11 February 2010

Menyejahterakan Rakyat dengan Pertanian


MENYEJAHTERAKAN RAKYAT DENGAN PERTANIAN

Sejak nenek moyang, Indonesia dikenal sebagai negara agraris, sampai muncul slogan “gemah ripah loh jinawi”. Hal tersebut ditandai dengan pemasukan (income) sebagian banyak rakyat Indonesia bersumber dari hasil pertanian. Sehingga, bertolak dari kekayaan tersebut - untuk kebutuhan primer- disinyalir utamanya pemerintah tidak perlu mengimpor beras (gandum) dari negara-negara agraris lainnya sebagai kebutuhan pokok.
Jika kita bertumpu pada pernyataan demikian, seakan-akan tidak akan ada lagi masalah dalam urusan pemenuhan kebutuhan pokok. Nyatanya, telah terjadi paradoks dengan keadaan kita yang sejatinya kaya, namun malah rakyat lebih sering menjerit gara-gara kurang makan. Dan hal ini tentunya berimplikasi pada semangat generasi muda untuk memperdalam ilmu pertanian (dalam hal ini para mahasiswa), selaku agen social of change-atau lebih tepatnya sebagai tonggak bangsa yang mempunyai responsibility untuk mengangkat dan memperjuangkan kualitas hidup “wong cilik”.
Dan yang pasti persoalannya tidak hanya berhenti di sini, apabila para mahasiswa sudah acuh tak acuh (apatis) pada perkembangan pertanian, mau tidak mau kita harus menerima terhadap berlanjutnya kebijakan pemerintah yang selalu diskriminatif terhadap masyarakat bawah. Disini saya mengikutsertakan (include) pemerintah atas realitas tersebut dikarenakan tidak adanya klarifikasi dari pemerintah terhadap persoalan yang satu ini, terkait potensial industri pertanian selaku sektor riil adalah paling besar memberikan harapan untuk menciptakan kemakmuran. Dan pada gilirannya yang terjadi adalah kurangnya kesadaran, bahkan mereka menganggap bahwa jurusan pertanian sebagai jurusan yang tidak bermutu dan tidak mempunyai prospek untuk diandalkan di masa depan (future age).
Dari ketimpangan itu, seharusnya sektor pertanian tidak lagi dijadikan sebagai senjata paling jitu dalam wacana politik untuk mengusung calonnya ke tampuk pemerintahan. Sebab, jika mengamati negara-negara yang sudah maju seperti China, Thailan bahkan AS sekalipun sudah sejak puluhan tahun yang silam meresapi manfaat dinamis dari sektor pertanian.
Persoalannya adalah, tumbuhnya kesadaran dari para mehasiswa bahwa tanggung jawab yang dipikulnya tidaklah mudah. Cara pandang (mindsite) yang kebarat-baratan (westernisasi) tidak seharusnya tertanam di benak bangsa Indonesia. Pada gilirannya, jika selama ini kita selalu melakukan demo, menuntut akan kesejahteraan masyarakat bawah bertujuan tidak lain kecuali melakukan restart, memulai dari bawah. Dan yang terpenting harus ada penbedaan ketika kita menyebut term “bawah”, sebab memulai dari bawah dan mendukung pekerjaan wong cilik bukan kemudian dijadikan simbol bangsa terbelakang. Justru yang bawah atau pertanian itulah satu-satunya andalan-substansi dan potensi yang patut dibanggakan untuk tercapainya kesejahteraan.
Berangkat dari prospek di atas sangat ironis jika kita masih menganggap bahwa jurusan pertanian tidak menjanjikan, justru sebaliknya. Padahal telah diyakini oleh para pengamat bahwa walfer state atau pun gerak perkembangan ekonomi nasional hanya akan tercapai jika pemerintah terus menguatkan komunitas industri pertanian.  
 Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Yonny Koesmaryono mengatakan, kondisi menyedihkan perguruan tinggi pertanian karena pemerintah tidak serius menempatkan pertanian sebagai motor penggerak pembangunan. ”Lebih mirisnya, pada saat generasi muda kita menjauhi pertanian, justru banyak mahasiswa dari Malaysia yang kuliah di bidang pertanian di negara kita. Bagitu juga, guru besar sosial ekonomi dan industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, berpandangan, apabila nilai tambah sektor pertanian tak ”dihadang”, pendidikan pertanian tidak akan stagnan seperti sekarang. Generasi muda mau terjun ke pertanian jika melihat potensi usaha yang menjanjikan.
”Wirausaha muncul ketika ada peluang dan peluang usaha itu ada ketika nilai tambah industri berbasis pertanian diciptakan,” (Sabtu, 2 Agustus 2008).
Sebagai penutup, faktor yang paling berperan dalam berkurangnya minat mahasiswa untuk mengambil prodi pertanian adalah tidak adanya dukungan konkrit dari pemerintah. Sehingga dengan tidak adanya sosialisasi pertanian sebagai motor penggerak pembangunan, menjadikan masiswa berpandangan negative (yang sejatinya terbelakang).
Nama: Moh Khairul Anwar
No hp: 081945407043
Alamat: Gowok Catur Tunggal Depok Sleman

editor

No comments: