Salah satu kekuatan media massa adalah
bagaimana mewujudkan sebaran pemberitaan secara proporsional terkait isu-isu
yang berkembang di berbagai daerah. Guna menyalurkan aspirasi masyarakat yang
aksesnya lebih sulit dibanding berada di perkotaan.
Soal fakta bahwa kejadian penting seputar
ibu kota semestinya bisa diketahui oleh semua masyarakat, tentu bukanlah
sesuatu yang patut dipersoalkan. Apalagi yang berkaitan dengan produk kebijakan
negara. Namun beda halnya ketika dalam rentang waktu yang cukup
panjang, perhatian publik melulu diarak ke Jakarta. Sebab jiwa kebangsaan
rakyat Indonesia adalah "Indonesia Raya" bukan "Jakarta
Raya".
Lantas kenapa media massa
berbondong-bondong dan cenderung memanjakan Jakarta? Tentu karena Jakarta
adalah tempat produksi segala kepentingan, termasuk isu (agenda). Isu diracik,
dikembangkan, dan disebarkan ke segala sisi jantung masyarakat dengan tujuan
tertentu, meskipun itu tidak ada kaitannya dengan kemajuan ataupun perkembangan.
Dalam kondisi ini saya menangkap beberapa
fakta menarik, yang diharapkan dapat menetralisir pengaruh agenda setting
media. Pertama, adanya upaya siaran stasiun televisi nasional memberikan
jatah yang lebih besar terhadap Jakarta adalah ketidakadilan yang dilegalkan.
Dari segi demokrasi, mereka dengan sengaja membungkam suara-suara kecil
orang-orang pinggiran dan pedesaan. Tidak ubahnya suara-suara kehidupan
tersebut dianggap sebagai riak-riak yang hanya mengganggu keelokan tayangan TV.
Kedua, acara televisi selalu berbau
sinetron atau hiburan, dan cenderung meninabobokkan. Publik bisa mendapatkan
segala bentuk informasi tidak mesti dari televisi, tapi bisa juga dari media
cetak dan media elektronik lainnya. Hanya saja, televisi bagi kebanyakan orang,
terlepas dari umur maupun statusnya, lebih memilih media elektronik yang satu
ini sebagai tempat mengurai kepenatan. Maka dengan modal tersebut, televisi
menghidangkan segala menu yang mereka buat, karena sudah tidak mempersoalkan
lagi adakah konsumen atau tidak.
Ketiga, dari mata turun ke hati. Acara TV
tidak membuat kita berpikir seperti halnya membaca koran. Konsumen menu
televisi sangat dimanjakan sekali, sehingga mereka tinggal rebahan atau duduk
dengan tenang sambil menggoyangkan kaki ditemani secangkir kopi. Kemudian tanpa
disadari, gurihnya hidangan sudah merasuki emosi dan hati penonton. Kalaupun
misalnya satu sajian tidak enak disantap, maka cukup menggerakkan telunjuknya.
Sehingga dipastikan daya pikir anda tertutup untuk beranjak apalagi menghindar.
Dengan menimbang-nimbang semua ini, diakui
atau tidak, membuat kita mengernyitkan dahi. Orang-orang yang berada dibelakang
layar televisi bukanlah manusia bodoh dan tidak menyadari efek positif-negatif
tayangannya. Akan tetapi yang tidak boleh kita abaikan adalah bahwa bukan efek
alami tersebut titik tekannya. Ibarat usaha catering, penjual dapat
menyediakan pesanan sesuai khas masakan mereka. Namun bukan berarti pelanggan
tidak boleh memesan sesuai seleranya. Penjual akan dengan senang hati menservice
kemauan dari pelanggan (pemilik uang) dengan sepenuh hati.
Contoh kasus misalnya, bagaimana dalam
beberapa minggu terakhir, media televisi secara serentak memberi perhatian
khusus terhadap kasus Ahok. Dari sejak mulai viralnya video Ahok yang
ditengarai menistakan agama Islam, demo besar-besaran 4 November yang
dikomandoi Ormas FPI, hingga proses gelar perkara. Mengingat agenda jarum
suntik media yang terfokus, maka jadilah hampir seluruh publik di seluruh
Indonesia menyimak dan ikut-ikutan melakukan penafsiran. Meskipun yang paling
mencolok dalam proses ini adalah terjadinya penggamangan terkait yang mana
benar-benar ulama dan bukan. Dan hal ini juga bagian dari agenda politik media
itu sendiri.
Dengan demikian, sudah jelas kiranya bahwa
adanya upaya untuk penyiaran terfokus secara seporadis adalah pencabulan
terhadap demokrasi. Media berkewajiban menjadi corong dari aspirasi rakyat
dimanapun berada, tanpa mendiskriminasi terhadap suku, agama, dan ras tertentu.
Sebab rakyat juga memiliki hak mendapatkan informasi yang sama rata.
Pada gilirannya, penulis mengharapkan
kepada seluruh pemilik media, terutama televisi, agar lebih mengangkat harkat
dan martabat manusia Indonesia yang notabene menjunjung tinggi moralitas. Sedari
sekarang sudah selayaknya media mempelopori pengembangan sumber daya manusia Indonesia
dalam mendukung semangat kepemudaan.

No comments:
Post a Comment