Akademisi
yang Tidak Intelek
Oleh:
Moh Khairul Anwar
Setiap
bentuk perekrutan anggota baru seakan-akan pemberian penekanan lebih besar
terhadap pembentukan mental sudah menjadi keharusan. Baik menggunakan cara yang eksplisit atau pun inklusif. Dengan
maksud agar calon anggota baru tersebut mempunyai mental yang sejalan dengan
visi misi organisasi atau instansinya.
Dengan
pemahaman yang sama, proses perekrutan dalam perguruan tinggi pun tidak
terlepas dari kenyataan itu. Sekalipun, tentu saja karena konteksnya berbeda
maka model yang digunakan pun tidak bisa sembarang. Dalam artian, selalu diperlukan
inovasi-inovasi untuk bisa mencapai target serta menjawab persoalan sosial politik
yang sedang dihadapi. Untuk konteks perguruan tinggi di Indonesia misalnya,
yang mana perkembangan dua aspek tersebut semakin menjenuhkan, maka dibutuhkan
penggemblengan yang lebih pada sisi kognitifnya. Seperti, dilatih mendiskusikan
persoalan yang sedang booming, baik dengan lisan ataupun tulisan.
Untuk
mencapai tujuan tersebut, perlu diterapkan metode-metode yang mempunyai
implikasi ‘aktif’ daripada melulu ‘sekedar merasakan’ (baca: pasif). Yang pada
titik ini pula, didapatkan bahwa skenario yang selama ini menyelimuti OPAK,
OSPEK atau istilah lainnya, tidak lagi terlihat nilai signifikansinya. Oleh
karena, dalam perkembangannya terkesan, dan memang yang ditakuti, tidak lagi
menjadi sekedar sebuah pilihan (metode), melainkan mengeras sebagai kemutlakan
(dalam dunia akademis dikenal dengan formalitas, yang berarti mengikat). Yang
pada gilirannya, tidak jarang menghalalkan cara-cara kekerasan.
Persoalan
selanjutnya, bagaimana mungkin praktek yang sudah biasa digunakan sejak di
sekolahan tersebut, walaupun tidak di semua sekolah, masih diterapkan lagi
untuk masuk perguruan tinggi? Yang setuju atau tidak, sudah pasti bagi semua peserta
yang mengikuti ritual tersebut tidak akan memberi pengalaman mendalam secara
merata. Apalagi, bagi yang sudah pernah mengalaminya. Dengan demikian, dapat
ditarik kesimpulan bahwa agenda besar dengan anggaran yang tidak sedikit itu
harus dilakukan secara efektif pula, serta menghasilkan sesuatu yang tidak
hanya bermanfaat bagi peserta tapi bangsa Indonesia pada umumnya. Amin.
No comments:
Post a Comment