03 January 2017

Menakar Dominasi Media Jakarta: Kaitannya dengan Kekuasaan

Salah satu kekuatan media massa adalah bagaimana mewujudkan sebaran pemberitaan secara proporsional terkait isu-isu yang berkembang di berbagai daerah. Guna menyalurkan aspirasi masyarakat yang aksesnya lebih sulit dibanding berada di perkotaan.
Soal fakta bahwa kejadian penting seputar ibu kota semestinya bisa diketahui oleh semua masyarakat, tentu bukanlah sesuatu yang patut dipersoalkan. Apalagi yang berkaitan dengan produk kebijakan negara. Namun beda halnya ketika dalam rentang waktu yang cukup panjang, perhatian publik melulu diarak ke Jakarta. Sebab jiwa kebangsaan rakyat Indonesia adalah "Indonesia Raya" bukan "Jakarta Raya".
Lantas kenapa media massa berbondong-bondong dan cenderung memanjakan Jakarta? Tentu karena Jakarta adalah tempat produksi segala kepentingan, termasuk isu (agenda). Isu diracik, dikembangkan, dan disebarkan ke segala sisi jantung masyarakat dengan tujuan tertentu, meskipun itu tidak ada kaitannya dengan kemajuan ataupun perkembangan.
Dalam kondisi ini saya menangkap beberapa fakta menarik, yang diharapkan dapat menetralisir pengaruh agenda setting media. Pertama, adanya upaya  siaran stasiun televisi nasional memberikan jatah yang lebih besar terhadap Jakarta adalah ketidakadilan yang dilegalkan. Dari segi demokrasi, mereka dengan sengaja membungkam suara-suara kecil orang-orang pinggiran dan pedesaan. Tidak ubahnya suara-suara kehidupan tersebut dianggap sebagai riak-riak yang hanya mengganggu keelokan tayangan TV.
Kedua, acara televisi selalu berbau sinetron atau hiburan, dan cenderung meninabobokkan. Publik bisa mendapatkan segala bentuk informasi tidak mesti dari televisi, tapi bisa juga dari media cetak dan media elektronik lainnya. Hanya saja, televisi bagi kebanyakan orang, terlepas dari umur maupun statusnya, lebih memilih media elektronik yang satu ini sebagai tempat mengurai kepenatan. Maka dengan modal tersebut, televisi menghidangkan segala menu yang mereka buat, karena sudah tidak mempersoalkan lagi adakah konsumen atau tidak.
Ketiga, dari mata turun ke hati. Acara TV tidak membuat kita berpikir seperti halnya membaca koran. Konsumen menu televisi sangat dimanjakan sekali, sehingga mereka tinggal rebahan atau duduk dengan tenang sambil menggoyangkan kaki ditemani secangkir kopi. Kemudian tanpa disadari, gurihnya hidangan sudah merasuki emosi dan hati penonton. Kalaupun misalnya satu sajian tidak enak disantap, maka cukup menggerakkan telunjuknya. Sehingga dipastikan daya pikir anda tertutup untuk beranjak apalagi menghindar.
Dengan menimbang-nimbang semua ini, diakui atau tidak, membuat kita mengernyitkan dahi. Orang-orang yang berada dibelakang layar televisi bukanlah manusia bodoh dan tidak menyadari efek positif-negatif tayangannya. Akan tetapi yang tidak boleh kita abaikan adalah bahwa bukan efek alami tersebut titik tekannya. Ibarat usaha catering, penjual dapat menyediakan pesanan sesuai khas masakan mereka. Namun bukan berarti pelanggan tidak boleh memesan sesuai seleranya. Penjual akan dengan senang hati menservice kemauan dari pelanggan (pemilik uang) dengan sepenuh hati.
Contoh kasus misalnya, bagaimana dalam beberapa minggu terakhir, media televisi secara serentak memberi perhatian khusus terhadap kasus Ahok. Dari sejak mulai viralnya video Ahok yang ditengarai menistakan agama Islam, demo besar-besaran 4 November yang dikomandoi Ormas FPI, hingga proses gelar perkara. Mengingat agenda jarum suntik media yang terfokus, maka jadilah hampir seluruh publik di seluruh Indonesia menyimak dan ikut-ikutan melakukan penafsiran. Meskipun yang paling mencolok dalam proses ini adalah terjadinya penggamangan terkait yang mana benar-benar ulama dan bukan. Dan hal ini juga bagian dari agenda politik media itu sendiri.
Dengan demikian, sudah jelas kiranya bahwa adanya upaya untuk penyiaran terfokus secara seporadis adalah pencabulan terhadap demokrasi. Media berkewajiban menjadi corong dari aspirasi rakyat dimanapun berada, tanpa mendiskriminasi terhadap suku, agama, dan ras tertentu. Sebab rakyat juga memiliki hak mendapatkan informasi yang sama rata.

Pada gilirannya, penulis mengharapkan kepada seluruh pemilik media, terutama televisi, agar lebih mengangkat harkat dan martabat manusia Indonesia yang notabene menjunjung tinggi moralitas. Sedari sekarang sudah selayaknya media mempelopori pengembangan sumber daya manusia Indonesia dalam mendukung semangat kepemudaan. 

No comments: