DIKOTOMI ANTARA UN DAN PTN
Rencana menjadikan nilai UN sebagai syarat masuk Perguruan Tinggi Negeri oleh menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) adalah sesuatu yang mengejutkan. Sebab, agenda ini mendasarkan pada alasan yang digunakan pada sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA. Sehingga, sangat wajar bila mendapat pertentangan dari banyak kalangan.Mendikbud, Muhammad Nuh, beralasan bahwa jika hasil Ujian Nasional Sekolah Dasar jadi syarat masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), hasil UN SMP untuk masuk SMA, mengapa hasil UN SMA tidak jadi syarat masuk PTN pula. Oleh beberapa pihak hal ini disinyalir bukanlah logika yang tepat. Soalnya, SD sampai SMA dengan Perguruan Tinggi ibarat dua manusia yang makanan dan tanggung jawabnya cenderung tidak sama. Kelompok pertama bergerak di garis formal, sedangkan yang kedua lebih fleksibel (informal) sekalipun tentu saja lebih komplek.
Terlepas dari adanya SNMPTN yang notabene adalah ketetapan pemerintah sebagai jalur pilihan masuk perguruan tinggi negeri, setiap perguruan tinggi (baik negeri atau swasta) tentu akan menetapkan standar tersendiri dalam kaitannya penerimaan mahasiswa baru. Pertama, hal tersebut terjadi bukan hanya karena adanya kompetisi dalam pendidikan, melainkan kepentingan bisnis (bussnis oriented) yang sangat kental. Yang pada gilirannya, segala carapun akan ditempuh demi menarik perhatian calon mahasiswa baru.
Kedua, pelaksanaan UN yang masih carut marut. Ujian Nasional yang telah berjalan selama bertahun-tahun belum juga memberikan kepuasan, justru yang ada malah hujan kritik dari para pemerhati pendidikan. Dari mulai sistem, pengawasan di lapangan, makelar ujian, bahkan substansi dari UN tidak kunjung berjalan paralel dengan tujuan luhur pendidikan itu sendiri. Sementara itu, perguruan tinggi adalah zona pembebasan dari segala bentuk kesemrautan (utamanya) dalam dunia pendidikan.
Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa menjadikan hasil UN sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri adalah salah kaprah. Dan semestinya Pak Nuh sudah melakukan pembacaan secara komprehensif sebelum mengeluarkan wacana tersebut. Oleh karena, inti pendidikan yang kita harapkan adalah sebisa mungkin mampu membentuk (memperkokoh) karakter bangsa.
No comments:
Post a Comment