20 October 2009

Rekonstruksi Nilai Luhur DIY

REKONSTRUKSI NILAI LUHUR DIY; TERKAIT RENCANA SENTRALISASI EKONOMI
Oleh: Moh Khairul Anwar (Pemerhati Social & Pendidikan)
Dalam Rencana Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (RUUK DIY) yang telah bermula sejak tahun yang lalu membutuhkan perencaan yang komprehensif. Dengan mengedepankan pemeliharaan atas nilai-nilai luhur yang selama ini telah menjustifikasi keistimewaan yogyakarta. Yogyakarta yang selama ini kita kenal adalah daerah yang multi-sejarah dan plural dibanding daerah-daerah lain di nusantara. Ditambah dengan melepaskannya atau menjadi otonom dari Jawa Tengan, sehingga pada akhirnya berhasil menjadi satu propensi. yang rencana tersebut kemudian (sebagai tangung jawab atau manifestasi atas keotonomannya) membentuk karakteristik khas daerah, yaitu sebagai kota pendidikan. Namun pemerintah yogyakarta tidak puas dengan keberhasilan tersebut, sehingga diadakan rencana untuk menjadikan kota yogyakarta sebagai pusat ekonomi. Yang tentu saja hal itu berangkat dari keberhasilan pembangunan, yang tidak lain adalah dengan dukungan oleh komitmen pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang mandiri. Pendidikan yang maju, masyarakat yang kreatif dan kesehatan yang merata adalah sebagian dari beberapa poin penting yang menjadi acuan utama pemerintah Yogya. Terkait rencana terakhir itu, tentu tidak serta merta diterima begitu saja oleh masyarakat. Mengingat keberhasilan yang didapat selama ini ternyata ada akhirnya atau temporal. Maka, untuk menjalankan rencana lanjutan, perlu adanya evaluasi kembali terhadap kebijakan atau pembangunan yang telah berjalan. Evaluasi semacam ini dimaksudkan agar rencana lanjutan tidak mendistorsi ketetapan sebelumnya. Dengan demikian, jika klaim sebagai kota pendidikan terbukti hanya menjadi kenangan sejarah, tidak salah kiranya jika menanggalkan dulu rencana untuk sentralisasi ekonomi. Revitalisasi pendidikan yang notabene telah menjadi satu kesatuan (inheren), ketika disebutkan nama kota yogyakarta adalah penataan ulang yang cenderung krusial. Signifikansi tersebut semakin menguat ketika pada beberapa tahun terankhir dari hasil penelitian bahwa kota Yogyakarta tidak hanya terbukti sebagai kota pendidikan, melainkan terkesan fenomenal yaitu sebagai kota yang masyarakatnya bercorak postmodernisme (asusila). Mengikuti arus globalisasi, mereka tidak lagi terlihat berpola seperti halnya masyarakat yang dibangun berdasarkan tatanan kerajaan. Yang secara tidak langsung dikatakan sebagai komunitas (yang gandrung akan nilai-nilai totokromo). Jalan Dinamis-Produktif Menengahi realitas demikian, bukan berarti penulis tidak setuju untuk menjadikan Yogya sebagai pusat ekonomi, oleh karena lahirnya kota tersebut kental dengan perjuangan untuk membangun dan mengokohkan roh-roh pendidik (akademia) dalam jiwa masyarakat nusantara pada umumnya. Dengan begitu, agar pendidikan tidak hanya tertanam dan membeku (freeze) dalam jiwa masyarakat, perlu adanya interview ulang untuk implementasi serta praksis yang lebih konkrit dan kompetitif. Pertanyaan kemudian, masih efektifkah jika diadakan sentralisasi ekonomi? Dari beberapa berita dalam beberapa minggu terakhir diterangkan bahwa angka kematian pada 2008 lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa industri terkait juga tidak bisa menahan derasnya krisis global sehingga otomatis angka pengangguran semakin meningkat. Jika persoalan yang seakan-akan lumrah ini dibiarkan, tanpa ada tanggapan serius dari pemerintah Yogya, bukan tidak mungkin nilai-nilai luhur yang telah terbentuk akan menjadi fatamorgana. Khas kedaerahan tersebut seharusnya dipelihara untuk dijadikan satu satunya kekuatan yang tetap berdiri kokoh dalam geramnya krisis global. Terkait manjadikan kota sebagai pusat ekonomi tentunya membutuhkan ekonom yang lebih profesional. Mau tidak mau perlu pambinaan tambahan pada peserta didik agar tidak hanya berputar dalam ranah teoritis, namun di prioritaskan pada pendidikan yang lebih berbau praktek. Dan hal ini didasarkan pada fakta lapangan yang mayoritas ekonom kita tidak bisa menawarkan suasana ekonomi yang merakyat, sehingga terkesan parsial. Kesadaran akan disorientasi tersebut sekaligus menjawab pertanyaan di atas. Masyarakat modern tidak bisa lagi ditawari dengan kemampuan dan modalitas yang spekulatif untuk tetap bertahan sampai masa depan. Kedewasaan, mental yang kuat, kritis, adalah capaian bernafaskan dinamis yang kemudian menghilangkan pragmatisme. Untuk kata terakhir, konsep yang telah dipaparkan di atas dirasa lebih dibutuhkan untuk mendukung perkembangan masyarakat Yogyakarta. Adanya RUUK DIY untuk menjadikan sebagai pusat ekonomi adalah bentuk kepedulian pemerintah terhadap kemakmuran rakyat. Namun begitu, satu-satunya yang sangat mendukung terhadap efektifitas rencana tersebut adalah kemampuan keilmuan masyarakat yang mumpuni. Yang pada gilirannya, kreatifitas masyarakat tidak harus selalu menunggu aba-aba dari pemerintah. Nama: Moh Khairul Anwar Alamat: Gowok Catur Tunggal Depok Sleman Yogyakarta No hp: 081945407043 (Dimuat di harian jogja selasa 10 januari 2009)

No comments: