In Memoriam
Gus Dur
Oleh:
Moh Khairul Anwar
Satu persatu para pahlawan, pemikir, ilmuan, dan tokoh bangsa dipanggil
kembali oleh Tuhan untuk mempertanggung jawabkan atas apa yang telah diperbuat
selama hidupnya di dunia. Kepergian dengan meninggalkan sesuatu yang produktif
merupakan alasan berkabungsa bangsa ini.
Dunia Gus Dur adalah dunia nyentrik. Anggapan ini dibuktikan
dengan historisitas kehidupan sejak kecil yang berperilaku tidak seperti anak-anak pada umumnya. Bukan hanya kecerdasan yang dimiliki, kuatnya daya baca,
penguasaan akan berbagai disiplin keilmuan dan bahasa asing, namun tetap saja life
style yang sederhana layaknya keluarga kalangan kyai lainnya juga bukti bahwa tidak
mudah-bahkan tidak mungkin kita menyamainya.
Perkembangan seorang Gus Dur memang
bisa dibilang sama sekali lepas dari dunia pesantren yang terbilang konservatif
(gema kesantrian yang hanya bersikukuh pada teks-teks agama). Ilmu-ilmu sosial,
filsafat, politik, dan berbagai disiplin ilmu kemanusiaan lainnya hampir pernah
dilaluinya semua, namun memang ternyata segi inilah yang pada akhirnya
mengantarkan dia sebagai icon pemersatu bangsa dan suku agama di Indonesia.
Sehingga, tidak ayal pasca meninggalnya terdengar seruan dari berbagai kalangan
untuk menginventarisir sebagai salah satu pahlawan bangsa (nasional).
Ketegangan, kekerasan, atau disharmonisasi merupakan penyakit yang akan
berimplikasi sangat fatal untuk kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks Indonesia, sudah sejak beberapa tahun terakhir agama menjadi
motif terjadinya bentrokan antar kelompok, hingga pengucilan dan tekanan sempat
dirasakan oleh beberapa keyakinan (agama) dan sekte-sekte (aliran). Di saat memanasnya
kondisi sosial seperti inilah Gus Dur muncul dengan nadanya yang tegas dan
terang-terangan beserta semangat integritas sosialnya. Hal ini sejalan
sebagaimana dikatakan romo Franz Magnes Suseno, dalam satu stasiun televisi
beberapa waktu lalu, bahwa terdapat visi kemanusiaan dan pluralisme yang
tertanam dalam diri pribadi seorang Gus Dur.
Penanaman pemahaman dibenak antar setiap kelompok kayakinan sebagai satu
tugas besar dan tentu saja tidak mudah, secara tidak langsung memberikan title
sebagai seorang pejung nasional yang tidak semua orang bisa meraihnya.
Penganugerahan title sebagaimana disebutkan seharusnya tidak perlu mengulur
waktu, bila mana sudah menjadi kesepakatan mayoritas berbagai golongan- sebagai
salah satu syarat paling urgent dalam menerima title tersebut. Layaknya seorang
dokter yang berhasil menyembuhkan penyakit paling kronis-yang sudah mengukur
sejak lama di masyarakat-maka minimal dia akan dikenang sepanjang masa, sebab
usahanya tersebut akan terus dipelajari serta dipertimbangkan sebagai panduan
dalam membesarkan bangsa kita ini.
Gus Dur memeberikan rumusan baru tantang tatanan sosial dimana jika kita ingat beliau maka otomatis akan teringat pula dengan kaum
minoritas, golongan-golongan kecil yang tertekan dan bertempat di sudut-sudut
ramainya fanatisme kelompok. Di saat banyak orang memperbincangkan (penguatan)
internal kelompoknya, tanpa tersadari golongan lain yang termarjinalkan semakin
pilu dan resah di bawah bayang-bayang multi-kulturalisme.
Adalah dambaan semua umat manusia untuk hidup saling berdampingan, bebas
dari kungkungan etnisitas, dan barangkali jika dikaji dengan pisau
psikoanalisanya Freud-di samping manusia adalah makhluk sosial-ternyata kita
masih di kuasai id, hanya mengingainkan pengakuan (penerimaan) diri di
tengah-tengah masyarakat akan tetapi buta pada tataran praksisnya. Bagaimana mungkin
seseorang bisa dianggap baik jika egois dalam perilakunya? Dan tidakkah ironis
menginginkan keharmonisan tanpa mengusahakan untuk berbesar hati atas keragaman
yang ada? Pada titik ini dapat disimpulkan bahwa manusia memang cenderung
mengabaikan segi instingtualnya, yang tidak lain hal tersebut merupakan konsekuensi dari
pembiasaan mengikuti keinginan semu-sebagai manifest atas keluguan diri.
Kerakusan seorang Gus Dur dalam segi keilmuan tidak cukup kiranya hanya
terperangah akan sisi kognitifnya. Seorang yang sejak kecil tumbuh kembang di
lingkungan pesantren lalu beralih pada pendalaman ilmu-ilmu sosial, namun pada
akhirnya kembali ke dunianya semula dengan harapan akan mendapatkan solusi atas
berbagai persoalan sosial, adalah tidak kalah penting untuk kita perhatikan.
Begitu pula sudah tidak seharusnya kita memperdebatkan bahwa pengerasan suara hati
(dalam hal ini hidup bersosial) hanya akan tercapai bilamana menguatkan spiritual kita. Mengenai hal tersebut, tidak hanya dipraktekkan Gus Dur namun
sudah sedemikian banyak ilmuan, budayawan, pemikir, dan teoritikus mengakhiri
kegundahan penelitiannya dengan memupuk spiritualnya. Dengan demikian, penulis pikir
tidak etis hanya jika menelisik pemikiran Gus Dur karena hal utama yang
dicontohkannya adalah praktek di lapangan. Komentarnya yang terkenal blak-blakan
mungkin tidak banyak orang yang mengira sebelumnya. Serta kebiaaan berjelajah
hanya untuk membuktikan prediksi keilmuan dengan realitas sosial. Gus Dur
meninggalkan kita di era yang penuh kebebasan sehingga tidak ada lagi yang harus kita ragukan. Namun begitu, pemerintahlah
yang seharusnya lebih merefleksikan dari semua gagasan dan perilakunya.
Salam guru untukmu gus dur……………..!
No comments:
Post a Comment