20 October 2009

Bisnis Donor Darah

Bisnis Donor Darah
Oleh: Moh Khairul Anwar
Pada persoalan kali ini, kira dihadapkan dengan shadaqah yang kemudian berpaham kapitalis. Keikhlasan, kesadaran diri, dan tepo saliro terhadap sesama tidak terealisasi sebagaimana tujuannya. Tidak hanya rumah sakit melainkan instansi-instansi lain yang memang bertugas mengumpulkan darah dalam hubungannya membantu saudara yang tidak mampu. Jika kita mencermati pernyataan di atas, akan ditemukan kegagalan-kegagalan yang akhirnya semakin memelaratkan kaum bawah. Disini saya kira tidak penting menyebutkan seberapa besar dari tahun ketahun datah yang telah terkumpul dari para honoris. Namun, sangat penting untuk diperhatikan (utamanya pemerintah) adalah tentang proses penyaluran darah itu sendiri. Begitu, pula hal demikian bukan persoalan baru, sehinggga nanti akan ditemukan apa, siapa yang sebenarnya terjadi beserta pihak-beserta pihak yang hanya mencari keuntungan dirinya. Perolehan darah dari tahun ketahun sifatnya fluktuatif tetapi nilai dan tujuannya kian menyimpang. Bahkan terkesan hal tersebut semakin memojokkan masyarakat bawah, oleh karenya disadari atau tidak kalangan bawahlah, walaupun tidak menjadi konsumen yang mendominasi, tetapi yang jelas efek dari penyalahgunaan ini sangat dirasakan oleh mereka. Kiranya, dengan kejadian ini harus ada pembedaan-pembedaan antara darah yang diimpor dan darah yang dihasilakan dari para donoris. Darah impor jika dilihat dari segi penggunaan dan penyalurannya tidak akan timbul persoalan jika misalnya dijual dengan mempertimbangkan harga pembeliannya. Beda halnya, baik penyaluran dan penggunaannya jika darahnya adalah hasil dari sikap tenggang rasa. Secara cultural, lembaga kesehatan masyarakat (rumah sakit) dikenal sebagai satu instansi yang paling bersih dan berjasa pada masyarakat. Tetapi hal ini hanya kenyataan secara eksistensial, terkait dengan berjalannya waktu yang menuntut untuk lebih memproteksi keuangan agar lebih siap menghadapi perubahan zaman. Tidak ayal jika yang terjadi kemudian adalah cenderung mengarah pada materialisme, dari pada menciptakan kesejahteraan bersama. Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pihak rumah sakit pun tidak lagi mempertimbangkan kemampuan (ekonomi) masyarakat kurang mampu. Kenyataan seperti ini, tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab pemerintah. Bagaimanapun pemerintah yang mengatur dan menangani semua itu, apakah memperluas bantuan untuk masyarakat langsung atau lebih memperlihatkan responsibilitinya dalam menambah fasilitas rumah sakit. Selanjutnya, yang mesti dipertanyakan adalah sampai dimana batas kemudahan dengan dibuatnya Askeskin. Dalam bagian ini setidaknya kita menemukan keutamaan yang lebih dipentingkan dari hadiah dan perhormatan. Program asuransi kesehatan idealnya menjadi acuan utama jika membicarakan orang miskin karena orientasi dari program ini adalah pemerataan pelayanan kesehatan bagi semua kalangan. Namun, riil dilapangan, program tersebut belum terealisasi dengan maksimal dan merata. Anehnya, yang utama belum terpenuhi, pejabat dan aparatur Negara sedang menikmati hadiahnya. Tanpa disadari, persoalan mendasar tersebut telah menimbulakan ketimpangan-ketimpangan. Seperti kurangnya bagian untuk kalangan yang lebih memerlukannya. Namun demikian, bukan berarti saya menegasikan hak pejabat pemerintah sendiri tetapi yang dimaksudkan adalah pertimbangan social yang lebih akurat. Dengan mahalnya, hasil sumbangan darah tentu saja akan semakin mempersulit masyarakat miskin. Di saat seperti ini janji-janji dan impian untuk lebih memperoleh pelayanan kesehatan terutama bagi kalangan kurang mampu, mungkin tidak lagi diberlakukan. Pertanyaan kemudian perlukah subsidi bagi mereka yang sudah mampu? Untuk menjawab pertanyaan seperti ini terasa sulit menemukan jawabannya, apalagi dalam dominasi tradisi politik – yang cenderung mengedepankan kepentingan indivudu – yang sedang berjalan di negeri ini. Ketika tidak ada lagi ketegasan dari pemerintah maka sifat “mencari kenikmatan sendiri” (pragmatis) akan mengalir kebawah. Apalagi sekarang tidak ada lagi sector yang menjadi prioritas oleh pemerintah dalam kenyataannya. Terlepas dari itu, ketika kita membicarakan stok darah yang semakin berkurang , sebenarnya ada beberapa hal yang menjadi penyebab utama. Pertama, adanya, kecurigaan dari para pendonor, yaitu ujung-ujungnya hanya menguntungkan beberapa pihak. Lain halnya si saat permintaan donor darah bersamaan dengan suatu tragedy dalam negeri atau luar negeri. Kedua, tidak adanya keseriusan pemerintah dalam menangani sector kesehatan. Sebaliknya, yang selama ini terjadi fasilitas dan kemudahan pelayanan kesehatan hanya dapat dinikmati oleh pejabat atau orang-orang kaya. Dan yang kedua ini, saya pikir paling berpengaruh terhadap ketimpangan pelayanan.

No comments: