DEMORALISASI BANGSA
Sejenak mungkin kita harus merenungi nasib bangsa (khususnya generasi) ke depan. Mengingat sudah semakin parahnya perilaku elit yang mestinya menjadi teladan untuk mengobarkan semangat generasi muda. Maraknya koruptor yang terus membudaya di setiap relasi kekuasaan, praktek asusila yang dilakukan para tokoh, dan dikultusnya materi (kekuasaan) adalah tema diskusi yang harus dilakukan seminar di mana tidak cukup sehari.
Meski hal tersebut sudah merupakan epidemis sebagai tanda menurunnya kesadaran moralitas manusia di jagad raya ini, pemerintah indonesia harus memberikan perhatian lebih untuk mengatasinya. Walau memang belum ada prediksi-selain Islam-bahwa hari esok akan terus dan seterusnya lebih memprihatinkan dari kemarin, namun kita harus mengakui bahwa menciptakan sesuatu yang lebih baik bukan perkara mudah.
Lihat saja misalnya, kalau dulunya mungkin menjadi sesuatu yang tabu untuk kita dengar atas beredarnya video mesum para elit, sekarang hal ini sudah permisif. Dari orang tua yang masih sangat awam (dengan maksud tidak bersekolah dan berpikiran ala “bagus jelek”). Sampai anak-anak di bawah umur sudah akrab dengan berita seperti demikian. Ditambah lagi dengan banyaknya para kakek-kakek tak lagi kuat menahan nafsunya yang spontan merasa seperti remaja, mencabuli anak kecil. Kondisi sosial seperti ini mestinya disikapi secara serius oleh semua kalangan yang masih peduli terhadap masa depan bangsa.
Terlepas dari itu, sampai sekarang pemberitaan media masih terus mengupdate skandal artis ngetop di setiap harinya. Begitu juga wacana yang berkembang, bukan lagi fokus pada sifat dan efek dari perilaku asusila tersebut, tapi beralih pada adakah hukum yang mampu menjeratnya. Masing-masing pengacara terus berupaya agar kliennya tidak masuk dalam jeruji besi. Padahal seharusnya, kita tidak boleh bersikap kaku terhadap hukum yang ada, guna memperoleh kebaikan bersama. Mengingat hukum kita tidak seperti Alquran yang sudah final, akan tetapi baru panduan yang masih terus membutuhkan revisi. Apalagi, walaupun indonesia negara hukum tapi secara praktis belum berjalan sebagaimana amanat pancasila. Bagaimana mungkin kita menginginkan sebagai bangsa terpuja, selama perilaku bangsanya semakin tercela.
Ada sebuah pendapat yang berkata bahwa bangsa terbaik adalah bangsa yang terus mempertahankan jati diri kebangsaannya. Termasuk dalam hal ini, selain indonsia sebagai begara yang berpenduduk muslim terbanyak, harus diingat pula akan banyaknya tokoh agama yang ikut memperjuangkan kemerdekaan. Untuk yang terakhir itu, perlu kiranya disadari adanya perjuangan untuk tidak hanya menciptakan bangsa yang mandiri tapi juga bermoral, sedangkan maksud yang tersirat dalam arti moral tersebut bukan saja dikhususkan pada persoalan politis dan hukum, melainkan etika bersosial. Dan untuk mewujudkan etika sosial tersebut sangat tergantung kepada kesadaran setiap personal dan teladan yang baik dari para tokoh elitnya (pemerintah dan semua jajarannya).
Sementara itu, di negeri ini teredapat begitu banyak para intelektual dalam ilmu agama atau sosial yang berpotensi meneruskan perjuangan para bapak bangsa. Yang pada konteks ini harus lebih dari sekedar menyibukkan diri dengan persoalan akademis, yaitu mampu menyentuh langsung eksistensi di lapagan. Dengan kata lain, mereka tidak hanya dikenal oleh para akademis pula, namun minimal masyarakat awam pernah bersentuhan dengan serpihan keilmuannya. Karena, kalau usaha ini dikategorikan sebagai dakwah pula, maka predikat da’i jangan sampai hanya melekat pada pandakwah lapangan (baca: penceramah). Baik para pelaku dakwah billisan dan bilkitabah (tulisan) harus sama-sama terjun ke masyarakat.
Oleh karena demoralisasi bangsa bukan saja disebabkan oleh moderisasi dan globalisasi yang merupkana titipan bangsa barat, tapi keengganan untuk menetralisir budaya asing tersebut serta minimnya apresiasi budaya luhur kita adalah faktor yang tidak kalah dominannya. Dengan milihat kondisi kekinian, harapan terbanyak akan diberikan kepada para kaum akdemisi, di mana mungkin satu-satunya kelompok yang masih memegang prinsip dan profesionalismenya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Golongan seperti inilah yang sebenarnya menjadi penentu nasib kita ke depan, seiring para penguasa negeri ini masih sering tergelincir dalam melaksanakan tanggung jawabnya.
Kembali ke persoalan asusila di atas, penulis merupakan salah satu orang yang sudah jenuh mendengar pemberitaannya di media. Kasus video porno ke-3 artis sudah jelas-jelas mendapat kecaman dari berbagai pihak. Namun sayangnya pihak kepolisian belum menunjukkan ketegasannya ditandai dengan mengulur-ulur vonisannya. Lalu, akankah hal ini berarti bahwa semua keterangan dari para saksi ahli belum mampu mengokohkan hukum yang ada? Naif. Itulah jawaban yang paling tepat bila prasangka tersebut benar. Lebih-lebih semua aktor di video tersebut secara tegas mengakui sebagai pelakunya alias bukan lagi rekayasa. Yang jika begitu, seharusnya pihak kepolisian sudah mampu membuat keputusan dan bukan malah masih memperpanjang tangan.
(10/07/10)
No comments:
Post a Comment