12 June 2010

PALESTINA ADALAH KELUARGA

PALESTINA ADALAH KELUARGA

Oleh: Moh Khairul Anwar
Pertikaian antara islam dan non islam untuk saat ini rasanya kurang tepat jika hanya diistilahkan sebagai perang antar agama (Islam-Kristen atau Yahudi-Islam), mengingat hal ini sudah menjadi isu global di mana seharusnya dikategorikan sebagai usaha penguatan hegemone negara. Siapa yang kuat akan berkuasa, sedangkah si lemah selamanya akan menjadi bulan-bulanan.
Begitu juga dalam konteks peperangan yang terjadi antara Israil-Palestina yang sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Yang dalam perjalanannya, kedua belah pihak sama-sama pernah menjadi pemenang sekaligus merasakan kekalahan. Sedangkan berbagai model penyelesaian masalah sudah dilakukan, baik dalam bentuk resolusi PBB-yang sarat dengan kepantingan barat-ataupun yang lainnya, namun tetap saja tidak kunjung mampu menghentikan perselisihan.
Disamping itu tentunya terdapat banyak faktor yang melatar belakangi berlarut-larutnya peperangan (atau dalam kontek sekarang akan lebih tepat jika menggunakan istilah “pembasmian”). Oleh karena secara etimologis, peperangan bisa diartikan sebagai sebuah perjuangan untuk meraih kemerdekaan dari bangsa-bangsa koloni. Namun demikian, pemaknaan tersebut rasanya terlalu menyepelehkan persoalan jika digunakan pada aksi bombardir Israil terhadap bangsa Palestina, di mana sudah tidak lagi mempertingkan aspek kemanusiaan dalam setiap aksinya.
Faktor-faktor tersebut diantaranya, pertama, persinggungan antara Barat dan Timur. Yang mewakili dari pihak barat di sini adalah Amerika, sebagai salah satu negara digdaya yang selalu berpotensi dalam mengintervensi berbagai peperangan (khususnya apabila melibatkan negara islam), dan negara-negara islam sendiri. Yang dalam hal ini bisa dilihat pada beberapa peperangan besar yang tentu akan melekat dalam benak seluruh penduduk dunia antara Serbia-Bosnia, India-Pakistan, Muslim Turki-Kristen Ortodoks Yunani, Muslim Ingush-umat Kristen Ortodoks Ossesian, dan negara-negara lainnya.
Kedua, tidak adanya central (negara inti) dari pihak islam (seperti yang digagas pula oleh Huntington). Pada bagian ini, menurut penulis merupakan aspek yang cukup krusial mengingat efeknya lebih dominan dibanding faktor pertama tadi. Lihat saja misalnya, apa yang terjadi terhadap Iraq pada beberapa tahun lalu. Hampir dari negara-negara islam lainnya hanya memberi kecaman terhadap aksi membabi butanya Amerika-sebagai simbol solidaritas. Akan tetapi sikap demikian tentu tidak cukup membantu dalam menyelesaikan masalah. Yang alasannya sudah sangat jelas bahwa terdapat tujuan-tujuan politis (global) di balik semua itu, kalau tidak ingin mengatakan adanya sintimen barat terhadap bangsa timur.
Dan sekarang, sikap solidaritas tersebut masih digunakan dengan model yang tidak jauh berbeda. Sebagai implikasinya, dapat diprediksi hasil akhirnya pun akan lebih mendekati terhadap tujuan mereka (musuh) dibanding misi perdamaian umat islam untuk dunia. Sekalipun di sini saya tidak menafikan adanya kemungkinan-kemungkinan lain nantinya.
Yang pasti, alternatif dari persoalan ini bukan kemudian semua negara islam harus ikut memerangi kebrutalan Israil menggunakan senjata pamungkasnya masing-masing. Tidak sampai kesitu, yang dibutuhkan saat ini-dan memang mungkin telah dicita-citakan sejak dahulu kala-adalah persatuan negara-negara islam di seluruh dunia. Dan demi menyelamatkan dunia tentunya.
Dengan terealisasinya persatuan tersebut, sama sekali tidak dimaksudkan untuk nantinya melakukan aksi pembalasan dan memukul mundur Israil beserta kroni-kroninya. Karena tentunya hal ini hanya akan membuat dunia tambah tidak tentram. Signifikansinya, minimal dapat menjadi kesadaran bersama bahwa untuk mengimplementasikan ajaran islam sebagai rahmatan lil alamin tentu tidak cukup dengan hanya mengadakan hubungan bilateral antara satu negara dengan negara lainnya. Di mana proses tersebut terbatas pada kepentingan yang sifatnya parsial. Lebih dari itu, harus melakukan konsolidasi sebagai wadah untuk mensharingkan berbagai macam persoalan yang kaitannya dengan kemakmuran seluruh manusia.
Akhirnya, harus ada kesadaran dalam setiap pribadi kita bahwa mereka adalah keluarga. Saat mereka sakit bagaimanapun caranya kita mesti merasakan sakit itu pula (tepo saliro). Dan tanpa berpikir panjang lagi bahwa aksi yang dilakukan Israil adalah tindakan hewani, sehingga tidak ada salahnya apabila dunia secara serentak memberi bantuan dan dukungan kepada saudara-saudara kita di palestina.
editor

No comments: