24 May 2011

Mahasiswa dan Pragmatisme

Oleh: Moh Khairul Anwar
Mahasiswa Melakukan Aksi Damai
Mahasiswa Aksi Damai
Mahasiswa sebagai kaum terdidik, seharusnya menjadi pencerah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tapi, realitanya yang sekarang terjadi malah sebaliknya, mahasiswa kian terperosok dalam lorong zaman yang amoral (pragmatis).
Jelas, bagi masyarakat umum, kondisi tersebut sangat diresahkan. Tidak hanya didasarkan atas kondisi sosial yang mengarah pada hilangnya pegangan hidupnya, akan tetapi pemerintah dan yang diperintah pun semakin sulit ditemukan garis pengubungnya. Dan tentu saja, untuk mengatasi persoalan tersebut, adalah bergantung kepada kaum terdidik dalam mempertegas kembali makna kemanusiaan yang adil dan beradab.
Berbicara masalah keadilan dan keadaban pada negara bangsa yang kita cintai ini, memang terasa berat untuk kita mengatakannya saat ini. Mengingat, egoisme kelompok bisa dibilang masih mengkungkung bangsa yang sejatinya tidak akan terjadi kalau kita menjiwai betul amanah pancasila. Tidak terkecuali, lemahnya penjiwaan itupun bisa kita simpulkan juga melanda generasi muda, dengan terus ditemukannya yang menjadi budak minuman atau obat terlarang.
Maka, apa akibat terbesarnya? Kalaupun sampai saat ini kita masih kokoh meyakini, bahwa mahasiswa bertugas mengontrol kinerja pemerintah, hanya saja kalau pola hidupnya masih sulit dibedakan dengan pemerintah (terutama DPR) yang cenderung individualistik, maka jangan harap teriakan-teriakan yang sering mengaung di jalan-jalan akan didengarkan. Logikanya sederhana, kalau maling teriak maling hanya akan menjadi bahan tertawaan. Begitu pun, mahasiswa yang gemar berretorika mengecam DPR di mana memiliki kegemaran serupa, maka akan ditanggapi tidak lebih dari kata-kata pula.   
Namun, tentu saja tidak akan satu pun dari kita menyetujui kalau dikatakan maling yang selalu meneriaki maling pula. Karena, kita adalah mahasiswa yang mempunyai idealisme mengatasi idealisme relatifnya DPR. Dan biaya hidup yang kita pakai pun tidak datang cuma-cuma, tetapi keringat orang tualah yang melahirkannya. Berbeda dengan DPR yang memang sudah ada anggarannya, sehingga lebih besar kesempatannya untuk berfoya-foya. Terlebih lagi, kita adalah kaum terdidik, sehingga segala tingkah laku harus didasarkan atas logika. Oleh karenanya, mahasiswa lebih memungkinkan untuk menciptakan manusia yang adil dan beradab.