12 October 2016

Phobia Ahok tidak Seharusnya Menggerus Akal Sehat

Oleh Moh Khairul Anwar
Ahok
Sisi lain Ahok

Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) adalah salah satu pemimpin daerah yang harus diakui dedikasinya terhadap bangsa dan negara. Terlepas dari berbagai kontroversi yang (seolah-olah) memang melekat dalam dirinya.

Sebagai seorang pemimpin tentu saja Ahok akan mempertahankan segala kebijakan, model kinerja, dan komunikasi politik yang diusung demi suksesnya program dibawah pemerintahannya. Ya, dengan kacamata ini sisi keras, kasar, urak-urakan (meskipun semua itu bisa saja cukup diwakili dengan kata "tegas") dapat dimaklumi. Sebab teladan dari sang suri teladan sejatinya tidak akan dapat diikuti secara penuh oleh umat manusia.
Gaya politik setiap kelompok, personal, bangsa, dan suku, diakui atau tidak memang berbeda. Hanya saja dari segala perbedaan itu harus mengandung satu titik, yaitu ketegasan dalam menjalankan kewajibannya. Pun, kita tidak boleh melupakan bahwa dalam dunia politik perbedaan karakter bukanlah persoalan, dibanding begitu dominannya kepentingan pribadi dan kelompok.
Alhasil, seberapa besar kadar intelek kita ketika terjebak dalam sentimen atau kepentingan kelompok? Jawabannya tentu akan menusuk nurani kita. Karena pada konteks ini bukan lagi siapa orangnya (baik background ataupun profesinya, melainkan apa kepentingannya. Sebagai contoh, mayoritas pembenci Ahok adalah orang-orang yang memang berada di kubu seberang (khususnya agama dan politik). Sehingga patutlah orang-orang yang berada di luar dua kubu ini akan ambigu dan was-was tentang siapa yang harus dipercaya. Disinilah pembodohan publik sebab tergerusnya akal sehat itu berawal.
Contoh lainnya, baru-baru ini "umat Islam" berbondong-bondong mengecam Ahok karena statemen yang dianggap mengghina al-Quran. Tapi yang pasti disini penulis tidak akan mengelaborasi lebih lanjut terkait ayat terkait. Mengingat sudah ada pihak-pihak yang lebih berkompeten memberi penilaian.
Pada kasus tersebut sejatinya bukan Ahok ataupun ayat yang mesti dijadikan titik tekan, melainkan siapa yang mengomentari dengan reaktif (ditambah satu lagi, yakni media yang memberitakan). Pertama, secara otomatis banyak ustadz dan tokoh ormas Islam yang memberi penilaian yang sama bahwa Ahok melakukan "penistaan" agama. Hal anehnya adalah mengapa intensitasnya tidak setinggi ketika dulu ada yang membuat kartun nabi Muhammad. Karena semestinya ketika ada yang menistakan agama Islam selaku agama dominan di Indonesia, harus ada sanksi yang tegas bagi Ahok.
Belum lagi disaat yang bersamaan terdapat beberapa tokoh Islam yang memberikan penilaian yang cenderung lebih kontekstual dan proporsional. Ketika dari kedua kubu terdapat tokoh-tokoh yang selama ini dijadikan rujukan umat Islam pada umumnya, lantas siapa yang harus diikuti? Mohon maaf, ini bukanlah penentuan tanggal satu bulan syawal. Apakah cukup diamini saja upaya pembodohan ini? Harus disadari bahwa realitas semacam ini sudah kian menjadi lazim di negeri ini. Umat Islam di Indonesia pada umumnya menunggu dan memang harus diberikan keputusan final, Ahok menistakan agama atau tidak? Hal ini juga berkaitan dengan nama baik Ahok sendiri.
Kedua, pemilihan diksi kata dan penggiringan opini media dalam melakukan pemberitaan ikut mendorong kian keruhnya persoalan, alih-alih memberi pencerahan. Maklum, media massa dimiliki oleh orang-orang parpol atau berafiliasi dengan partai politik. Sehingga yang terjadi, beberapa media menggiring kesana dan beberapa lainnya menggiring ke sisi lain.
Mafhum, satu-satunya kebenaran dalam politik adalah pencitraan, sebab semua lakon tidak ada yang hakiki. Tapi sebagai bangsa yang menjunjung tinggi keadaban, sudah semestinya mengindahkan akal sehat. Lebih-lebih, jangan sampai kita dicap sebagai bangsa yang menistakan akal sehat.
Sumber: http://www.qureta.com/post/fobia-ahok-tidak-seharusnya-menggerus-akal-sehat

No comments: