13 February 2012

Logis adalah Sikap Sejati Mahasiswa

Logis Adalah Sikap Sejati Mahasiswa
Oleh: Moh Khairul Anwar
Sikap apatisme pemerintah yang kian kentara di negeri ini tidak ubahnya ketika kita membayangkan negeri korup. Sumber Daya Alam yang cukup, jumlah penduduk berpendidikan tinggi yang kian meningkat, serta orang kaya yang terus membludak, tapi orang melarat pun masih saja layaknya batu sandungan yang kita temukan di sepanjang jalan. Inilah ambiguitas laten yang belum dicapai solusinya oleh pemerintah.
Pembiaran atas komplikasi masalah semacam itu, penulis mencatat paling tidak ada dua implikasi yang pasti terjadi. Pertama, sikap frustasi dari sebagian rakyat dikarenakan tidak tahu lagi langkah pasti untuk menciptakan kahidupan yang lebih baik. Dalam hal ini, ada yang menghalalkan segala cara untuk sekedar mendapatkan sesuap nasi, menganggap kondisi tersebut adalah kehendak mutlak tuhan (fatalistis), tapi ada pula yang memutuskan untuk mengakhiri hidup. Untuk jenis yang terakhir, dengan cepat mungkin ingatan kita akan langsung tertuju pada sosok Sondang Hutagalung. Kedua, terciptanya pemberotakan secara kolektif. Untuk bagian ini mungkin bisa dikatakan masih akan jauh dari kanyataan, akan tetapi bukan kemudian hal tersebut adalah sesuatu yang mustahil. Sebab, belakangan ini aksi demonstrasi yang melibatkan orang kecil pun semakin marak.
Dengan demikian, tugas krusial pemerintah saat ini adalah bagaimana (minimal) dua catatan di atas tidak semakin bergejolak. Sebab, tentu saja hanya akan menambah deretan persoalan yang pada akhirnya pemerintah pun semakin enggan menanggapinya. Padalah, seharusnya kesemrawutan tersebut tidak perlu terjadi. Karena, sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila bahwa kerakyatan yang kita pelihara adalah berdasarkan pada hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan. Dan ‘permusyawaratan’ itulah yang harus dipegang teguh oleh mahasiswa juga pemerintah sebagai landasan gerak dan pikirnya, agar supaya tidak mengambil keputusan yang justru meresahkan.
Oleh karena itu, aksi bunuh diri Sondang memang tidak seharusnya terjadi. Adanya cacat dalam sebuah negara-bangsa merupakan sesuatu yang wajar, tapi bukan kemudian harus dibiarkan ataupun malah disikapi secara emosional. Musyawarah yang tiada henti dengan berbagai kalangan adalah pilihan pokok untuk saat ini, dengan penanggung jawab utama adalah presiden.

No comments: