14 January 2017

Mempertegas Istilah Ulama'

Belakangan ini, kerap kali kita mendengar istilah ulama yang dilekatkan kepada banyak orang. Dari siapa dan kepada siapa tanpa kategori yang pasti. Dengan sandaran bahwa orang yang memiliki banyak pengikut dan selalu memakai peci putih dan surban sudah tentu memiliki ilmu agama yang luas. Jelas itu simplikasi menyesatkan.
Ulama adalah suatu istilah yang melekat erat bagi umat Islam. Sebagai sosok pemandu dalam melestarikan ajaran Islam murni yang berdasar pada al-Quran dan Hadist. Serta tetap memuluskan jalan interpretasi dengan penuh kesadaran bahwa pikiran cenderung liar. Pikiran membutuhkan hati, supaya ketajaman analisisnya lebih sempurna.
Kajian tentang siapa ulama dengan segala kriterianya tentu saja bukanlah tema baru. Hadist nabi hingga para intelektual muslim sudah menegaskan tentang hal ini secara komprehensif. Dan saya pikir tidak ada celah untuk merekonstruksi apalagi mengkritisi kajian tersebut. Sebab menjadi ulama bukan dengan cara kompetisi seperti yang disiarkan secara live di televisi.
Seperti yang pernah diungkapkan oleh Quraish Shihab, ulama ialah orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyah maupun Quraniyah, dan mengantarnya kepada pengetahuan tentang kebenaran Allah, takwa, dan khasysyah (takut) kepada-Nya. Pendapat ini bisa dikatakan sudah merepresentasikan semua tafsir tentang ulama.
Dengan kata lain, sesorang bisa dikatakan ulama tidak hanya melihat keilmuannya, tidak pula karena rajin ibadah, bahkan meskipun dia banyak pengikutnya. Bilamana semua itu tidak mengantarkannya untuk takut kepada Allah dan bersikap sesuai ajaran Islam, maka jangan sekali-kali mengaku sebagai ulama.
Predikat ulama bukan tentang "mengakui dan diakui", akan tetapi "memberi dan diberi". Konon pernah ada istilah "semakin tinggi ilmu seseorang maka justru dia akan semakin bodoh". Ketika pengetahuan seseorang terus bertambah-sehingga daya kritisnya otomatis kian tajam-maka setiap akan bertindak semestinya berasas manfaat. Sehingga siapapun yang mengaku sebagai ulama, sementara wataknya berseberangan, dapat dipastikan itu tidak lebih dari hayalan mereka semata.
Sehingga wajar kiranya ketika dikatakan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Karena hanya mereka yang memiliki tingkat keikhlasan diatas manusia pada umumnya, dalam mana menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya. Tutur katanya santun dan setiap yang dikatakannya bernilai pelajaran, terlepas dari siapapun lawan bicaranya.



No comments: