Sungguh tidak mengherankan
jika perdebatan tentang penyatuan ujuan nasional dengan seleksi masuk perguruan
tinggi negeri tidak pernah ada habisnya, yang hal tersebut sampai menemukan
titik kesepahaman terkait sistem pendidikan yang nantinya akan simetris dengan
cita-cita pendidikan nasional. Apakah menekan terjadinya depresi saat ketidak
lulusan, atau membuat solusi cerdas jika UN cenderung untuk ditiadakan?
Jika pendidikan sudah
disepakati sebagai investasi diri yang paling berpotensi menyejahterakan
kehidupan dan masa depan seseorang, yang mesti dilakukan adalah pengemasan
menjadi satu formula dengan menuntut aktif semua pihak terkait. Penggabungan UN-SNMPTN
sudah tentu akan memberikan keganjalan di samping memang beda ruang dan
targetan. Untuk sementara ini yang masih jadi pernak-pernik persoalan UN adalah
ikut sertanya pengajar dalam menjawab soal, merupakan satu dari sekian alasan
yang kemudian memberatkan penggabungan dua program pemerintah tersebut.
Membahas pro kontra UN tentu
saja tidak cukup hanya dengan beberapa pragraf, oleh karenanya di sini saya
lebih terfokus pada persoalan kedua (usaha pengkompromian nilai). Nilai yang
diperoleh dari UN sama sekali tidak merepresentasikan eksistensi si pelajar,
sedangkan nilai dari seleksi masuk PT menjadi basis dalam mendisposisi pada
jurusan (prodi) sesuai kapabilitas yang dimiliki setiap calon mahasiswa. Yang
dimaksud disini ialah generasi Indonesia masih sangat tertinggal dalam
disiplin-disiplin keilmuan, sehingga mekanisme penyeleksian MABA ataupun
penentu kelulusan tidak lebih produktif dari pada diserahkan langsung kepada
pihak kampus sesuai orientasi yang menjadi titik tempuh.
Dengan realitas demikian,
sangat ironis kiranya jika tetap mempertahankan penggabungan dua program yang
berbeda tujuan itu. Kesan yang ada adalah pemerintah seakan selalu merasa benar
dan setiap agenda-agenda kerakyatannya berjalan mulus. Telepas dari itu,
kiranya sangat naïf jika esensi dari agenda-agenda yang telah berjalan ternyata
tidak lain dari proyek politis belaka. Namun begitu penulis tidak bermaksud
pesimis akan tetapi pendidikan adalah sifatnya krusial dan continue sehingga penanganannya harus bersifat
komprehensif (tidak lagi parsial).
No comments:
Post a Comment