisis Isi, Wacana , Semiotika, Framing, Kebijakan Redaksional, Dan Analisis Korelasional)
Analisis Isi
Analisis isi (Content Analysis) adalah tekhnik
penelitian untuk membuat inferensi – inferensi yang dapat ditiru (replicable),
dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan
komunikasi atau isi komunikasi. Logika dasar dalam komunikasi, bahwa setiap
komunikasi selalu berisi pesan dalam sinyal komunikasinya itu, baik berupa
verbal maupun nonverbal. Sejauh ini, makna komuniaksi menjadi amat dominan
dalam setiap peristiwa komunikasi.
Sebenarnya analisis isi komunikasi amat tua umurnya,
setua umur manusia. Namun, panggunaan teknik ini diintoduksikan di bawah nama
analisis isi (content analysis) dalam metode penelitian tidak setua umur
penggunaan istilah tersebut. Tuanya umur penggunaan analisis isi dalam praktik
kehiudupan menusia terjadi karena sejak ada manusia di dunia, manusia saling
menganalisis makna komunikasi yang dilakukan antara satu dengan lainnya.
Gagasan untuk menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian justru muncul
dari orang seperti Bernard Berelson (1959). Ia telah menaruh banyak perhatian
pada analisis isi.
Berelson mendefinisikan analisis isi dengan: content
anlysis is a research technique for the objective, systematic, and quantitative
description of the manifest content of communication. Tekanan Berelson adalah
menjadikan analisis isi sebagai teknik penelitian yang objektif, sistematis, dan
deskripsi kuantitatif dari apa yang tampak dalam komunikasi. Kendatipun banyak
kritik yang dapat kita sampaikan pada definisi Berlson sehubungan perkembangan
analisis isi sampai hari ini, namun catatan mengenai objektif dan sistematik
dalam menganalisis isi komunikasi yang tampak dalam komunikasi, menjadi amat
penting utnuk dibicarakan saat ini.
Analisis isi dapat di pergunakan pada teknik
kuantitatif maupun kualitatif, tergantung pada sisi mana peneliti
memanfaatkannya. Dalam penelitian kualitatif, Analisis Isi ditekankan pada
bagaimana peneliti melihat keajekan isi komunikasi secara kualitatif, pada
bagaimana peneliti memaknakan isi komunikasi, membaca simbol-simbol, memaknakan
isi interaksi simbolis yang terjadi dalam komunikasi.
Karya-karya besar dalam penelitian kualitatif tentang
penggunaan analisis isi seperti yang dilakukan oleh Max Weber dalam bukunya The
proestant ethic dan the spirit of capitalism. Dalam karya ini Max Weber
berusaha menentukan apa yang di maknakan dengan “Spirit of capitalism” terutapa
dari apa yang di tulis oleh Benyamin Franklik. Namun, Weber lebih banyak
bertitik tolak dari kasus-kasus konkret yang bertujuan untuk menciptakan
tipe-tipe ideal (ideal types) dari sekadar menghasilkan suatu deskripsi
objektif dan sistematis dari tulisan Franklin. Jadi, dalam menyifatkan
“Protestan ethic dan spirit of capitalism”, maka Weber mengkaji isi tulisan
Franklin secara ideal. Hal ini dilakukan dengan sengaja karena Weber tidak
percaya bahwa realitas historis adalah seperti yang dideskripsikan dalam
tipe-tipe ideal yang diciptakan, seperti ascetism, rational organization of
labour, dan lainnya.
Selain itu penggunaan analisis isi tidak berbeda
dengan penelitian kualitatif lainnya. Hanya saja, karena teknik ini dapat
digunakan pada pendekatan yang berbeda (baik kuantitatif maupun kualitatif),
maka penggunaan analisis isi tergantung pada kedua pendekatan itu. Penggunaan
analisis isi untuk penelitian kualitatif tidak jauh berbeda dengan pendekatan
lainnya. Awal mula harus ada fenomena komunikasi yang dapat diamati, dalam arti
bahwa peneliti harus lebih dulu dapat merumuskan dengan tepat apa yang ingin
diteliti dan semua tindkan harus didasarkan pada tujuan tersebut.
Langkah berikutnya adalah memilih unit analisis yang
akan di uji, memilih objek penelitian yang menjadi sasaran analisis. Kalau
objek penelitan berhubungan dengan data-data verbal (hal ini umumnya ditemukan
dalam analisis isi), maka perlu disebutkan tempat, tanggal, dan alat komunikasi
yang bersangkutan. Namun, kalau objek penelitian berhubungan dengan pesan-pesan
dalam suatu media, perlu di lakukan identifikasi terhadap pesan dan media yang
mengantarkan pesan itu.
Penggunaan analisis isi dapat dilakukan sebagaimana
pual W.Missing melakukan studi tentang “The Voice of America”. Analisis isi
didahului dengan melakukan coding terhadap istilah-istilah atau penggunaan kata
dan kalimat yang relevan, yang paling banyak muncul dalam media komunikasi.
Dalam hal pemberian coding, perlu juga di catat konteks mana istilah itu
muncul. Kemudian, dilakukan klasifikasi terhadap coding yang telah dilakukan.
Klasifikasi dilakukan dengan melihat sejauh mana satauan makna berbungan dengan
tujuan penelitian. Klasifikasi ini dimaksudkan untuk membangun kategori dari
setiap klasifikasi. Kemudian, satuan makna dan kategori dianalisis dan di cari
hubungan satu dengan lainnya untuk menemukan makna, arti, dan tujuan isi
komunikasi itu. Hasil analisis ini kemudian dideskripsikan dalam bentuk draf
laporan penelitian sebagaimana umumnya laporan penelitian.
Beberapa Bentuk Klasifikasi
Ada beberapa bentuk klasifikasi dalam analisis isi.
Janis menjelaskan klasifikasi sebagai berikut:
- Analisis isi pragmatis, dimana klasifikasi dilakukan terhadap tanda
menurut sebab akibatnya yang mungkin. Misalnya, berapa kali suatu kata
diucapkan yang dapat mengakibatkan munculnya sikap suka terhadap produk
sikat gigi A.
- Analisis isi semantik, di lakukan untuk mengklasifikasikan: tanda
menurut maknanya. Analisis ini terdiri dari tiga jenis sebagai berikut:
- Analisis penunjukan (designation), menggambarkan frekuensi seberapa
sering objek tertentu (orang, benda, kelompok, atau konsep) dirujuk.
- Analisis penyifatan (attributions), menggambarkan frekuensi seberapa
sering karakterisasi dirujuk (misalnya referensi kepada ketidakjujuran, kenakalan,
penipuan, dan sebagainya).
- Analisis pernyataan (assertions), menggambarkan frekuensi seberapa
sering objek tertentu dikarakteristikkan secara khusus. Analisis ini
secara kasar di sebut analisis tematik. Contohnya, referensi terhadap
perilaku nyontek di kalangan mahasiswa sebagai maling, pembohong dan
sebagainya
- Analisis sarana tanda (sign-vechile), dilakukan untuk mengklasifikasi
isi pesan melalui sifat psikofisik dari tanda, misalnya berapa kali kata
cantik muncul, kata seks muncul.
Dalam penelitian kualitatif, penggunaan analisis isi
lebih banyak ditekankan pada bagaimana simbol-simbol yang ada pada komunikasi
itu terbaca dalam interaksi sosial, dan bagimana simbol-simbol itu terbaca dan
dianalisis oleh peneliti. Dan sebagaimana penelitian kualitatif lainnya,
kredebilitas peneliti menjadi amat penting. Analisis isi memerlukan peneliti
yang mampu menggunakan ketajaman analisisnya untuk merajut fenomena isi
komunikasi menjadi fenomena sosial yang terbaca oleh orang pada umumnya.
Dapat dipahami bahwa makna simbol dan interaksi amat
majemuk sehingga penafsiran ganda terhadap objek simbol tunggal umumnya menjadi
fenomena umum dalam penelitian sosial. Oleh karena itu , analisis isi menjadi
tantangan sangat besar bagi peneliti itu sendiri. Oleh karena itu, pemahaman
dasar terhadap kultur dimana komunikasi itu terjadi amat penting. Kultur ini
menjadi muara yang luas terhadap berbagai macam bentuk komunikasi di
masyarakat.
Pada penelitian kualitatif, terutama dalam strategi
verifikasi kualiatif, teknik analisis data ini diangap sebagai teknik analisis
data yang sering digunakan. Namun selain itu pula, teknik analisis ini
dipandang sebagai teknik analisis data yang paling umum. Artinya, teknik ini
adalah yang paling abstrak untuk menganalisis data-data kualitatif. Content
analysis berangkat dari anggapan dasar dari ilmu-ilmu sosial bahwa studi
tentang proses dan isi komunikasi adalah dasar dari studi-studi ilmu sosial.
Deskripsi yang diberikan para ahli sejak janis (1949), Berelson (1952) sampai
Lindzey dan Aronso (1968) tentang Content Anlysis, selalu menampilkan tiga
syarat, yaitu: objektivitas, pendekatan sistematis, dan generalisasi.
Analisis isi sering digunakan dalam analisis-analisis
verifikasi. Cara kerja atau logika analisis data ini sesungguhnya sama dengan
kebanyakan analisis data kuantitatif. Peneliti memulai analisisnya dengan
menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasikan data tersebut dengan
kriteria-kriteria tertentu serta melakukan prediksi dengan teknik analisis yang
tertentu pula. Secara lebih jelas, alur analisis dengan menggunakan Teknik
Content Analysis.
Analisis wacana adalah analisis isi yang lebih
bersifat kualitatif dan dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi
dan menutupi kelemahan dari analisis isi kuantitatif yang selama ini banyak
digunakan oleh para peneliti. Jika pada analisis kuantitatif, pertanyaan lebih
ditekankan untuk menjawab “apa” (what) dari pesan atau teks komunikasi, pada
analisis wacana lebih difokuskan untuk melihat pada “bagaimana” (how), yaitu
bagaimana isi teks berita dan juga bagaimana pesan itu disampaikan.
Analisis wacana merupakan suatu kajian yang
digunakan secara ilmiah, baik dalam bentuk tulis maupun lisan. Penggunaan
bahasa secara alamiah ini berarti penggunaan bahasa seperti dalam komunikasi
sehari-hari. Stubbs menjelaskan bahwa analisis wacana menekankan kajian
penggunaan bahasa dalam konteks sosial, khususnya dalam interaksi antar
penutur. Senada dengan itu, cocok dalam hal ini menyatakan bahwa analisis
wacana itu merupakan kajian yang membahas tentang wacana, sedangkan wacana itu
adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Menurut Stubbs (Arifin,2000:8).
Analisis wacana dalam Sobur ( 2006:48) adalah studi
tentang struktur pesan pada dalam komunikasi. Lebih tepatnya lagi, telaah
mengenai aneka fungsi (prakmatik) bahasa. Kajian tentang pembahasaan realitas
dalam sebuah pesan tidak hanya apa yang tampak dalam teks atau tuklisan,
situasi dan kondisi (konteks) seperti apa bahasa tersebut diujarkan akan
membedakan makna subyektif atau makna dalam perspektif mereka.
Crigler (1996) dalam Sobur (2006 : 72) mengemukakan
bahwa analisis wacana termasuk dalam pendekatan konstruktionis. Ada dua
karakteristik penting dari pendekatan konstruksionis yaitu :
- Pendekatan konstruksionis menekankan pada politik pemaknaan dan proses
bagaimana seseorang membuat gambaran tentang realitas politik.
- Pendekatan konstruksionis memandang kegiatan komunikasi sebagai suatu
proses yang terus menerus dan dinamis. Dari sisi sumber (komunikator),
pendekatan konstruksionis memeriksa pembentukan bagaimana pesan
ditampilkan, dan dari sisi penerima ia memeriksa bagaimana konstruksi
individu ketika menerima pesan.
Kembali pada anilsa wacana yang sesungguhnya berusaha
memahami bagaimana realitas dibingkai, direproduksi dan didistribusikan ke
khalayak. Analisis ini bekerja menggali praktek-praktek bahasa di balik teks
untuk menemukan posisi ideologis dari narasi dan menghubungkannya dengan
struktur yang lebih luas. Dengan demikian analisis wacana merupakan salah satu
model analisa kritis yang memperkaya pandangan khalayak bahwa ada keterkaitan
antara produk media, ekonomi dan politik. Keterkaitan ini dapat dimunculkan
pada saat analisis wacana bergerak menuju pertanyaan bagaimana bahasa bekerja
dalam sebuah konteks dan mengapa bahasa digunakan dalam sebuah konteks dan
bukan untuk konteks yang lain.
Pada dasarnya ada beberapa perbedaan mendasar antara
analisis wacana dengan analisis isi yang bersifat kuantitatif adalah sebagai
berikut. Analisis wacana lebih bersifat kualitatif daripada yang umum dilakukan
dalam analisis isi kuantitatif karena analisis wacana lebih menekankan pada
pemaknaan teks daripada penjumlahan unit kategori, seperti dalam analisis isi.
Analisis isi kuantitatif digunakan untuk membedah muatan teks komunikasi yang
bersifat manifest (nyata), sedangkan analisis wacana justru memfokuskan pada
pesan yang bersifat latent (tersembunyi).
Analisis isi kuantitatif hanya dapat mempertimbangkan
“apa yang dikatakan” (what), tetapi tidak dapat menyelidiki bagaimana ia
dikatakan (how). Analisis wacana tidak berpretensi melakukan generalisasi,
sedangkan analisis isi kuantitatif memang diarahkan untuk membuat generalisasi.
Analisis Semiotik (Semiotic Analysis)
Pengertian semiotika secara terminologis adalah ilmu
yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh
kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik sebagai “ilmu tanda” (sign) dan
segala yang berhubungan dengannya cara berfungsinya, hubungannya dengan kata
lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.
Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang bisa dipertimbangkan sebagai bahan
kajian untuk semiotik, yaitu semiotik binatang, semiotik tanda-tanda bauan,
komunikasi rabaan, kode-kode cecapan, paralinguistik, semiotik medis, kinesik
dan proksemik, kode-kode musik, bahasa yang diformalkan, bahasa tertulis,
alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa alam, komunikasi visual, sistem
objek, dan sebagainya Semiotika di bidang komunikasi pun juga tidak terbatas,
misalnya saja bisa mengambil objek penelitian, seperti pemberitaan di media
massa, komunikasi periklanan, tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan
sastra sampai kepada musik.
Berkenaan dengan hal tersebut, analisis semiotik merupakan
upaya untuk mempelajari linguistik-bahasa dan lebih luas dari hal tersebut
adalah semua perilaku manusia yang membawa makna atau fungsi sebagai tanda.
Bahasa merupakan bagian linguistik, dan linguistik merupakan bagian dari
obyek yang dikaji dalam semiologi. Selain bahasa yang merupakan
representasi terhadap obyek tertentu, pemikiran tertentu atau makna tertentu,
obyek semiotika juga mempelajari pada masalah-masalah non linguistik.
Salah seorang sarjana yang secara konservatif
menjabarkan teori De de Saussure ialah RolandBarthes (1915 – 1980). Ia
menerapkan model Ferdinand De Saussure dalam penelitiannya tentang karya -karya
sastra dan gejala-gejala kebudayaan, seperti mode pakaian. Bagi Barthes komponen
– komponen tanda penanda – petanda terdapat juga pada tanda -tanda bukan bahasa
antara lainterdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan si stem citra dan
kepercayaan yang dibentukmasyarakat untuk memp-ertahankan dan menonjolkan
identitasnya (de Saussure,1988).
Selanjutnya Barthes (1957 dalam de Saussure)
menggunakan teori signifiant - signifie yang dikembangkan menjadi
teori tentang metabaha sa dan konotasi. Istilah signifiant menjadi
ekspresi (E) dan signifie menjadi isi (C). Namun Barthes mengatakan
bahwa antara E dan C harus ada relasi (R) ter-tentu, sehingga membentuk tanda (
sign, Sn). Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin
berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda.
Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan
membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama.
Pengem-bangan ini disebut sebagai gejala meta -bahasa dan membentuk apa yang
disebut kesinoniman (synonymy). Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan
awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi dan oleh Barthes disebut
sistem primer. Kemudian pengembangan -nya disebut sistem sekunder. Sistem
sekunder ke arah ekspresi dise but metabahasa. Sistem sekunder ke arah isi
disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi. Konsep konotasi ini
tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga oleh paham
pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya.
Hingga saat ini, sekurang-kurangnya terdapat sembilan
macam semiotik yang kita kenal sekarang (Pateda, dalam Sobur, 2004). Jenis
-jenis semiotik ini antara lain semiotik analitik, diskriptif, faunal
zoosemiotic, kultural, naratif, natural, normatif, sosial, struktural.
- Semiotik analitik merupakan semiotik yang menganalisis sistem tanda.
Peirce mengatakan bahwa semiotik berobjekkan tanda dan menganalisisnya
menjadi ide, obyek dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang,
sedangkan makna adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada
obyek tertentu.
- Semiotik deskriptif adalah semiotik yang memperhatikan sistem tanda
yang dapat kita alami sekarang meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap
seperti yang disaksikan sekarang.
- Semiotik faunal zoosemiotic merupakan semiotik yang khusus
memper hatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Semiotik kultural
merupakan semiotik yang khusus menelaah system tanda yang ada dalam
kebudayaan masyarakat.
- Semiotik naratif adalah semiotik yang membahas sistem tanda dalam
narasi yang berwujud mitos dan c erita lisan (folklore).
- Semiotik natural atau semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang
dihasilkan oleh alam. Semiotik normative merupakan semiotik yang khusus
membahas sistem tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma.
- Semiotik sosial merupakan semiotik yang khusus menelaah sistem tanda
yang dihasilkan oleh manusia yang berwujud lambang, baik lambang kata
maupun lambing rangkaian kata berupa kalimat. Semiotik struktural adalah
semiotik yang khusus menelaah system tanda yang dimanifestasikan melalui
struktur bahasa.
Analisa Framing adalah analisis yang digunakan untuk
mengetahui bagaimana realitas (aktor, kelompok, atau apa saja) dikonstruksi
oleh media (Eriyanto, 2005, p.3). Analisa framing memiliki dua konsep yakni
konsep pskiologis dan sosiologis. Konsep psikologis lebih menekankan pada
bagaimana seseorang memproses informasi pada dirinya sedangkan konsep
sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas realitas.
Analisis Framing sendiri juga merupakan bagian dari analisis isi yang
melakukan penilaian tentang wacana persaingan antar kelompok yang muncul atau
tampak di media.
Analisis Framing juga dikenal sebagai konsep bingkai,
yaitu gagasan sentral yang terorganisasi, dan dapat dianalisis melalui dua
turunannya, yaitu simbol berupa framing device dan reasoning device. Framing
device menunjuk pada penyebutan istilah tertentu yang menunjukkan “julukan”
pada satu wacana, sedangkan reasoning device menunjuk pada analisis sebab-akibat.
Di dalamnya terdapat beberapa ‘turunan’, yaitu metafora, perumpamaan atau
pengandaian. Catchphrases merupakan slogan-slogan yang harus dikerjakan.
Exemplar mengaitkan bingkai dengan contoh, teori atau pengalaman masa silam.
Depiction adalah “musuh yang harus dilawan bersama”, dan visual image adalah
gambar-gambar yang mendukung bingkai secara keseluruhan. Pada instrumen
penalaran, Roots memperlihatkan analisis sebab-akibat, Appeals to principles
merupakan premis atau klaim moral, dan Consequences merupakan kesimpulan logika
penalaran.
Teknik Framing Dan Konsep Model Zhondhang Pan Dan
Gerald M Kosicki
Menurut Etnman, framing berita dapat dilakukan dengan
empat teknik, yakni pertama, problem identifications yaitu peristiwa
dilihat sebagai apa dan nilai positif atau negatif apa, causal
interpretations yaitu identifikasi penyebab masalah siapa yang dianggap
penyebab masalah, treatmen rekomnedations yaitu menawarkan suatu
cara penanggulangan masalah dan kadang memprediksikan penanggulannya, moral
evaluations yaitu evaluasi moral penilaian atas penyebab masalah.
Ada dua konsep framing yang saling berkaitan, yaitu
konsep psikologis dan konsep sosiologis yaitu :
- Dalam konsep psikologis, framing dilihat sebagai penempatan informasi
dalam suatu konteks khusus dan menempatkan elemen tertentu dari suatu isu
dengan penempatan lebih menonjol dalam kognisi seseorang. Elemen-elemen
yang diseleksi itu menjadi lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan
seseorang saat membuat keputusan tentang realitas.
- Sedangkan konsep sosiologis framing dipahami sebagai proses bagaimana
seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan
pengalaman sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya
Dalam Zhondhang Pan Dan Gerald M Kosicki, kedua konsep tersebut
diintegrasikan.
Secara umkum konsepsi psikologis melihat frame sebagai
persoalan internal pikiran seseorang, dan konsepsi sosiologis melihat frame
dari sisi lingkungan sosial yang dikontruksi seseorang. Dalam model ini,
perangkat framing yang digunakan dibagi dalam empat struktur besar, yaitu
sintaksis (penyusunan peristiwa dalam bentuk susunan umum berita), struktur
skrip (bagaimana wartawan menceritakan peristiwa ke dalam berita), struktur
tematik (bagaimana wartawan mengungkapkan pandangannya atas peristiwa ke dalam
proposisi, kalimat, atau antar hubungan hubungan kalimat yang memberntuk teks
secara keseluruhan), dan struktur retoris (bagaimana menekankan arti tententu
dalam berita)
Analisa Kebijakan Redaktur
Kebijakan sendiri merujuk pada tiga hal yakni sudut
pandang (point of view); rangkaian tindakan (series of actions)
dan peraturan (regulations). Ketiga hal tersebut menjadi pedoman bagi
para pengambil keputusan untuk menjalankan sebuah kebijakan. Dan seorang
Redaktur merupakan suatu pimpinan sekaligus penanggung jawab dalam suatu media.
Oleh karenanya Analisa Kebijakan Redaktur merupakan suatu proses analisa
mengenai kebijakan redaktur dalam proses penerbitan suatu media.
Dalam proses analisa kebijakan, terdapat dua
pendekatan yaitu:
- Analisis proses kebijakan (analysis of policy process), dimana
dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas proses perumusan, penentuan
agenda, pengambilan keputusan, adopsi, implementasi dan evaluasi dalam
proses kebijakan. Jika dilihat dari item analisisnya, pendekatan ini lebih
melihat kandungan (content) sebuah proses kebijakan.
- Analisis dalam dan untuk proses kebijakan (analysis in and for
policy process), dimana dalam pendekatan ini, analisis dilakukan atas
teknik analisis, riset, advokasi dalam sebuah proses kebijakan. Nampaknya,
pendekatan ini cenderung melihat prosedur proses kebijakan. Hasil analisis
kebijakan adalah informasi yang relevan bagi pihak-pihak yang akan
melaksanakan kebijakan. Analisis bisa dilakukan pada semua tahap proses
kebijakan Analisis pada tahap selanjutnya mencakup interpretasi dan
sosialisasi kebijakan, merencanakan serta menyusun kegiatan implementasi
kebijakan. Hasil analisis pada tahap ini adalah aksi kebijakan (policy
action).
- Analisis berikutnya adalah evaluasi implementasi kebijakan dengan
memperhatikan tingkat kinerja dan dampak sebuah implementasi kebijakan.
Hasil analisisnya berupa informasi kinerja yang akan menjadi dasar
tindakan apakah kebijakan tersebut akan diteruskan atau sebaliknya.
Tipe analisis kebijakan dikategorikan menjadi dua tipe
yaitu:
- Tipe analisis akademis. Tipe analisis ini berfokus pada hubungan
antara faktor determinan utama dengan isi kebijakan dan berusaha untuk
menjelaskan hakikat, karakteristik dan profil kebijakan dan bersifat
komparatif baik dari segi waktu maupun segi subtansi.
- Tipe analisis terapan. Tipe analisis ini lebih memfokuskan diri pada
hubungan isi kebijakan dengan dampak kebijakan serta lebih berorientasi
pada evaluasi kebijakan dan bertujuan untuk menemukan alternatif lebih
baik dan bisa menggantikan kebijakan yang sedang dianalisis.
Elemen dalam Kebijakan yang Menjadi target analisis
Terdapat tiga elemen dalam kebijakan yang menjadi
target analisis, yakni:
- faktor determinan utama;
- isi kebijakan; dan
- dampak kebijakan baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan.
Analisa Korelasional adalah analisa yang
bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Analisa
korelasional/hubungan/assosiasi dapat dikatakan merupakan pengembangan dari
analisa deskriptif (untuk selanjutnya baca : deskriptif-kuantitatif), kalau
dalam penelitia deskriptif kita mengumpulkan data sebanyak-banyaknya,
menyusunya dengan sistematis, kita analisa dengan cermat dan yang
dideskripsikan dalam analisis penelitian adalah variabel-variabel penelitian,
situasi dan kondisi yang melingkupinya. Penelitian korelasional bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan antar gejala (variabel), hubungan tersebut
positif atau negatif dan seberapa erat hubungan antar gejala tersebut.
Misalnya pengusaha ingin mengetahui hubungan antara muatan
informasi (kecukupan/kekurangan informasi) dan kebutuhan akan informasi,
Divisi Humas ingin mengetahui hubungan antara kualitas media (daya tarik
untuk dibaca, sesuai dengan kebutuhan, terpercaya, mudah dipahami, lengkap dan
jelas dsb) dan motif pengunaan media, dosen ingin mengetahui hubungan
antara pemberian tugas dengan prestasi mahasiswa dsb.
Terdapat beberapa perbedaan yang membedakan Analisa
Korelasional dan Analisa Deskriptif yaitu bahwa dalam analisa deskriptif
tidak membahas tentang hubungan antar variabel, sedangkan kalau kita lihat dari
jenis datanya sama, yang membedakan adalah sifat-sifat analisanya,
analisa deskripsi mendeskripsikan variabel dan karakteristik responden,
sedangkan analisa korelasional meneliti bagaimana untuk memperoleh kejelasan
ada tidaknya hubungan antar variabel dan karakteristik responden seperti apa
dalam konteks penelitian tersebut. Statistik deskripsi tidak berupaya adanya
generalisasi data sampel terhadap populasi, sedangkan analisis korelasional
selain mendesripsikan data sampel, peneli ingin memperoleh kesimpulan apakah
korelasi (yang sebenarnya data sampel) tersebut juga berlaku pada populasi
(dengan uji signifikansi).
Perbedaan tersebut dapat terlihat dari analisa
deskriptif kita mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, menyusunya dengan
sistematis, kita analisa dengan cermat dan yang dideskripsikan dalam analisis
penelitian adalah variabel-variabel penelitian, situasi dan kondisi yang
melingkupinya. Analisa korelasional bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya
hubungan antar gejala (variabel), hubungan tersebut positif atau negatif dan
seberapa erat hubungan antar gejala tersebut. Misalnya pengusaha ingin
mengetahui hubungan antara muatan informasi (kecukupan/kekurangan
informasi) dan kebutuhan akan informasi, Divisi Humas ingin mengetahui
hubungan antara kualitas media (daya tarik untuk dibaca, sesuai dengan
kebutuhan, terpercaya, mudah dipahami, lengkap dan jelas dsb) dan motif
pengunaan media, dosen ingin mengetahui hubungan antara pemberian tugas dengan
prestasi mahasiswa dsb.
Statistik deskripsi tidak berupaya adanya generalisasi
data sampel terhadap populasi, sedangkan analisis korelasional selain
mendesripsikan data sampel, peneli ingin memperoleh kesimpulan apakah korelasi
(yang sebenarnya data sampel) tersebut juga berlaku pada populasi (dengan uji
signifikansi). Penelitian korelasi (secara statistik) menunjukkan adanya
ko-variasi (sebaran data yang sama) antar variabel, apakah variasi-variasi pada
satu faktor berkaitan dengan variasi pada faktor yang lain, yang mana hubungan
tersebut kemungkinan merupakan :
1. “ ko-variasi antar variabel dari penyebab
(dependen) yang sama”
2. “ko-variasi antar variabel akibat (independent)” ,
atau
3. atau mungkin korelasi tersebut sifatnya “hanya
kebetulan saja”. Untuk memperoleh informasi yang akurat tentang dugaan
hubungan antar variabel tersebut dapat perpedoman pada teori (konsep dan
proposisi), model, atau melakukan penelitian secara intensif dan mendalam.
Penelitian asosiasi atau korelasi sering dikaburkan dengan penelitian/analisis causal (sebab-akibat),
korelasi yang kuat dianggap adanya hubungan sebab-akibat. Hubungan kausal dapat
diinterpretasikan pasti “ada hubungan” yang sifatnya kausalitas, tetapi kalau
“ada hubungan” belum tentu adanya kausalitas. Kita sering terjebak dengan
proses berfikir yang nampaknya logis atau cara berfikir linier, hal inilah yang
perlu dicermati, khususnya dalam perumusan masalah. Jika ada kesalahan dalam
membuat perumusan masalah, alih-alih pertanyaan yang salah
tentang obyek yang kita teliti tidak akan menghasilkan jawaban yang benar.
Sebagai Contoh, pernyataan :
- Pengaruh “kemampuan membaca” terhadap “lamanya belajar Mahasiswa”
- Hubungan antara “kemampuan membaca”dengan “lamanya belajar
Mahasiswa”
- Pengaruh “kemampuan membaca” dan “lamanya belajar Mahasiswa” terhadap
“Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Metode Penelitian Komunikasi”.
Adanya hubungan antara “kemampuan membaca” dan “lamanya
belajar” jangan diinterpretasikan bahwa “lamanya belajar” disebabkan
oleh “kemampuan membaca”. Atau “Lamanya Belajar” diakibatkan oleh
“ Kemampuan membaca”. Mahasiswa yang “lama belajar” belum tentu
atau bukan karena “kemampuan membacanya yang kurang”, tetapi (diduga)
karena akan mengikuti UTS, karena ingin bisa, lagi tertarik dsb. Bandingkan
dengan; Pengaruh “kemampuan membaca” dan “ lamanya belajar” terhadap
“Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Metode Penelitian Komunikasi”.
Jika kita perhatikan dengan seksama, dari ketiga
pernyataan tersebut yang secara logika mana yang lebih dapat diterima dan
benar. Dengan demikian tipe hubungan antar variabel dalam penelitian
korelasional adalah hubungan simetri, adalah jenis hubungan antar variabel yang
mana suatu variabel yang satu tidak disebabkan oleh variabel yang lain atau
tidak dipengaruhi oleh variabel yang lain.
Hal ini dapat terjadi apabila :
- Kedua variabel tersebut merupakan dimensi/indikator untuk konsep yang
sama, misalnya : Hubungan antara frekuensi penggunaan media, durasi
(lama), pilihan jenis media dan jenis isi sebagai indikator dari pola
penggunaan media dsb.
- Sebagai akibat dari faktor yang sama, Misalnya; Penguasaan materi,
lulus mata kuliah, IP bagus sebagai akibat yang sama karena rajin
membaca/belajar dsb.
- Berkaitan secara fungsional, apabila keberadaan sesuatu hal diikuti
oleh keberadaan yang lainnya atau sebaliknya. Misalnya : ada mahasiswa ada
dosen, ada asap – ada api, ada pekerja – ada majikan, ada pimpinan – ada
bawahan, dsb.
- Hubungan yang sifatnya kebetulan saja. Misalnya; hubungan mimpi buruk
dengan kehilangan HP, hubungan berkokok-nya ayam dengan terbitnya
matahari, dsb.
Analisis Data dalam Analisa Korelasional
Dalam melakukan analisis data yang perlu diperhatikan
adalah :
- Masalah dan Tujuan penelitian;
- Hubungan antar variabel (hipotesis penelitian) yang dalam analisa
statistik sebagai hipotesis statistik (Ho dan H1);
- Jenis informasi dan jenis data; apakah data yang kita peroleh sebagai
data nominal, ordinal, interval atau rasio;
- Kesesuaian antara jenis data dengan jenis analisa statistik yang
digunakan;
- Taraf signifikansi (α) atau tingkat kepercayaan (1- α);
- Berbagai variasi analisis data berdasarkan kebutuhan dsb. Alat
analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan dua atau lebih
variabel. Korelasi antar dua variabel disebut korelasi sederhana, dan
korelasi lebih dari dua variabel disebut korelasi berganda (multiple
Correlation). Sehingga alat anlisa ada rumus untuk menghitung korelasi
sederhana dan berganda.
Berbagai variasi alat analisa korelasi tergantung dari
hubungan antar variabel dan jenis data, apakah nominal, ordinal atau interval
dan tujuan penelitian kita.
Al Rasyid, Harun, 2000, Hand out Statistik Sosial,
PPS UNPAD, Bandung.
Alex Sobur, Analis is Teks Media…..hal 172
Bungin, Burhan, 2008, Penelitian Kualitatif,
Jakarta: Kencana prenada media group, hlm. 155 – 156.
Bungin, Burhan, 2008, Penelitian Kualitatif,
Jakarta: Kencana prenada media group, hlm. 156 – 159.
Dajan, Anto, 1996, Pengantar Statistik Jilid I,
LP3ES, Jakarta.
Dajan, Anto,1996, Pengantar Statistik Jilid II,
LP3ES, Jakarta .
Kriyantono, Rachmat, 2007. Teknik Praktis Riset
Komunikasi, Jakarta: Kencana prenada media group, hlm.247-251
Rakhmat ,Jalaludin, 1999, Metode Penelitian
Komunikasi, Rosdakarya, Bandung .
Sudradjat M,2002, Metode Penarikan Sampel dan
Penyusunan Skala, UNPAD Bandung.
Wimmer D. Roger, 1987, Mass Media Research,
Wadsworth Publisher Company, Belmont, California .
Perpustakan online Uniersitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga
Perpustakan online Universitas Kristen Petra