BANGSA YANG DURHAKA
Seorang anak akan menjadi generasi masa depan jika mendapatkan didikan yang sesuai dengan sifat bawaan hati nuraninya. Begitupun yang akan diharapkan oleh semua orang tua untuk membuahkan embrio yang progresif-nasionalis.Dalam perjalanan hidup yang selanjutnya, anak tidak akan diklaim sebagai anak yang durhaka jika tetap menghormati sosok ibu yang telah melahirkan dan membimbingnya menjadi manusia yang peka akan lingkungan, sehingga akan selalu siap menghadapi suasana hidup yang hitam dan putih.
Dalam hal ini saya bermaksud mempersonifikasi kehidupan ibu-anak dan orang Indonesia sekarang dengan para founding fathernya-yang berdasarkan visi besar yaitu memberi teladan dalam bentuk perjuangan yang tak akan terlupakan. Sebagai refleksi dari maksud besar tersebut kita tidak hanya bisa berbuat sesuai dengan program dinamis kita, tanpa mengingat dan melakukan kilas balik. Yang tentu saja menggunakan akal sehat sesuai budaya dan paradigma yang mereka ajarkan, dengan berusaha keluar dari kerangka berpikir akulturatif.
Pola pikir yang selama ini kita pahami adalah bahwa orang-orang Indonesia yang cenderung menjadi bangsa kuli dan setia menunggu untuk menjalani hidup sesuai perubahan zaman dari hasil kreatifitas bangsa lain (terutama negara-negara maju seperti Amerika, Cina dan Japan ). Yang pada akhirnya, hal ini berimplikasi besar pada perkembangan peradaban dan cara hidup kita sampai sekarang. Terlepas dari itu, dengan tanpa kesadaran kolektif, ternyata kesimpulan yang demikian semakin membinasakan jiwa keindonesiaan kita.
Sebagai klarifikasi anomaly tersebut, perlu kita membaca ulang struktur negara-negara di dunia. Yang dalam sepanjang zaman diyakini akan menciptakan perdamaian sejati jika yang terbaik memegang kedudukan teratas. Pertama, negara adidaya (the king state of the world), yaitu negara yang sudah maju dalam semua aspek, baik aspek ekonomi, teknologi dan ilmu pengetahuan, dalam hal ini masih mengacu pada Amerika. Sebagai negara yang paling kuat, otomatis menjadi tuntutan bagi negara-negara yang baru berkembang untuk legowo berada dibawah kekuasaan sagala sisitemnya. Kedua, negara yang lebih mencolok di bidang peningkatan gelombang ekonominya dalam ranah persaingan pasar global. Tidak hanya dalam hasil kreatifitas yang berhasil menembus pasar internasional melainkan bisa saja dari keoptimisannya membudidayakan dan melestarikan segala SDA yang ada, dalam bagian ini kita bisa masukkan Cina dan Thailan. Ketiga, negara yang hanya popular dalam bidang ilmu pengetahuannya, walaupun masih ada dibawah negara-negara lain sehingga sering disandingkan dengan stereotip sebagai negara yang menampung bangsa-bangsa kuli.
Untuk elemen yang ketiga mau tidak mau kita tetap termasuk kedalamnya. Itupun perkembangan keilmuan yang kita punya tidak berarti lebih mapan dari mereka. Seperti dalam cacatan bahwa keilmuan di Indonesia masih berputar dalam lingkaran teori, mempelajari bibit-bibit pengetahuan yang ditaburkan oleh bangsa-bangsa barat. Walaupun dalam beberapa kesempatan telah ada beberapa kalangan yang berhasil beranjak pada tingkat pengamatan dan kritik transpormatif.
Pelajaran Pembebasan
Harapan yang ada di benak bangsa Indonesia adalah segera menemukan identitas sejati negara, agar mempunyai sandaran kokoh dalam menjalankan sistem yang diterapkan. Bukan berbondong-bondong masuk pada jurang fanatisme dengan maksud menyelesaikan masalah, akan tetapi malah ikut tersungkur sebagaimana pemandunya.
Terlepas dari keterpurukan tersebut, penting untuk kita membuka kembali lembaran sejarah-sebagai representasi terhadap penghormatan dari kenangan sejarah perjuangan kedaulatan Indonesia . Apa yang telah diusahakan oleh para patriot nasional, seperti Ahmad Yani, Soekarno, Supratman dan yang seperjuangan, sejatinya adalah memberikan pemahaman kepada generasi selanjutnya tentang legitimasi kultur kebangsaan. Hal ini sebenarnya bisa kita pahami dari bantuk perjuangan mereka melawan bangsa colonial. Yang jika dikontektualisasikan pada teori peperangan adalah paling tidak antara kedua pihak harus mempunyai senjata andalan atau sekutu, walaupun tidak sebanding kekuatannya. Sedangkan pada peperangan tersebut sama sekali tidak ada kemungkinan untuk menciutkan semangat bangsa colonial pada waktu itu, apalagi memutuskan intervensinya di tanah nusantara.
Namun demikian, vitalisasi identitas yang mereka ajarkan harus dijadikan tema sentral dan kolektif untuk mencapai NKRI seperti yang tersirat dalam Pancasila. Mengembangkan, memajukan dan merealisasikan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia , dengan memperhatikan dan mempergunakan sebaik-baiknya harta kekayaan yang gemah ripah loh jinawi ini. Didukung dengan pengembangan sistem nirlaba pada pendidikan.
Pertanyaan kemudian adalah pada titik mana dari yang telah kita perbuat sehingga diklaim sebagai anak durhaka? Sebagai jawabannya adalah sikap latah yang sejak dulu kita alami pada negara-negara yang telah maju. Ditambah perasaan gengsi untuk mengakui keindonesiaan kita. Yang tentu saja sikap agresifisme telah menguasai kita semua, sehingga sistem yang kita punya seakan –akan menjadi ironi kebangsaan. Maka, apabila hal yang kita anggap sederhana tersebut belum kita pahami secara seksama, dimungkinkan untuk bebrapa tahun kedepan kita akan selalu berada dalam tekanan bangsa lain.
Sebagai pernyataan terakhir dalam kontek ini-sebagai alternatif terkhir menghadapi krisis global adalah mengembangkan kekayaan an sich. Dengan lebih cerdas mencari dan menetapkan sistem yang lebih relevan dengan kondisi bangsa Indonesia . Oleh karenanya tidak perlu lagi menduplikasi rezim serta aturan yang diterapkan negara lain, karena walupun mereka punya namun kita tidak, tetapi lebih banyak lagi mereka tidak punya apa yang kita punya.
No comments:
Post a Comment