10 July 2011

Akademisi yang Tidak Intelek


Akademisi yang Tidak Intelek
Oleh: Moh Khairul Anwar

Setiap bentuk perekrutan anggota baru seakan-akan pemberian penekanan lebih besar terhadap pembentukan mental sudah menjadi keharusan. Baik menggunakan cara  yang eksplisit atau pun inklusif. Dengan maksud agar calon anggota baru tersebut mempunyai mental yang sejalan dengan visi misi organisasi atau instansinya.
Dengan pemahaman yang sama, proses perekrutan dalam perguruan tinggi pun tidak terlepas dari kenyataan itu. Sekalipun, tentu saja karena konteksnya berbeda maka model yang digunakan pun tidak bisa sembarang. Dalam artian, selalu diperlukan inovasi-inovasi untuk bisa mencapai target serta menjawab persoalan sosial politik yang sedang dihadapi. Untuk konteks perguruan tinggi di Indonesia misalnya, yang mana perkembangan dua aspek tersebut semakin menjenuhkan, maka dibutuhkan penggemblengan yang lebih pada sisi kognitifnya. Seperti, dilatih mendiskusikan persoalan yang sedang booming, baik dengan lisan ataupun tulisan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu diterapkan metode-metode yang mempunyai implikasi ‘aktif’ daripada melulu ‘sekedar merasakan’ (baca: pasif). Yang pada titik ini pula, didapatkan bahwa skenario yang selama ini menyelimuti OPAK, OSPEK atau istilah lainnya, tidak lagi terlihat nilai signifikansinya. Oleh karena, dalam perkembangannya terkesan, dan memang yang ditakuti, tidak lagi menjadi sekedar sebuah pilihan (metode), melainkan mengeras sebagai kemutlakan (dalam dunia akademis dikenal dengan formalitas, yang berarti mengikat). Yang pada gilirannya, tidak jarang menghalalkan cara-cara kekerasan.
  Persoalan selanjutnya, bagaimana mungkin praktek yang sudah biasa digunakan sejak di sekolahan tersebut, walaupun tidak di semua sekolah, masih diterapkan lagi untuk masuk perguruan tinggi? Yang setuju atau tidak, sudah pasti bagi semua peserta yang mengikuti ritual tersebut tidak akan memberi pengalaman mendalam secara merata. Apalagi, bagi yang sudah pernah mengalaminya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa agenda besar dengan anggaran yang tidak sedikit itu harus dilakukan secara efektif pula, serta menghasilkan sesuatu yang tidak hanya bermanfaat bagi peserta tapi bangsa Indonesia pada umumnya. Amin.

No comments: