08 February 2010

asal usul shalat 5 waktu


ASAL USUL SHALAT 5 WAKTU
Oleh: Moh Khairul Anwar
Sebagian ahli hukum islam berpendapat bahwa penentuan shalat 5 waktu didasarkan atas kejadian-kejadian (kisah) para nabi:
·        Orang yang pertama kali melaksanakan shalat subuh adalah nabi Adam A.S. sewaktu keluar (diusir) dari surga, beliau mendapatkan kegelapan sehingga membuatnya sangat takut. Setelah fajar terbit segeralah beliau melakukan shalat 2 raka’at. Satu raka’at pertama sebagai tanda syukur atas keselamatannya dari kegelapan, dan satu raka’at (terakhir) bersyukur karena kembali terangnya waktu siang.
·        Orang yang pertama kali melaksanakan shalat Dhuhur adalah Ibrahim A.S., sewaktu Allah menyuruhnya untuk menyembelih anaknya (ismail). Waktu proses penyembelihan (tebusan) ini adalah di saat tergelincirnya matahari, setelah itu beliau langsung shalat 4 raka’at: 1 (pertama) raka’at untuk mensyukuri tebusan anaknya, 1 raka’at (kedua) untuk mensyukuri dihapuskannya kesusahan (kesedihan) atas anaknya, 1 raka’at (ketiga) mengharap ridla Allah, 1 raka’at (terakhir) karena mendapat kenikmatan-berupa kambing yang diturunkan dari surga, yaitu kambingnya Habil.
·        Dan orang yang pertama kali melaksanakan shalat Ashar adalah Yunus A.S. sewaktu dikeluarkan dari perutnya ikan. Pada saat yang demikian itu beliau layaknya telur burung yang (burung) tersebut tidak berbulu, maka jadilah dia dalam 4 kegelapan: 1). Gelap gulita 2). Gelapnya air 3). Gelapnya malam, dan 4). Gelapnya perut ikan. Setelah itu beliau langsung shalat 4 raka’at (dan kebetulan waktunya bertepatan dengan waktu ashar sekarang). Shalat itu dilakukan adalah sebagai tanda syukur karena telah dibebaskan dari 4 kegelapan tersebut.
·        Shalat Magrib dilakukan pertama kali oleh Isa A.S. dikala keluar dari tengah-tengah kaumnya, yaitu pada waktu terbenamnya matahari. Kemudian beliau melaksanakan shalat 3 raka’at: 1 raka’at (pertama) untuk menghapuskan sifat uluhiyah dari selain Allah, 1 raka’at (kedua) untuk menghilangkan sangkaan (sangkaan zina dari kaumnya), dan 1 raka’at (ketiga) untuk menetapkan pesan atau pengaruh (ta’tsir) dan sifat uluhiyah hanya kepada Allah. Nah, dengan ini pula diketemukan jawaban atas disatukannya dua raka’at pertama sedangkan yang terakhir sendirian.
·        Sedangkan yang pertama kali malaksanakan shalat Isya’ adalah Nabi Musa A.S. sewaktu kesasar dalam suatu perjalanan (yaitu waktu keluar dari negeri Mudin), pada saat itu Musa dilanda oleh 4 kesusahan: (1) kesusahan atas istrinya (2) kesusahan atas saudaranya (Harun) (3) kesusahan atas putra-putranya, dan (4) kesusahan atas kekuasaan raja Fir’un. Maka Allah menyelamatkannya dari 4 kesusahan tersebut dengan janji (tepat diwaktu Isya’), yang kemudian beliau langsung shalat 4 raka’at.
Sedangkan riwayat lain menerangkan bahwa Subuh milik Adam, Dhuhur milik Daud, Asar milik Sulaiman, Magrib milik Ya’qub, dan Isya’ milik Yunus. Dan hal ini kemudian disyairkan oleh sebagian fuqaha’ menggunakan bahar thawil.     

Referensi:
1.      Al-‘alim Al-‘amil Al-fadil As-syaikh Muhammad Nawawi ‘Ala Safinatis Shalati Lilmuhaqqiq Al-sayyid ‘Abdullah Al-hadrami Ibn ‘Umar, Toko Kitab Al-hidayah, Surabaya.

No comments: