BELAJAR DARI AL-FARABI
Oleh: Moh Khairul Anwar
Sesuai dengan perkembangan zaman, mahasiswa kian dituntut keeksistensiannya dalam mewujudkan tumbuh kembangnya masyarakat yang berbudi luhur tinggi, cerdas, serta memahami mana hak dan mana kewajiban sebagai warga negara.
Begitu pula, sudah seharusnya bangsa indonesia mampu bangkit setelah cukup lama berhasil melepaskan diri dari kungkungan bangsa kolonial. Apalagi jika berkaca pada negara-negara lain yang memiliki nasib sama dalam penjajahan. Memperbaiki sistem pemerintahan, mempererat tali ikatan bangsanya dengan konsep “bhinneka tunggal ika” ataupun baju nasionalisme adalah merupakan keniscayaan bagi negara yang telah merdeka. Namun, setelah kesekian kalinya pergantian presiden ternyata keniscayaan tersebut masih sulit kita capai.
Pada kondisi yang demikian, siapakah yang mesti disalahkan? Pemerintah dengan sifat individualistiknya, atau? Bangsa ini yang selalu tidak bisa berdampingan antar satu kelompok dengan kelompok lain? Al-Farabi, yang dibilang sebagai filosof pertama dalam membangun dasar-dasar Neoplatonisme secara sistematis, mengklasifikasikan kota secara generik (negara) yang mungkin bisa menjawab persoalan tadi.
Salah satunya, yang dia sebut sebagai “negara kebodohan”, yaitu: negara kesemestian, “negara kehinaan”, “negara kebejatan”, “negara ningrat”, “negara tiranik”, dan “negara demokratis”. Untuk jenis yang terakhir, dia mengartikan sebagai sebuah negara yang di dalamnya kebebasan individual menjadi tujuan utama meskipun berujung pada pelanggaran hukum dan anarkisme. Kalau dibandingkan dengan terminologi umum, penafsiran tersebut tentunya menarik untuk dikaji oleh akademisi (khususnya mahasiswa sebagai icon pendidikan), supaya demokrasi terus dijadikan bahan diskusi yang berujung pada perbaikan sistem serta solusi atas merebaknya penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power) oleh kalangan pemerintah sendiri.
Maka, dalam rangka memperkokoh hari pendidikan nasional dan menyambut hari kebangkitan nasional, harus diakui bahwa kesalahannya terletak pada pemerintah yang cenderung mengabaikan kepentingan rakyat, serta bangsa ini yang kurang menghargai sejarah. Sehingga, pada saat seperti inilah tugas dari mahasiswa dimintai pertanggung jawabannya. Karena, jangan sampai negara ini menjadi “negara kesesatan”, sebagaimana dikatakan Al-Farabi, dimana penduduknya sebetulnya mempunyai pandangan yang benar dan perbuatan baik, tetapi kemudian menjadi mursal atau sesat. Amin.