PEMIMPIN
BERBADAN BESI
Oleh
Moh Khairul Anwar
Bulan
kemarin Lembaga Survei Indonesia (LSI), melaporkan hasil penelitiannya terkait
kepuasan publik terhadap kinerja SBY. Menariknya, servei tersebut dilakukan
untuk kedua kalinya hanya dalam jangka waktu enam bulan. Namun, didapatkan
hasil yang masuk kategori, dalam konteks kepemimpinan, kritis.
Hasil
penelitian tersebut, jika mengacu kepada kultur sosial politik orang Madura,
yang membagi kepemimpinan kepada tiga macam, yakni, bhuppa’-bhabhu’ (orang tua), ghuru
(kyai), rato (pemimpin formal),
sangat menarik untuk dikaji (Dr. A. Latief Wiyata: 2009). Namun, hanya dua
jenis terakhir yang menurut penulis cocok dijadikan referensi untuk menanggapi
hasil survei tersebut.
Sampai
saat ini, sosok kyai tetap diposisikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia
sebagai pembimbing rohani. Sekalipun, seiring berjalannya waktu, kyai pun mulai
berbondong-bondong terjun ke ranah politik. Yang salah satu alasannya, karena
Kyai dianggap tidak efektif lagi jika hanya memantau dari luar, tapi sudah
seharusnya melebur ke dalam ranah perpolitikan. Sementara, kapercayaan
masyarakat terhadapnya bertolak dari kharisma yang tetap dipelihara oleh
masyarakat itu sendiri, selama tidak mengabaikan tugas utamanya sebagai
pembimbing rohani.
Lagi
pula, pada dasarnya, memang tidak ada persoalan jika kyai terjun ke dunia
perpolitikan. Walaupun, realitas tersebut telah banyak menimbulkan keresahan di
tengah-tengah masyarakat. Oleh karena, sebagaimana lika-liku politik yang kita
pahami selama ini, kerap kali menarik aktornya pada perebutan kekuasaan. Yang
sebagai konsekuensinya, tidak ayal bila dalam perjalannya hanya kekuasaan yang
menjadi prioritas dan meminggirkan tugas agungnya. Berbeda, dengan politisi
yang tidak berlatar belakang kyai. Bila kenerjanya sejalan dengan janjinya,
otomatis akan mendapatkan kepercayaan dari publik, begitupun sebaliknya.
Kemudian,
apa hubungan konsep tersebut dengan cepat menurunnya kepercayaan masyarakat
terhadap kinerja SBY? Berdasarkan hasil survei LSI, pada bulan Januari, tingkat
kepuasan terhadap kinerja SBY, 56,7 persen, sementara di bulan Juni, 47,2
persen (Tribunnews, 26/6). Dari hasil tersebut, bisa kita ambil titik terang
menggunakan konsep di atas, bahwa kepercayaan publik tergantung kepada seberapa
serius pemerintah mendengar aspirasinya serta tidak hanya menghabiskan waktunya
untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Dengan kata lain, publik tidak lagi bisa
dimanipulasi kesadarannya oleh janji-janji manis politik. Bahkan, lebih dari
itu, bagaimana ketimpangan sosial yang terjadi saat ini bisa ditekan sekecil
mungkin adalak tolak ukur untuk menentukan apakah pemimpin itu berhasil atau
tidak.
Namun
masalahnya, keterbukaan informasi tidak kemudian menjadikan para pemerintah di
Indonesia untuk bekerja lebih serius serta bertingkah laku lebih santun. Mereka,
tidak segan-segan meancarkan kata-kata yang buruk demi mempertahankan nama baik
diri dan kelompoknya. Saat-saat yang sampai saat ini mungkin sulit kita
lupakan, seperti Pansus Bank Century, Sidang Paripurna, beberapa kali pidato
Presiden yang tak lebih dari hanya mengeluh, dan lain semacamnya, jelas jauh
dari sosok rato (pemimpin
formal/negarawan) sebagaimana dalam etnis Madura.
Pemimpin
atau pemerintah (pada umumnya) kita saat ini, cenderung manjadi penganut
demokrasi politik. Yaitu, suatu model demokrasi yang mana partai politik
mendikte lahirnya hampir setiap urusan dan kebijakan. Oleh karenanya, setiap
ada survei-survei yang dilakukan seakan-akan tidak berarti bagi pemerintah.
Padahal, jika kepuasan publik terus menurun, secara otomatis mengindikasikan
bahwa kepedulian pemerintah terhadap rakyat pun semakin kecil. Terlepas,
lembaga pesurveinya independen atau tidak.
No comments:
Post a Comment