10 May 2014

Kronologi Perjanjian Batu Tulis PDP-P dan Gerindra

Satu Jam Sia-sia di Teuku Umar
Sudah sekitar satu jam Prabowo Subianto menunggu di halaman rumah Megawati Soekarnoputri, Jalan Teuku Umar Nomor 27, Menteng, Jakarta Selatan. Namun sang tuan rumah tidak kunjung keluar menyambut kunjungan Komandan Jenderal Kopassus 1996-1998 itu.
Selembar kertas tertempel di pagar depan rumah Mega. Tulisannya berbunyi “Pada Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H Tidak Ada Open House”. Mungkin karena tulisan itu rumah presiden kelima RI tersebut, yang biasanya ramai dikunjungi simpatisan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, pada 18 Agustus 2013 alias satu hari setelah Lebaran menjadi sepi. Tradisi open house tidak digelar karena Mega dan keluarga masih berselimut duka. Taufiq Kiemas, sang suami, pada 8 Juni 2013, meninggal. Artinya, dalam suasana Lebaran itu, kepergian Taufiq belum seratus hari.
Prabowo datang untuk berhalalbihalal sekaligus melakukan komunikasi politik. Tapi tidak ada satu pun anggota keluarga Mega yang keluar untuk menemuinya. “(Kedatangan saya) dilaporkan atau tidak, beliau tidak keluar. Setelah saya menunggu cukup lama, hampir satu jam (beliau) tidak keluar, saya pulang,” ujar Prabowo kepada majalah detik.
Padahal, sore harinya, kunjungan Wakil Presiden Boediono ke rumah Mega mendapat sambutan hangat. Boediono dan Herawati, istrinya, menghabiskan waktu dengan berbincang bersama Mega, Puan Maharani, dan Muhammad Rizki Pratama.
Penolakan Mega merupakan akhir dari kongsi politik PDI Perjuangan dengan Partai Gerakan Indonesia Raya. Koalisi ini bermula saat Mega dan Prabowo menjadi pasangan calon presiden-calon wakil presiden dalam pemilihan presiden 2009. Meski kalah, koalisi PDI Perjuangan dan Gerindra berlanjut pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Dua partai ini mengusung pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama.
Gagal bertemu dengan Mega setelah Lebaran, Prabowo masih melobi kalangan dekat PDI Perjuangan agar bisa dipertemukan dengan ketua umumnya. “Saya berusaha minta waktu, sampai hari ini saya belum diterima,” tuturnya. Prabowo merasa perlu bertemu dengan Mega untuk membicarakan kelanjutan perjanjian Batu Tulis, yang ditandatangani mereka berdua. Bagi Prabowo, perjanjian itu ibarat utang yang belum dilunasi.
Mega dan Prabowo berpasangan karena situ-asi yang memaksa mereka menghadapi pemilu presiden 2009. Saat itu, PDI Perjuangan dan Gerindra merupakan dua partai politik yang paling akhir melakukan koalisi. Tujuh partai lainnya sudah menentukan koalisi. Partai Golkar berkongsi dengan Partai Hanura mengusung Jusuf Kalla dan Wiranto. Partai Demokrat berkongsi dengan Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Kebangkitan Bangsa mengusung Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.
Penentuan koalisi PDI Perjuangan-Gerindra dibuka dengan pertemuan Mega, Theo Syafei, dan Rini Suwandi dari PDI Perjuangan dengan Prabowo, Muchdi Purwoprandjono, dan Fadli Zon dari Gerindra. Mereka sepakat melakukan penjajakan koalisi. Pascapertemuan ini, PDI Perjuangan dan Gerindra langsung membicarakan materi perjanjian koalisi di Hotel Continental, Jakarta. PDI Perjuangan mengirimkan Theo Syafei, Pramono Anung, Puan Maharani, Sabam Sirait, dan Tjahjo Kumolo. Sedangkan Gerindra mengirimkan Hashim Djojohadikusumo, Muchdi Purwoprandjono, Mayjen Edi Budianto, dan Martin Hutabarat.
Mereka sepakat untuk membentuk tim kecil untuk merumuskan klausul perjanjian koalisi. Perumusan ini berjalan alot. Prabowo berkukuh duduk sebagai capres walaupun perolehan suara partainya kecil. Alasannya, elektabilitasnya lebih tinggi dibanding Mega. Namun PDI Perjuangan merasa perolehan suara Gerindra terlalu kecil sehingga menilai Prabowo lebih laikduduk sebagai cawapres mendampingi Mega.
Perolehan suara PDI Perjuangan dalam pemilu legislatif 2009 sebesar 14,6 persen, sedangkan Partai Gerindra 4,9 persen. Adapun ambang batas pengajuan capres dan cawapres adalah 20 persen perolehan suara.
Pada 15 Mei 2009, pembicaraan kesepakatan dilakukan di Istana Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat. Kedua partai menyetujui tujuh poin kesepakatan kerja sama. Hari itu adalah sehari sebelum tenggat pendaftaran nama pasangan capres-cawapres di Komisi Pemilihan Umum. Prabowo setuju duduk sebagai cawapres mendampingi Mega, tapi ia memberikan persyaratan, yakni Mega mendukung Prabowo sebagai capres pada Pemilu 2014. Syarat ini menjadi klausul terakhir kesepakatan koalisi PDI Perjuangan-Gerindra.
Menjelang tengah malam, pasangan Mega-Prabowo diumumkan di rumah Mega, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Selatan. Nah, seusai pengumuman itu, perjanjian diteken. “Jadi ditandatanganinya di Teuku Umar,” kata Prabowo. “Ditandatangani pakai bolpoin saya,” Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menambahkan.
Klausul inilah yang membuat Prabowo tidak ikhlas mengakhiri kongsi politik PDI Perjuangan-Gerindra. Perjanjian Batu Tulis mengikatMega untuk mendukung Prabowo sebagai capres pada Pemilu 2014, sehingga kongsi tidak boleh pecah sebelum 2014. Apalagi kongsi ini berhasil membuat kedua partai merajai DKI Jakarta dalam pemilihan gubernur 2010. Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, yang diusung kedua partai itu, mengalahkan koalisi tujuh parpol lainnya dalam putaran kedua pemilihan gubernur. Prabowo mengaku berkorban cukup banyak untuk mendukung kampanye Jokowi-Ahok. Ia membujuk Mega agar mau memboyong Jokowi dari Surakarta ke Jakarta. Jokowi merupakan kader PDI Perjuangan di Jawa Tengah.
Ia juga menyebutkan merogoh kocek sekitarRp 60 miliar untuk melumasi mesin politik. Uang ini digunakan untuk menggerakkan tim sukses dan membiayai kampanye Jokowi-Ahok di Jakarta. “Dengan ikhlas, tanpa minta imbalan, tanpa mahar politik. Ya, itulah riwayatnya,” tutur Prabowo.Tapi malang bagi Prabowo. Tanpa berbicara dengan dirinya, PDI Perjuangan justru menggadang-gadang Jokowi sebagai capres 2014.
Pada 14 Maret 2014, deklarasi dilakukan serentak oleh Jokowi, yang tengah bertandang ke kompleks Rumah Pitung di Marunda, Jakarta Utara, dan pengurus Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan di kantor DPP, Jalan Lenteng Agung Nomor 99, Jakarta Selatan. Prabowo harus menelan kekecewaan, tapi ia tidak dapat berbuat banyak. PDI Perjuangan memiliki aturan pengusungan capres sesuai dengan mekanisme partai. Menggunakan alasan itu, Partai Banteng bisa saja memutus kongsi dengan Gerindra.
“Kalau Anda manusia dan berada di pihak saya, bagaimana? Ya, pikirkan saja. Saya tidak mengerti apa salah saya, saya menghormati beliau (Mega),” Prabowo mengeluh. Kekecewaannya pun menumpuk. Ia kesal Mega mengingkari perjanjian Batu Tulis. Lebih kesal lagi, Mega lebih memilih Jokowi, “anak bawang” yang dibawanya dari Solo ke Jakarta.
Prabowo mengaku sebenarnya meragukan loyalitas Jokowi. Pasalnya, Jokowi tidak pernah berterima kasih sejak mendapat dukungan penuh dari Prabowo, baik secara politik maupun pendanaan. “Toto kromo-nya itu tidak bagus. Jokowi tidak ucapkan terima kasih sama sekali,” ujar Prabowo.
Amarah Prabowo tidak dapat disembunyikan. Ia menggunakan pengingkaran perjanjian Batu Tulis sebagai serangan dalam kampanye pemilu legislatif. Berulang kali ia berteriak mengenai pemimpin mencla-mencle, capres boneka, dan pemimpin pembohong (lihat infografis). Selain itu, sehari pascadeklarasi pencalonan Jokowi oleh PDI Perjuangan, perjanjian Batu Tulis beredar melalui media sosial. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengaku perjanjian yang beredar di media sosial itu memang dokumen asli. Namun ia tidak tahu siapa yang mengunggahnya ke dunia maya.
PDI Perjuangan sendiri tidak mau ambil pusing meladeni Prabowo. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo menganggap perjanjian Batu Tulis hangus semenjak pasangan Mega-Prabowo tidak berhasil memenangi pilpres 2009. Klausul perjanjian disusun secara berjenjang. Jika klausul pertama tidak dapat dicapai, koalisi bubar. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari, pun mengakui, selama duduk di DPR, PDI Perjuangan dan Gerindra tidak selalu berkongsi. Perbedaan di antara kedua fraksi masih terjadi seperti laiknya tak ada kongsi politik, sehingga aneh jika Prabowo menagih klausul dukungan capres 2014.
Partai berlogo banteng moncong putih itu pun membiarkan Prabowo mencak-mencak di panggung kampanye. Mereka menganggap aksi itu sebagai atraksi politik pada masa kampanye saja. “Kita sabarlah. Selama ini kita mengkritik orang, sekarang kita banyak sabarlah,” ucap Ketua DPP PDI Perjuangan Maruarar Sirait.
Jokowi yang diserang Prabowo kalem saja. Menanggapi sindiran, capres PDI Perjuangan itu menganjurkan agar kampanye dilakukan secara sopan. Ia tidak merasa sebagai capres boneka ataupun pemimpin yang mencla-mencle. “Saya tidak punya boneka,” kata Jokowi. Diungkit-ungkit soal utang jasa kepada Pra-bowo saat pemilihan gubernur, Jokowi menegaskan, yang membawanya ke Jakarta adalah Mega dan PDI Perjuangan. Mega juga pernah memberi klarifikasi yang sama. Namun Jokowi tidak berkeberatan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantunya, tidak terkecuali kepada Prabowo. “Terima kasih kepada Pak Prabowo. Terima kasih semua,” kata Jokowi.

Amarah di Pondok Indah
Diskusi di rumah Hashim Djojohadikusumo di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, tiba-tiba beku. Lima pemimpin partai politik Islam, Partai Amanat Nasional dan Partai Persatuan Pembangunan, diam terpaku di meja setelah menyampaikan kesimpulan. Di depan mereka, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto memasang muka merah padam. Amarahnya meledak.
Pada 28 Mei 2009, tiga hari setelah pengumuman rekapitulasi suara pemilu legislatif, mereka berdiskusi serius tentang kemungkinan koalisi. Hasilnya, kongsi politik Partai Gerindra, PAN, dan PPP tidak dapat dilanjutkan.
PAN diwakili oleh Soetrisno Bachir dan Totok Daryanto. PPP diwakili oleh Suryadharma Ali, Suharso Monoarfa, dan Hasrul Azwar. Sedangkan tuan rumahnya adalah Hashim, adik Prabowo. Ia mewakili Partai Gerindra bersama Prabowo dan Bambang Kristiono.
Sebelumnya, mereka duduk meriung di ruang tamu. Suryadharma dan Soetrisno berada di sebelah kiri Prabowo. Satu persatu para tamu berusaha memaparkan kegagalan rencana koalisi yang akan dibangun. Mereka menyebutnya Koalisi Nusantara. Tiga partai ini sepakat mengusung Prabowo sebagai calon presiden. Namun suara mereka tidak cukup untuk mengajukan calon presiden. PAN memperoleh 46 kursi,PPP mendapatkan 38 kursi, sementara Gerindra sendiri hanya 26 kursi. Total suara 110. Padahal ambang batas pengajuan capres adalah 112 suara.
Prabowo tidak puas terhadap penjelasan calon kawan koalisinya itu. Emosinya mulai meninggi. Menurut sumber majalah detik, bekas menantu Soeharto itu marah besar. Dia meninggalkan ruang pertemuan. Hashim, yang duduk di seberang Prabowo, akhirnya berdiri menyusul untuk menenangkan abangnya itu.
Menurut Sekretaris Jenderal PPP Romahurmuziy, ketua umumnya itu mengaku dag-dig-dug menghadapi amarah mantan Komandan Jenderal Kopassus tersebut. Kemarahan Prabowo benar-benar berada di puncak. Ambisinya menjadi capres rontok.
Totok Daryanto membenarkan adanya pertemuan itu. Tapi dia membantah anggapan Prabowo menunjukkan amarahnya kepada tamu. “Saya agak lupa persisnya, tapi seingat saya semua berakhir dengan baik,” ujar Totok kepada majalah detik. Namun masa berlalu, tragedi amarah Prabowo di Pondok Indah itu sudah dilupakan. Minggu, 23 Maret 2014, Suryadharma, Djan Faridz, dan KH Iskandar Nur menghadiri kampanye akbar Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Mereka bertiga mengenakan jas hijau lengkap dengan lambang Ka’bah.
Ketiganya berdiri satu panggung dengan Prabowo dikepung barisan simpatisan Gerindra. Suryadharma berorasi setelah Prabowo menskors pidatonya. Prabowo memberi kesempatan kepada Suryadharma, sebab para politikus PPP itu akan segera pergi dari GBK untuk acara lain. “Prabowo nantinya adalah presiden para petani, presiden para nelayan, presiden kaum wong cilik,” ucap Suryadharma disambut sorak simpatisan Gerindra.
Prabowo dan Suryadharma kembali saling dukung setelah gagal membangun koalisi pada 2009. Tapi tidak semua petinggi PPP bisa berdamai dengan ingatan buruk amarah Prabowo. Wakil Ketua PPP Suharso Monoarfa mengatakan Suryadharma tidak pernah berkomunikasi dengan pengurus partai lainnya terkait kehadirannya dalam kampanye Partai Gerindra. “Itu move pribadi,” ujar Suharso. Dia pun menuding Suryadharma berambisi menjadi calon wakil presiden bagi Prabowo. Mantan Menteri Perumahan Rakyat itu menuturkan Musyawarah Kerja Nasional PPP di Bandung pada 2014 menyebutkan enam nama tokoh yang layak diusung menjadi capres atau cawapres, yakni Joko Widodo, Isran Noor, Din Syamsuddin, Jimly Asshiddiqie, Jusuf Kalla, dan Khofifah Indar Parawansa. “Nama Prabowo tidak masuk tangkapan radar kami,” kata Suharso.

Sumber: Majalah Detik Edisi 122, 31 Maret-6 April 2014.

No comments: