“Dakwah dan Komunikasi Politik”
Oleh:
Moh Khairul Anwar
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia yang menurut Aristoteles adalah Zoon Politicon tidak akan pernah bisa berdiri sendiri tanpa berdampingan dengan manusia lainnya. Apakah bertujuan agar mendapat pengakuan sebagai entitas yang hidup, minta pertolongan, ataupun sebagai tempat share dikala dilanda kegelisahan.
Dan lebih lanjut, manusia cenderung memproyeksikan segala gagasannya kepada orang lain. Dengan maksud mempertegas identitasnya. Yang pada akhirnya, terjadilah saling tukar pikiran-atau lebih tepatnya berlomba-lomba satu sama lain dalam mencapai kebenaran dominan (mutlak). Atau mengusahakan agar orang lain mengakui akan kebenaran yang kita miliki, sehingga secara otomatis status kita pun lebih tinggi dibandingkan lainnya. Walaupun, dalam batas-batas tertentu harus dipahami bahwa kebenaran tidak boleh dipaksakan, melainkan murni kesimpulan dari hasil diskusi.
Pada titik itulah, tanpa disadari bahwa seseorang sedang melakukan dakwah (selama materinya bernilai kebaikan universal). Yang selanjutnya, akan kami bahas dalam makalah kali ini. Dengan harapan, semoga pemaparan kami nantinya akan membuka ruang berpikir kita lebih luas dalam memahami unsur-unsur dakwah, serta unsur-unsur dalam komunikasi politik (minimal) yang terjadi di negeri tercinta kita ini.
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian Dakwah dan Komunikasi Politik (Secara Etimologis dan Terminologis)
A.1. Definisi Dakwah
Secara etimologis, kata “dakwah” berasal dari bahasa Arab yang mempunyai arti: panggilan, ajakan, dan seruan. Sedangkan dalam ilmu tata bahasa Arab, kata dakwah adalah bentuk dari isim masdar (kata benda) yang berasal dari kata kerja : da’a, yad’u, da’wah, yang berarti menyeru, memanggil, mengajak.1
Sementara jika dakwah ditinjau secara terminologis, para pengkaji mempunyai definisi dakwah sendiri-sendiri dengan menggunakan kacamata relegius, sosiologis, politik, psikologis, dan semacamnya.
- Menurut Amin Rais, dakwah adalah gerakan simultan dalam berbagai bidang kehidupan untuk mengubah status quo agar nilai-nilai Islam memperoleh kesempatan untuk tumbuh subur demi kebahagiaan seluruh umat manusia.2
- Menurut Amrullah Ahmad .ed., dakwah Islam merupakan aktualisasi Imani (Teologis) yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa, berpikir, bersikap, dan bertindak manusia pada tataran kegiatan individual dan sosio kultural dalam rangka mengesahkan terwujudnya ajaran Islam dalam semua segi kehidupan dengan cara tertentu.
- Sedangkan menurut penulis sendiri, dakwah adalah proses naturalisasi akal dan rasa manusia tanpa terkecuali yang mana telah diterpa berbagai macam tradisi di sekitarnya (yang kebanyakan lebih berorientasi pada kenikmatan duniawi semata serta mengabaikan kehidupan akhirat), dengan tujuan akhirnya supaya tetap sejalan dengan ajaran islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin.
A.2. Definisi Komunikasi Politik
Komunikasi Politik (Political Communication) merupakan “gabungan” dua disiplin keilmuan yang berbeda namun mempunyai kaitan sangat erat, yakni Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik. Oleh karena itu, sebelum memberi pengertian secara integralistik di sini akan dibahas satu persatu dari dua disiplin tersebut.
Secara gamblang, Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, perilaku baik langsung maupun tidak langsung.
Para pakar komunikasi menawarkan definisi komunikasi secara variatif, antara lain:
- “Who says what in which channel to whom and with what effects – Siapa mengatakan apa melalui saluran mana kepada siapa dan dengan pengaruh apa” (Harold Lasswell).
- “Saling berbagi informasi, gagasan, atau sikap” (Wilbur Schramm).
Para pakar tersebut, membahas pula tetang fungsi, jenis, komponen, dan proses komunikasi secara umum. Unsur-unsur komunikasi yaitu Komunikator/Sender (Pengirim pesan), Encoding (Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan), Message (Pesan), Media/Channel (Saluran), Decoding (Proses pemecahan/penerjemahan simbol-simbol), Komunikan/eceiver (Penerima pesan), dan Feed Back/Effect (Umpan balik, respon, atau pengaruh).
Sementara, tentang definisi politik pun para pakar mengartikannya dari sudut pandang masing-masing. Yang gamblangnya, bisa dikatakan Politik adalah kajian tentang kekuasaan (power) atau seni memerintah.
- “ho gets what, when, and how” (Harold Laswell),
- “Authoritative allocation of values – alokasi nilai-nilai secara otoritatif/sah/sesuai dengan kewenangan” (David Easton),
- “Kekuasaan dan pemegang kekuasaan” (G.E.G Catlin), “Pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk masyarakat seluruhnya” (Joyce Mitchell),
- “Seni memerintah”; “Penggunaan pengaruh, perjuangan kekuasaan, dan persaingan alokasi nilai-nilai dalam masyarakat (Kamus Analisa Politik, Jack Plano dkk.),
- “Proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara; Seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional; Hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara; Kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat; Segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik (Wikipedia).
- Bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (sistem Negara) yang menyangkut proses menentuan tujuan dari sistem tersebut serta melaksanakannya; pengambilan keputusan mengenai apakah yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi antara beberapat alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan yang dipilih (Prof Mirian Budiardjo).3
Dari berbagai pendapat di atas, secara sederhana dapat disimpulkan, komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”.
- Kaitan Dakwah dan Komunikasi Politik
Kalau di atas dikatakan bahwa dakwah adalah semacam gerakan simultan yang berusaha untuk menyelaraskan kondisi yang murni dilahirkan dari tradisi masyarakat dengan ajaran-ajaran islam. Sedangkan, komunikasi politik adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, yang berkaitan dengan kekuasaan pemerintah. Maka, dapat dikatakan bahwa dakwah bisa saja mengandung komunikasi politik, tetapi belum tentu komunikasi politik mengandung unsur dakwah.
Dengan kata lain, secara praktek komunikasi politik memang jauh kaitannya dengan dakwah, baik di Indonesia ataupun di Negara-negara lainnya. Politik bagi kebanyakan orang selalu saja identik dengan kekuasaan atau memperebutkan kekuasaan. Yang para aktornya seringkali melakukan reduksi terhadap etika pada lazimnya. Tidak terkecuali, dengan mengabaikan aspirasi rakyat. Sehingga, tidak ayal bila kemudian public sedikit acuh terhadap tindakan-tindakan yang berbau politik.
Namun tentu saja, public tidak secara serta merta mampu menangkap realitas tersebut. Public secara perlahan bisa memahami implementasi politik dengan cara belajar dan kemudian mampu menangkap simbol-simbol dari tindakan politik. Hal ini sejalan sebagaimana dikatakan George Herbert Mead, bahwa pada hakikatnya kegiatan itu sosial dan, karena sosial, dipelajari. Kehidupan sosial terdiri atas setiap orang yang saling memperhitungkan satu sama lain, memastikan maksud orang lain, dan menanggapi berdasarkan maksud yang dipersepsi. Bahkan, menurutnya, manusia tidak hanya menanggapi secara langsung tindakan orang lain. Akan tetapi, mereka menanggapi apa yang mereka percaya sebagai maksud orang lain, nilai mereka tentang maksud ini, dan apa yang mereka harapkan merupakan perilaku orang lain yang disengaja di kemudian hari.4
Berdasarkan pernyataan itulah, memberi penyadaran kepada kita bahwa politik memang berkecenderungan membawa seseorang kepada pengabaian etika, sebagaimana diajarkan dalam agama islam. Sehingga sangat kecil kemungkinannya berpolitik sambil berdakwah. Yang ada, justru dakwah (label agama) hanya dijadikan dalih untuk seseorang bisa mencapai tujuan politiknya. Walaupun, tentu saja tidak berarti tertutup kemungkinan bahwa terdapat seseorang yang nantinya akan menjadikan politik sebagai jembatan untuk berdakwah.
Unsur-Unsur Dakwah dan Komunikasi Politik
Komponen dakwah sebenarnya identik dengan komunikasi, yaitu: da’i atau juru dakwah (komunikator, sender, source), mad’u (komunikan, receiver, penerima, objek), pesan (message, yakni materi keislaman/nilai-nilai atau ajaran Islam), dan efek atau feedback (dalam dakwah, efek yang diharapkan berupa iman dan amal saleh/takwa).5
Namun, karena dakwah tidak seperti jenis komunikasi lainnya, maka terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi telebih dahulu oleh sang komunikator. Pertama, Menguasai isi kandungan al-Quran dan sunah Rasul serta hal-hal yang berhubungan dengan tugas-tugas dakwah. Kedua, Menguasai ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan tugas-tugas dakwah. Ketiga, Takwa kepada Allah SWT.6
Sedangkan, unsur-unsur komunikasi yaitu Komunikator/Sender (Pengirim pesan), Encoding (Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan), Message (Pesan), Media/Channel (Saluran), Decoding (Proses pemecahan/penerjemahan simbol-simbol), Komunikan/eceiver (Penerima pesan), dan Feed Back/Effect (Umpan balik, respon, atau pengaruh).7
BAB III
PENUTUP
Model komunikasi atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam bisa kita lihat dalam Al-Quran, seperti: (1) Qaulan Sadida–perkataan yang benar alias tidak dusta (QS. 4:9); (2) Qaulan Baligha–ucapan yang lugas, efektif, dan tidak berbelit-belit (QS An-Nissa :63); (3) Qulan Ma’rufa–perkataan yang baik, santun, dan tidak kasar (QS An-Nissa:5m QS. Al-Baqarah:235, 263, Al-Ahzab: 32); (4) Qaulan Karima–kata-kata yang mulia dan penuh penghormatan (QS. Al-Isra: 23); (5) Qaulan Layinan–ucapan yang lemah-lembut menyentuh hati (QS. Thaha: 44); dan (6) Qaulan Maysura–ucapan yang menyenangkan dan tidak menyinggung (QS. Al-Isra: 28).
Dengan demikian, bisa kita lihat komunikasi politik yang memiliki unsur dakwah dan komunikasi politik yang lebih dari bombastis belaka. Orang berdakwah sudah pasti akan langsung menuju inti persoalan, berbeda dengan komunikaor politik yang cenderung berbasa-basi dengan tujuan mendapatkan simpati.
- Masdar Farid Mas’udi, Dakwah Membela Kepentingan Siapa (Jakarta: P3M Pesantren, 1987.
- Amin Rais,Cakrawala Islam (Bandung,: Mizan 1991), hal 26.
- Prof Mirian Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2006. Hal:88.
- Dan Nimmo, Komunikadi politik Khalayak dan Efek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung 2006.
- Didownload dari http://www.romeltea.com/wp-content/themes/red-carpet-magazine-v1.0/favicon.ico, Komunikasi Dakwah: Komunikasi Persuasif, on Saturday, June 04, 2011
- Mashur Amin, Metode Dakwah Islam Dan Beberapa Keputusan Pembangunan Tentang Aktivitas Keagamaan ( Yogya: Sumbangsih, 1980), hal. 22-24.
- Didownload dari http://cyberinternationalrelations.blogspot.com/favicon.ico, Komunikasi Politik, pada Hari Sabtu 04 Juni 2011.
Daftar Pustaka
- Masdar Farid Mas’udi, Dakwah Membela Kepentingan Siapa (Jakarta: P3M Pesantren, 1987.
- Amin Rais,Cakrawala Islam (Bandung,: Mizan 1991), hal 26.
- Prof Mirian Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2006. Hal:88.
- Dan Nimmo, Komunikadi politik Khalayak dan Efek, PT Remaja Rosdakarya, Bandung 2006.
- http://www.romeltea.com/wp-content/themes/red-carpet-magazine-v1.0/favicon.ico, Komunikasi Dakwah: Komunikasi Persuasif, on Saturday, June 04, 2011
- M. Mashur Amin, Metode Dakwah Islam Dan Beberapa Keputusan Pembangunan Tentang Aktivitas Keagamaan ( Yogya: Sumbangsih, 1980), hal. 22-24.
- http://cyberinternationalrelations.blogspot.com/favicon.ico, Komunikasi Politik, pada Hari Sabtu 04 Juni 2011.