13 February 2012

Mendahulukan Objektivitas

Akhir-akhir ini kita seringkali mendapati sebuah kebijakan yang cukup membingungkan, utamanya di ranah pendidikan. Dibilang membingungkan karena masih terlalu banyak tugas pokok yang semestinya diselesaikan terlebih dahulu, tapi sudah menambah tugas lain yang lebih berat. Sebut saja misalnya, yang saat ini cukup mem-booming,yaitu rencana nilai UN sebagai syarat masuk perguruan tinggi dan membuat makalah di Jurnal Ilmiah sebagai persyaratan lulus Program Serjana (S1).
Tujuan dari keduanya tentu disadari memang sangat berkaitan dengan akselerasi iklim pendidikan di negeri. Dan pemerintah terus mengupayakan segala cara demi mewujudkan cita-cita tersebut dengan salah satu indikasinya membuat terobosan-terobosan baru. Hanya saja, yang juga sangat disayangkan, pemerintah terkesan tidak terlalu mementingkan proses yang sistematis. Padahal, langkah semacam inilah yang selama ini justru ditunggu-tunggu oleh masyarakat akademis, bahkan bersifat sangat krusial mengingat banyaknya persoalan yang seolah mengalami pembiaran.
Pertama, menjadikan nilai UN sebagai syarat masuk perguruan tinggi di mana dengan kian mengakarnya kemelut dalam pelaksanaan UN saja pemerintah terkesan apatis, hal ini menjadi sebuah paradoksal. Sebab, apakah nilai UN seratus persen menjadi satu-satunya barometer untuk mengukur kematangan akademik siswa, sampai saat ini tidak kunjung selesai diperdebatkan. Ditambah lagi, adanya kecurangan yang seakan sudah identik dengan UN itu sendiri. Kedua, Perguruan Tinggi memiliki orientasi dan akuntabilitasi yang lebih luas dibanding hanya mengejar nilai akademik (formal). Lebih dari itu, seorang mahasiswa harus mampu melakukan penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat, melakukan kontrol sosial, menjadi corong rakyat, dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu, dulu para founding futher kita telah mengajarkan untuk memaknai segala keunikan, keserbaberagaman, etos kerja, dan prinsip hidup secara umum bangsa ini sebagai sebuah karunia tuhan yang harus disyukuri serta dijadikan pegangan hidup. Soekarno adalah satu-satunya orang yang berani menolak keyakinan umum bahwa hanya ada dua ideologi di dunia, sebab masih ada Pancasila milik Indonesia tapi sifatnya inklusif. Sehingga, buat apa kita mengejar kemajuan Negara lain, tapi hanya akan menambah masalah? Lebih baik, mari bersama-sama selesaikan tugas-tugas dasar kemudian melangkah maju dengan khas kita sendiri. 

No comments: