Oleh: Moh Khairul
Anwar
![]() |
| Mahasiswa Aksi Damai |
Mahasiswa sebagai kaum terdidik, seharusnya menjadi pencerah dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi, realitanya yang sekarang terjadi malah
sebaliknya, mahasiswa kian terperosok dalam lorong zaman yang amoral
(pragmatis).
Jelas, bagi masyarakat umum, kondisi tersebut sangat diresahkan.
Tidak hanya didasarkan atas kondisi sosial yang mengarah pada hilangnya
pegangan hidupnya, akan tetapi pemerintah dan yang diperintah pun semakin sulit
ditemukan garis pengubungnya. Dan tentu saja, untuk mengatasi persoalan
tersebut, adalah bergantung kepada kaum terdidik dalam mempertegas kembali
makna kemanusiaan yang adil dan beradab.
Berbicara masalah keadilan dan keadaban pada negara bangsa yang
kita cintai ini, memang terasa berat untuk kita mengatakannya saat ini.
Mengingat, egoisme kelompok bisa dibilang masih mengkungkung bangsa yang
sejatinya tidak akan terjadi kalau kita menjiwai betul amanah pancasila. Tidak
terkecuali, lemahnya penjiwaan itupun bisa kita simpulkan juga melanda generasi
muda, dengan terus ditemukannya yang menjadi budak minuman atau obat terlarang.
Maka, apa akibat terbesarnya? Kalaupun sampai saat ini kita masih
kokoh meyakini, bahwa mahasiswa bertugas mengontrol kinerja pemerintah, hanya
saja kalau pola hidupnya masih sulit dibedakan dengan pemerintah (terutama DPR)
yang cenderung individualistik, maka jangan harap teriakan-teriakan yang sering
mengaung di jalan-jalan akan didengarkan. Logikanya sederhana, kalau maling
teriak maling hanya akan menjadi bahan tertawaan. Begitu pun, mahasiswa yang
gemar berretorika mengecam DPR di mana memiliki kegemaran serupa, maka akan
ditanggapi tidak lebih dari kata-kata pula.
Namun, tentu saja tidak akan satu pun dari kita menyetujui kalau
dikatakan maling yang selalu meneriaki maling pula. Karena, kita adalah
mahasiswa yang mempunyai idealisme mengatasi idealisme relatifnya DPR. Dan
biaya hidup yang kita pakai pun tidak datang cuma-cuma, tetapi keringat orang
tualah yang melahirkannya. Berbeda dengan DPR yang memang sudah ada
anggarannya, sehingga lebih besar kesempatannya untuk berfoya-foya. Terlebih
lagi, kita adalah kaum terdidik, sehingga segala tingkah laku harus didasarkan atas
logika. Oleh karenanya, mahasiswa lebih memungkinkan untuk menciptakan manusia
yang adil dan beradab.
