Sudah
bukan rahasia lagi bahwa ‘Tembakau madura’ memiliki kekhasannya sendiri,
ditambah lagi mempunyai dua peran yang menonjol yaitu perananannya dalam
racikan sigaret keretek dan peranannya terhadap perekonomian baik mikro (rumah tangga)
maupun mako (wilayah).
Tembakau
madura memiliki mutu spesifik yang sangat dibutuhkan oleh industri sigaret
keretek sebagai bahan baku utama. Sehubungan dengan peranannya sebagai pembentuk
dan penentu aroma rokok keretek, semua pabrik rokok keretek dalam racikannya membutuhkan
Tembakau madura.
Komposisi
penggunaan Tembakau madura pada tiap batang rokok keretek berkisaran antar 14-22
% (Gappri, 1994). Lebarnya selang komposisi Tembakau madura pada racikan sigaret
keretek diduga disebabkan dari masing-masing jenis sigaret keretek tersebut komposisi
Tembakau maduranya berbeda.
Produk
industri sigaret keretek ada tiga jenis yaitu Sigaret Keretek Tangan (SKT),
sigaret keretek mesin (SKM), dan sigaret keretek kelobot (KLB). Diantara tiga jenis
sigaret keretek tersebut yang rasanya lebih ringan dan aromanya lebih segara
adalah SM, produksi tahun 1972 sebanyak 46 juta batang (Tarmidi, 1996). Untuk
memproduksi SKM yang mempunyai rasa ringna dan aroma segar dibutuhkan komposisi
Tembakau Madura yang lebih banyak. Sasaran industri sigaret kretek memproduksi
SKM adalah merebut pangsa pasar sigaret putih mesin (SPM. Kenyataannya tidak
hanya pangsa pasar SPM yang direbut, tetapi juga pangsa pasar SKT dan KLB.
Permintaan SKM meningkat pesat, jika tahun 1993 sebanyak 97, 3 milyar, pada
1997 meningkat sebesar 30%. Kondisi demikian menyebabkan permintaan Tembakau
madura meningkat sangat cepat. Sebagai indikator pada tahun 1991 areal Tembakau
madura seluas 35.236 ha, pada 1995 meningkat menjadi 64.500 ha, yang diikuti
kenaikan harga dari Rp. 3.800.00, menjadi Rp. 7.500,00 per kg rajangan kering.
Meningkatnya
areal Tembakau madura yang diikuti oleh meningkatnya harga, memberi petunjuk
semakin kuatnya keunggulan kompetitif. Pada gilirannya akan meningkatkan
pendapatan rumah tangga dan penembanga ekonomi wilayah. Pernanan usaha tani Tembakau
berkisar antara 60-80% terhadap total pendapatan petani. Penggunaan pendapatan
dari usaha tani Tembakau dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan di luar pangan
yang mempunyai dampak berganda yang cukup tinggi. Kondisi demikian menyebabkan
pengembangan komoditas Tembakau sanagat berperan sebagai sumber pertumbuhan
wilayah. Di samping itu keberhasilan usaha tani Tembakau memperlancar
peemasukan PBB dan retribusi sebagai sumber pendapatan asli daerah.
Seperti
telah disebutkan bahwa semua pabrik rokok kretek dalam racikannya menggunakan Tembakau
madura, sedangkan lokasi pabrik di luar P. Madura. dengan demikian pada musin
panen Tembakau banyak utusan pabrik rokok kretek berdatangan ke P. Madura,
sehingga tingkat hunian hotel di atas 80%.
No comments:
Post a Comment