06 April 2011

Perfilman pun Terhegemoni


Perfilman pun Terhegemoni
Oleh: Moh Khairul Anwar*
 Muculnya wacana terkait akan diberlakukannya bea masuk film asing melahirkan kontroversi ditengah-tengah insan perfilman ataupun para penikmat film-film asing (terutama Hollywood).  Namun, bagi golongan yang kedua rencana tersebut merupakan sebuah ancaman karena kesempatan untuk menikmati film-film favoritnya akan mulai berkurang.
Pertanyaannya kemudian, benarkah hal tersebut perlu diresahkan? Bagi para penggemar film-film asing mungkin sah-sah saja karena merupakan gangguan atas hiburannya. Karena, secara historis film-film asing seperti Hollywood, Sinema Bollywood dan film asia lainnya sudah  diminati bangsa ini jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Belum lagi, film yang pertama kali diperkenalkan kepada khalayak Indonesia memang bukan hasil tangan produser dalam negeri (tanggal 5 Desember 1900 di Jakarta, lima tahun setelah film dan bioskop pertama lahir di Perancis).
Fakta historis tersebut menunjukkan bahwa sudah wajar bila bangsa ini dekat sekali dengan film karya luar negeri, bahkan seakan tidak berlebihan bila dibilang kesukaannya melebihi terhadap film hasil kreativitas putra dalam negeri sendiri. Walaupun, penulis pribadi tentu tidak meremehkan atas kemampuan Kang Dedy Mizwar, Mas Bram, Manoj Punjabi, Raam Punjabi dll, yang seringkali karya-karyanya mampu menyita perhatian penikmat perfilman. 
Namun, bila berbicara realitas tidak lain harus diakui bahwa film asing-yang notabene sudah sejak lama mendominasi (baca: menghegemoni)-mendepak film-film Indonesia dari wilayahnya sendiri.  Oleh karenanya, pada titik ini rencana departemen perpajakan untuk memberlakukan bea masuk untuk film asing merupakan sesuatu yang perlu diberi apresiasi. Signifikansinya, bila kondisi tersebut dibiarkan maka jangan heran bila pada akhirnya para produser dalam negeri pun terpengaruh untuk menghabiskan waktu dan perhatiannya untuk menonton film barat. Yang pada akhirnya, perfilman nasional akan semakin tak ada waktu untuk melahirkan film-film inovatif.
Ketakutan seperti inilah yang semestinya mendapatkan perhatian lebih, mengingat perfilman itupun mempunyai sejarahnya sendiri, dimana tentu saja tidak boleh dilupakan akan nilai-nilai yang menyertainya. Apakah film itu akan dijadikan sebagai sarana untuk mendemonstrasikan keberagaman kultur kita atau hanya sebagai justifikasi bahwa kita juga bisa melahirkan karya yang menarik perhatian bangsa di negara lain, tapi paling penting untuk diingat adalah bahwa ciri-ciri film bermutu ialah film yang memiliki nilai edukasi dan produktif.
Hanya masalahnya sekarang, benarkah segampang itu adanya efek konstruktif dari upaya penyegaran kembali perfilman nasional tersebut, di mana sebelumnya tidak dilakukan sosialisasi terhadap kalangan terkait? Sebelum diberi jawaban yang tergersa-gesa, baiknya kita menyatukan pemahaman bahwa di sinilah titik persoalan atas kebijakan yang cenderung mendadak dan mengejutkan tesebut.
Sebagai gambaran, siapa yang akan menyangkal saat ada orang bilang bahwa perfilman kita sarat dengan “percintaan” dan “tangisan”. Saat lahir film baru maka asumsi kita tak jauh dari “kisah percintaan siapa lagi yang diangkat?”. Sehingga, bila bukan tentang percintaan (dengan berbagai setting dan polesan cerita) seakan tak ada ide untuk melahirkan sebuah karya baru. Dan naifnya, realitas tersebut sudah sejak lama membayang-bayangi dunia perfilman negeri ini, sampai akhirnya muncul kesan bahwa itu memang menjadi ciri khas kita yang tak mungkin dirubah.
Yang dengan gambaran seperti itu, kita sudah bisa menjawab pertanyaan di atas bahwa pemberlakuan bea masuk untuk film asing agar perfilman nasional mempunyai kesempatan yang lebih luas, sama sekali tidak berdasar. Serta, bukanlah celah untuk menghentikan hegemoni oleh film asing. Akan tetapi, satu-satunya solusi yang paling tepat menurut penulis untuk saat ini adalah, pemerintah harus lebih serius lagi memperhatikan jurusan atau jurusan di perguruan tinggi yang orientasinya pada perfilman. Karena, hanya dengan pelatihan selama bertahun-tahun seperti di perguruan tinggi, akan melahirkan icon perfilman dengan karya-karya yang menakjubkan sebagaimana kita harapkan.