PEMUDA PRAGMATIS, ULAH SIAPA?
Oleh: Moh Khairul Anwar
Jauh-jauh hari sebelum abad ke-21, para penulis buku serta pemikir di seluruh dunia seakan duduk bersama untuk membicarakan agama yang menjadi candu masyarakat. Hal itu bisa dipahami, oleh karena pada masa itu keyakinan orang terhadap agama masing-masinglah yang menjadi referensi dalam praktek bersosial
Beda zaman, maka beda pula yang menjadi inti pembahasan dari para pemikir abad ini. Dengan terus dikembangkannya sistem informasi dan teknologi, perhatian dan keinginan manusiapun semakin tak bisa diarahkan. Tak terkecuali para generasi muda-yang justru menjadi icon, atau bahkan promotor dari setiap lahirnya gaya-gaya baru. Semua tergantung terhadap apa yang berguna bagi pribadi masing-masing.
Menurunnya kepedulian kita akan pendidikan (secara substansial) telah mengiris hati para pendiri bangsa ini. Bisa dibilang, kalangan tua dan kalangan muda bukan bersaing secara produktif, melainkan berbondong-bondong mengikuti jejak langkah orang barat-minus kesadaran bahwa perlu adanya tahapan-tahapan yang sistematis untuk sampai kesana. Dari sini saja, sudah tanpak persoalan besar (jika kita mengacu pada zaman orde lama).
Hanya saja, kalau kita mengklasifikasikan orang-orang yang duduk di pemerintahan sebagai kalangan tua dan para pemuda (seperti mahasiswa) serta orang-orang LSM, sama sekali tidak seimbang. Yang tua berpikiran pragmatis dan individualistik, sementara kalangan muda masih sangat idealis serta nasionalis. Walaupun pada gilirannya, golongan kedua pun sedikit banyak berpikiran sama seperti yang pertama, oleh karena jalan yang seharusnya tak lagi terakomodasi secara maksimal.
Realitas itu seharusnya menjadi otokritik bagi kita semua, apabila menginginkan generasi bangsa ini sebagai penggerak perubahan. Selain itu, tak ada yang lebih meyakinkan dan mencerahkan terkait harapan kita ke depan dibanding memperbaiki sistem pendidikan dari segala sisi. Tanpa dijalankan sistem dan kurikulum pendidikan yang baik, demokrasi yang sementara ini masih menjadi tumpuan kita semua bukan lagi menjadi sebuah “proses” melainkan hanya sebagai “dalil buta”. Dan parahnya, pemuda yang seharusnya menjadi harapan, berbalik seratus delapan puluh derajat menjadi ancaman-karena proses berpikirnya tak lagi tekontrol.