12 January 2010

Gus Dur Pahlawan Semua Bangsa

In Memoriam Gus Dur
Oleh: Moh Khairul Anwar
Satu persatu para pahlawan, pemikir, ilmuan, dan tokoh bangsa dipanggil kembali oleh Tuhan untuk mempertanggung jawabkan atas apa yang telah diperbuat selama hidupnya di dunia. Kepergian dengan meninggalkan sesuatu yang produktif merupakan alasan berkabungsa bangsa ini.
Dunia Gus Dur adalah dunia nyentrik. Anggapan ini dibuktikan dengan historisitas kehidupan sejak kecil yang berperilaku tidak seperti anak-anak pada umumnya. Bukan hanya kecerdasan yang dimiliki, kuatnya daya baca, penguasaan akan berbagai disiplin keilmuan dan bahasa asing, namun tetap saja life style yang sederhana layaknya keluarga kalangan kyai lainnya juga bukti bahwa tidak mudah-bahkan tidak mungkin kita menyamainya.
Perkembangan seorang Gus Dur  memang bisa dibilang sama sekali lepas dari dunia pesantren yang terbilang konservatif (gema kesantrian yang hanya bersikukuh pada teks-teks agama). Ilmu-ilmu sosial, filsafat, politik, dan berbagai disiplin ilmu kemanusiaan lainnya hampir pernah dilaluinya semua, namun memang ternyata segi inilah yang pada akhirnya mengantarkan dia sebagai icon pemersatu bangsa dan suku agama di Indonesia. Sehingga, tidak ayal pasca meninggalnya terdengar seruan dari berbagai kalangan untuk menginventarisir sebagai salah satu pahlawan bangsa (nasional).
Ketegangan, kekerasan, atau disharmonisasi merupakan penyakit yang akan berimplikasi sangat fatal untuk kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Dalam konteks Indonesia, sudah sejak beberapa tahun terakhir agama menjadi motif terjadinya bentrokan antar kelompok, hingga pengucilan dan tekanan sempat dirasakan oleh beberapa keyakinan (agama) dan sekte-sekte (aliran). Di saat memanasnya kondisi sosial seperti inilah Gus Dur muncul dengan nadanya yang tegas dan terang-terangan beserta semangat integritas sosialnya. Hal ini sejalan sebagaimana dikatakan romo Franz Magnes Suseno, dalam satu stasiun televisi beberapa waktu lalu, bahwa terdapat visi kemanusiaan dan pluralisme yang tertanam dalam diri pribadi seorang Gus Dur.
Penanaman pemahaman dibenak antar setiap kelompok kayakinan sebagai satu tugas besar dan tentu saja tidak mudah, secara tidak langsung memberikan title sebagai seorang pejung nasional yang tidak semua orang bisa meraihnya. Penganugerahan title sebagaimana disebutkan seharusnya tidak perlu mengulur waktu, bila mana sudah menjadi kesepakatan mayoritas berbagai golongan- sebagai salah satu syarat paling urgent dalam menerima title tersebut. Layaknya seorang dokter yang berhasil menyembuhkan penyakit paling kronis-yang sudah mengukur sejak lama di masyarakat-maka minimal dia akan dikenang sepanjang masa, sebab usahanya tersebut akan terus dipelajari serta dipertimbangkan sebagai panduan dalam membesarkan bangsa kita ini. 
Gus Dur memeberikan rumusan baru tantang tatanan sosial dimana jika kita ingat beliau maka otomatis akan teringat pula dengan kaum minoritas, golongan-golongan kecil yang tertekan dan bertempat di sudut-sudut ramainya fanatisme kelompok. Di saat banyak orang memperbincangkan (penguatan) internal kelompoknya, tanpa tersadari golongan lain yang termarjinalkan semakin pilu dan resah di bawah bayang-bayang multi-kulturalisme.
Adalah dambaan semua umat manusia untuk hidup saling berdampingan, bebas dari kungkungan etnisitas, dan barangkali jika dikaji dengan pisau psikoanalisanya Freud-di samping manusia adalah makhluk sosial-ternyata kita masih di kuasai id, hanya mengingainkan pengakuan (penerimaan) diri di tengah-tengah masyarakat akan tetapi buta pada tataran praksisnya. Bagaimana mungkin seseorang bisa dianggap baik jika egois dalam perilakunya? Dan tidakkah ironis menginginkan keharmonisan tanpa mengusahakan untuk berbesar hati atas keragaman yang ada? Pada titik ini dapat disimpulkan bahwa manusia memang cenderung mengabaikan segi instingtualnya, yang tidak lain hal tersebut merupakan konsekuensi dari pembiasaan mengikuti keinginan semu-sebagai manifest atas keluguan diri.
Kerakusan seorang Gus Dur dalam segi keilmuan tidak cukup kiranya hanya terperangah akan sisi kognitifnya. Seorang yang sejak kecil tumbuh kembang di lingkungan pesantren lalu beralih pada pendalaman ilmu-ilmu sosial, namun pada akhirnya kembali ke dunianya semula dengan harapan akan mendapatkan solusi atas berbagai persoalan sosial, adalah tidak kalah penting untuk kita perhatikan. Begitu pula sudah tidak seharusnya kita memperdebatkan bahwa pengerasan suara hati (dalam hal ini hidup bersosial) hanya akan tercapai bilamana menguatkan spiritual kita. Mengenai hal tersebut, tidak hanya dipraktekkan Gus Dur namun sudah sedemikian banyak ilmuan, budayawan, pemikir, dan teoritikus mengakhiri kegundahan penelitiannya dengan memupuk spiritualnya. Dengan demikian, penulis pikir tidak etis hanya jika menelisik pemikiran Gus Dur karena hal utama yang dicontohkannya adalah praktek di lapangan. Komentarnya yang terkenal blak-blakan mungkin tidak banyak orang yang mengira sebelumnya. Serta kebiaaan berjelajah hanya untuk membuktikan prediksi keilmuan dengan realitas sosial. Gus Dur meninggalkan kita di era yang penuh kebebasan sehingga tidak ada lagi yang harus  kita ragukan. Namun begitu, pemerintahlah yang seharusnya lebih merefleksikan dari semua gagasan dan perilakunya.
Salam guru untukmu gus dur……………..!           

No comments: