BAYANG-BAYANG KEKUASAAN
Oleh: Moh Khairul Anwar
Pada kongres II Partai Demokrat yang diselenggarakan beberapa hari lalu, seakan menjadi tempat pacuan bagi tiga calon yang notabene mempunyai kepabilitas tidak jauh berbeda diantara ketiganya. Andi dan Marzuki merupakan pemain lama yang tentunya tidak akan asing lagi bagi khalayak, dibanding Anas yang akhirnya berhasil menjadi ketua umum terpilih. Walaupun kiprahnya dalam komisi pemilihan umum pada pemilu 2009 kemarin juga sangat strategis.
Keterpilihan Anas dalam kongres tersebut sebenarnya menjadi cerminan tersendiri bagi realitas angggota partai Demokrat sekarang. Ketidak sinkronan antara kalangan yang masuk struktural dan para anggotanya adalah suatu kelaziman dalam organisasi apapun. Dengan tidak menafikan adanya skenario terselubung sebagai representasi kepentingan beberapa kepala yang mempunyai pengaruh besar. Atau bahkan hal tersebut memang murni keputusan politis dari anggota kebanyakan.
Yang pasti ketua terpilih adalah penentu dari nasib partai Demokrat kedepan. Apakah akan tetap berpegang pada status quo atau membuat terobosan-terobosan baru adalah memiliki nilai interpretasi tersendiri dalam pembacaan para pengamat politik sekarang ini. Sepintas yang menjadi kata kunci sekaligus sebagai pisau analisis sementara ini, yakni background dari seorang Anas sebagai mantan ketua umum organisasi ekstra kampus, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Naiknya mantan aktivis (pergerakan) mahasiswa menjadi ketua partai terkuat di negeri ini tentunya diharapkan akan memberikan nuansa baru terhadap dunia (konstelasi) perpolitikan kita. Harapan tersebut bukanlah berangkat dari pikiran idealis-sederhana orang awam. Akan tetapi nilai-nilai kekritisan mahasiswa yang pernah diempunya mestinya menjadi modal utama dalam merangkai konstelasi perpolitikannya selama lima tahun kedepan.
Selanjutnya, dalam internal partai demokrat sendiri, seperti halnya masyarakat umum yang mengagung-agungkan kekharismatikan seorang SBY, tentu terdapat pula beberapa atau bahkan banyak orang yang berpikiran nasionalis serta mempunyai kesadaran lebih untuk mengutamakan (baca: mencerdaskan) kepentingan rakyat di banding kelompok atau pribadinya sendiri.
Dunia politik yang penuh intrik, menjenuhkan, dan hanya semakin memperpanjang daftar swing voters (golput), adalah tugas besar Anas untuk mengubahnya menjadi lebih arif, dalam artian masyarakat yang mempunyai kesadaran nasional. Mengingat Anas Urbaningrum berdasarkan kiprahnya selama ini bisa dikatakan low profile, adem ayem, bermain dingin, sehingga jarang sekali diekspos media massa. Sehingga hal ini barangkali yang dapat dijadikan pembeda antara sosok SBY dan Anas.
Maka andaikata Andi malaranggeng atau Marzuki Ali yang lolos, otomatis pembacaannya pun akan berbeda. Kedua orang ini adalah sangat identik dengan SBY, baik dari segi frame berpikir atau cara berpolitiknya. Oleh karena demikian, yang mesti dilakukan sekaligus sebagai misi utama kedepan minimal ada dua poin, pertama, reorientasi ideologi partai. Arah dan tujuan suatu partai dalam negara berkembang seperti Indonesia mau tidak mau harus benar-benar menjadi pilar demokrasi. Bukan hanya berhenti di retorika. Proses perealisasian tujuan itu pun bukanlah persoalan yang mudah, di mana yang menjadi penyebab utama hal ini adalah karena dunia politik penuh dengan tekanan-tekanan.
Kedua, internsifikasi komunikasi dengan semua ketua partai koalisi ataupun oposisi. Adanya komunikasi yang intens dengan semua ketua partai dimaksudkan supaya mampu meminimalisir ketegangan-ketegangan yang sewaktu-waktu dapat kembali memanas. Lebih-lebih dapat merumuskan satu dan berbagai hal secara serempak, khususnya yang berkaitan dengan segala persoalan kebangsaan, yang pada gilirannya hal ini juga akan memperbaiki stereotip di mata masyarakat.
Meski begitu, dua point di atas bukanlah jalan akhir atau sebagai satu-satunya solusi yang terbaik. Melainkan tidak lebih dari opini penulis dalam upaya menghilangkan kejenuhan yang disebabkan oleh semakin mengakarnya sikap egosentrisme dalam dunia perpolitikan. Yang pada saat demikian, benturan antar kepentingan antara kelompok satu dengan kelompok lainnya menjadi cikal bakal munculnya otoritarianisme partai politik. Siapa yang mengakumulasi suara paling banyak secara otomatis akan menjadi pengendali dalam semua kebijakan. Namun tentu tidak cukup sampai di situ, lebih parah lagi, kontrol tersebut berkecenderungan self profit oriented untuk kelompokya, dan apabila tidak memungkinkan maka berarti tidak ada pula kebijakan baru.
Sebelum melebar terlalu jauh, jika dari awal hanya membahas aspek politif dari terpilihnya Anas sebagai ketua umum partai Demokrat. Aspek negatif yang secara simultas muncul saya kira penting untuk saya coba paparkan dalam tulisan ini. Walaupun hal tersebut hanyalah praanggapan atau asumsi sementara (presupposition), yang jelas realitas dilapangan nantinya akan menimbulkan implikasi yang berbeda, baik bagi ranah perpolitikan dan yang terpenting adalah ketentraman nasional. Naik turunnya ideology dari agen of control (mahasiswa) merupakan indikasi dari faktor tersebut.
Ideologi merupakan identitas bagi suatu organisasi. Dengan demikian, minimal anggapan demikian dapat dijadikan pertimbangan oleh Anas dalam merumuskan sekian agendanya. Oleh karena, sekali tergelincir maka akibatnya akan sangat fatal berkaitan dengan pihak pengontrol di negeri ini. Yang dalam pada itu juga, kita harus mengakui bahwa HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) mempunyai ideologi tersendiri sebagai batu pijakan semua anggotanya. Lalu pertanyaannya sekarang, bisakah ideologi pertama itu mampu bertahan saat dihadapkan dengan ideologi partai politik, minimal berfusi menjadi satu? Jawaban “tidak” tentu menjadi keberatan pihak yang bersangkutan, akan tetapi jawaban “bisa” belum tentu memuaskan apabila ideologi pertama dikesampingkan.
Dalam tradisi senioritas, seseorang yang berhasil meraih jabatan yang lebih tinggi (utamanya di pemeritahan) akan dianggap sebagai orang sukses. Kesuksesan tersebut tentu saja disadari berkat usaha dan proses yang panjang. Yang selanjutnya akan dijadikan teladan oleh para yuniornya. Begitu juga sebaliknya, apabila seseorang tersebut lebih bersikap oportunis dan pragmatis maka otomatis menjadi preseden negatif sehingga tidak ada lagi nilai-nilai perbaikan. Dan pada akhirnya, mendistorsi seluruh harapan idealis kemahasiswaan.
Alhasil, di sinilah sebenarnya titik pembahasan kita dalam tulisan ini. Anas urbaningrum yang sekaligus sebagai seorang senior mau tidak mau telah memikul dua tanggung jawab moral/sosial dari dua golongan: publik secara umum dan organisasi yang telah membesarkannya. Dengan begitu, kemana prioritas dari dua kubu itu akan ditujukan adalah merupakan pilihan dalam profesinya ini.
Pekerjaan: Redaktur Kajian Sosial Politik (KOSPOL) UIN Suka
No comments:
Post a Comment