11 February 2010

Misteri Alam dan Siklus Kehidupan Manusia


MENGUAK MISTERI ALAM
Oleh: Moh Khairul Anwar
Ada dua bentuk terkait dengan rusaknya alam, yaitu: kerusakan alami (natural destroy) dan kerusakan karena ulah tangan manusia, namun tidak jarang kita selalu sangsi memahaminya.
Dari jenis kerusakan yang pertama “natural destroy”  saja kita sering mendapatkan pemahaman mendua, disamping murka tuhan pada perspektif lain menganggap sebagai alam yang sudah mengeropos karena umurnya yang tidak lagi kuat sehingga ditumbangkan oleh bibit - bibit baru. Selanjutnya, untuk kerusakan kedua ini saya yakin semuanya akan sepakat bahwa penyebab utama terhadap terjadinya fenomena yang merenggut sedikitnya seratus nyawa tersebut adalah adanya indikasi kalalaian.   
Terminology “kelalaian” dalam konteks ini tidak hanya berarti  pembiaran dan tidak lagi mau peduli, melainkan harus dirumuskan dari semua sisi yang melingkupinya, seperti: pemanfaatan yang tidak sesuai dengan karakter serta sifat – sifat alam, pemerintah daerah cenderung individualis, dan masyarakat sekitar yang tidak lagi ramah terhadap lingkungan. 
Berangkat dari tiga elemen ini saya pikir tidak fair jika terjadinya pelimpasan air bendungan (situ gintung) ini misalnya hanya dilimpahkan kepada pemerintah, utamanya instansi – instansi pemerintah yang fokusnya untuk memproteksi lingkungan umum, walaupun sekarang masih menunggu titik henti (baca: jawaban) atas saling lempar tanggung jawab. Namun yang tetap harus disadari yaitu ketika persoalan berkaitan dengan lingkungan atau alam sekitar adalah menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaga dan memeliharanya.
Masyarakat harus mendukung penuh terhadap pekerjaan pemerintah, terlepas dari kontrak social yang telah dibuat (pemerintah) dalam melindungi dan menjaga keselamatan rakyat. Dalam hal ini pemerintah daerah memang tidak hanya terkesan lalai melainkan jelas – jelas memformalisir kewajiban. Yang mungkin sudah mendarah daging sekaligus turun temurun di tubuh pemerintahan di negeri ini yaitu “berenang sehabis badai menerpa”.
Tinjauan Mitologi
Untuk kasus yang terjadi di Tangerang, Banten ini secara khusus seorang paranormal senior, Mama Lauren berkomentar bahwa satu daerah yang ketika siang dijadikan tempat wisata sedangkan malam dijadikan sebagai tempat mesum akan ada akhirnya. Secara tidak langsung sebenarnya dapat disingkronkan dengan kepercayaan masyarakat (nusantara) kuno tentang adanya sesosok arwah (transenden) yang suatu waktu dapat menyelamatkan namun di waktu dan kondisi yang lain tidak segan – segan menghancurkan.
Di setiap daerah pasti ada, dan popular di istilahkan sebagai “penunggu” yang menjadi kepercayaan orang dahulu di kalangan orang modern. Persoalannya, jika hal tersebut disandingkan dengan kemajuan tegnologi dan pesatnya keilmuan modern sudah tentu akan ditolak mentah – mentah. Naifnya, dan yang belum disadari selama ini apakah itu animisme atau dinamisme selalu dinegasikan dengan tidak mengeksplor dan melakukan komparasi terlebih dahulu dengan keilmuan sejarah (scientis of history). Sejarah mengatakan bahwa terbentuknya suatu daerah sebagai konsekuensi dari orang yang mem-babat-nya, dan setiap dari mereka akan meletakkan harapan kuat untuk terpeliharanya atau bahkan dapat menjadi produktif oleh para generasinya.
Terlepas dari mitos dan kepercayaan masyarakat kuno yang dengan alasan apapun kita harus mempercayai berdasarkan realitas-sebagai pembenar darinya. Bukan saatnya lagi kita mempersoalkan siapa yang salah dan yang benar karena yang menjadi taruhan adalah nyawa dalam jangka panjang, lebih – lebih kaitannya dengan lingkungan hidup. Sesegera mungkin kita membuat satu kesepahaman untuk saling menyadarkan dan bahu membahu  untuk merawat alam sebagaimana kita merawat kita sendiri.
Menyinggung sikap sayang dan cinta terhadap lingkungan sangan erat hubungannya dengan sebuah adagium arab “hubbul wathan min al-iman”, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Tanah air mengandung unsur individu (masyarakat) dan lingkungan. Dan makna yang terkandung dalam konteks ini adalah kemakmutan dan kesenagan itu tidak hanya dinikmati oleh manusia melainkan tidak kalah pentingnya alam juga merasakannya.
Sebagai kesimpulannya disini saya akan klarifikasi bahwa kesenangan dan kemakmuran akan diperoleh selama kita tidak melupakan tiga hal. Pertama, cinta kepada tuhan, kedua cinta kepada diri sendiri dan yang terakhir cinta kepada lingkungan (alam). Tiga poin ini berjalin berkelindan yang tidak mungkin akan sempurna jika dilupakan salah satunya. Yang diperlukan adalah kesenangan jangka panjang maka jalan satu- satunya mempertimbangkan kembali hal-hal yang pragmatis, yaitu mengutamakan perbuatan yang menjadi kesenangan sementara.
Nama: Moh Khairul Anwar (Mahasiswa Jurusan Komunikasi & Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

editor

No comments: