Belakangan ini, kerap kali kita mendengar
istilah ulama yang dilekatkan kepada banyak orang. Dari siapa dan kepada siapa
tanpa kategori yang pasti. Dengan sandaran bahwa orang yang memiliki banyak
pengikut dan selalu memakai peci putih dan surban sudah tentu memiliki ilmu
agama yang luas. Jelas itu simplikasi menyesatkan.
Ulama adalah suatu istilah yang melekat erat
bagi umat Islam. Sebagai sosok pemandu dalam melestarikan ajaran Islam murni
yang berdasar pada al-Quran dan Hadist. Serta tetap memuluskan jalan
interpretasi dengan penuh kesadaran bahwa pikiran cenderung liar. Pikiran
membutuhkan hati, supaya ketajaman analisisnya lebih sempurna.
Kajian tentang siapa ulama dengan segala
kriterianya tentu saja bukanlah tema baru. Hadist nabi hingga para intelektual
muslim sudah menegaskan tentang hal ini secara komprehensif. Dan saya pikir
tidak ada celah untuk merekonstruksi apalagi mengkritisi kajian tersebut. Sebab
menjadi ulama bukan dengan cara kompetisi seperti yang disiarkan secara live di
televisi.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Quraish
Shihab, ulama ialah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat
Allah, baik yang bersifat kauniyah maupun Quraniyah, dan mengantarnya kepada
pengetahuan tentang kebenaran Allah, takwa, dan khasysyah (takut) kepada-Nya.
Pendapat ini bisa dikatakan sudah merepresentasikan semua tafsir tentang ulama.
Dengan kata lain, sesorang bisa dikatakan ulama
tidak hanya melihat keilmuannya, tidak pula karena rajin ibadah, bahkan
meskipun dia banyak pengikutnya. Bilamana semua itu tidak mengantarkannya untuk
takut kepada Allah dan bersikap sesuai ajaran Islam, maka jangan sekali-kali
mengaku sebagai ulama.
Predikat ulama bukan tentang "mengakui dan
diakui", akan tetapi "memberi dan diberi". Konon pernah ada istilah
"semakin tinggi ilmu seseorang maka justru dia akan semakin bodoh".
Ketika pengetahuan seseorang terus bertambah-sehingga daya kritisnya otomatis
kian tajam-maka setiap akan bertindak semestinya berasas manfaat. Sehingga
siapapun yang mengaku sebagai ulama, sementara wataknya berseberangan, dapat
dipastikan itu tidak lebih dari hayalan mereka semata.
Sehingga wajar kiranya ketika dikatakan bahwa
ulama adalah pewaris para nabi. Karena hanya mereka yang memiliki tingkat
keikhlasan diatas manusia pada umumnya, dalam mana menjalankan segala perintah
dan menjauhi segala larangannya. Tutur katanya santun dan setiap yang
dikatakannya bernilai pelajaran, terlepas dari siapapun lawan bicaranya.
No comments:
Post a Comment