16 June 2011

Bekal Kritis Mahasiswa Baru

Bekal Kritis Mahasiswa Baru
Oleh: Moh Khairul Anwar
Calon mahasiswa baru ibarat pengantin yang akan segera membentuk keluarga dan kehidupan baru. Yang mana, terlepas dari latar belakang masing-masing, untuk kepentingan masa depannya wajib mempersiapkan terlebih dahulu segala tetek bengek terkait tugasnya nanti. Apakah dalam bersikap, memperbaiki pola hidup atau menata kepribadiannya dalam membuat kebijakan dan kebijaksanaan.
Walau begitu, masih pantaskah perploncoan diterapkan saat ini? Dalam rangka memberikan bekal kritis, bagi saya masih tetap relevan untuk diberlakukan. Terlepas dari segala kekurangan (anomali) yang terjadi selama ini. Oleh karenanya, harus ada format terbaru yang lebih bernafaskan akademis, terutama adanya penekanan dalam bidang kognitif dan afeksinya agar pembekalan tersebut bisa berjalan efektif.
Lagi pula, secara praktis, yang menjadi panitia pelaksana adalah para seniornya yang telah memahami antropologi kampus serta beberapa materi kuliah. Sehingga, sudah sepantasnya dijadikan moment dalam mentransfer pengetahuan. Pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan dengan realitas kampus atau pengetahuan ilmiah sebagai rangsangan awal kognitifnya. Namun, sebagai catatan adalah harus diupayakan agar peserta dan panitia pelaksananya diikat oleh nilai-nilai freandship, bukan malah menabur bibit kebencian dan kesalingacuhan.
Dari cacatan tersebut, terkandung beberapa point yang menurut penulis menjadi prasyarat dalam melaksanakan perploncoan lebih efektif. Pertama, jelas istilah perploncoan yang ditelorkan bangsa kolonial berbeda dengan istilah-istilah humanis sesudahnya, terutama dalam prakteknya, seperti Orientasi Pengenalan Akademik yang sekarang. Pada saat itu, si calon mahasiswa memang benar-benar diplontos, ditambah dengan perlakuan-perlakuan yang merugikan secara fisik. Dengan istilah yang baru tersebut, memungkinkan untuk menerapkan orientasi yang lebih bersifat akademis-humanis.
Kalau hal tersebut bisa menjadi kesadaran bersama, maka beralihlah pada point kedua, yaitu hindari dontrin seniorisme. Karena, program ini bukan ajang untuk menunjukkan siapa berkuasa dan dikuasai. Akan tetapi, semata-mata ruang pertukaran informasi antara senior dan juniornya.