ARIEL, AKTOR APA?
Kasus video mesum yang mirip artis (Ariel, Luna Maya, dan Cut tari) terus mamanas dan semakin manarik perhatian publik. Beberapa saksi ahli yang sudah dihadirkan pihak kepolisian ternyata masih belum cukup mengesahkan hukum berbicara. Kalaupun nantinya, sudah berbicara, kemanakah hukum tersebut akan berpihak?
Kalau menurut bang Iwan Fals, dunia politik adalah penuh intrik. Maka, dunia selebritis adalah dunia yang penuh serba-serbi yang identik dengan fation dan life stile. Yang oleh karenanya, tidak ayal bila banyak orang berlomba-lomba ingin meniru jejaknya. Dan pada kondisi yang lain, bahkan mereka mengkultuskan actor favorit masing-masing. Sampai-sampai tidak ada keraguan bahwa situasi yang mereka tahu hanyalah ekting belaka, sedangkan di balik layar terdapat dunia sesungguhnya yang mungkin di luar dugaan.
Memang berbicara masalah yang satu ini mungkin sudah sangat membosankan, mengingat setiap hari di beberapa stasiun televisi sudah terdapat program khusus seputar artis (termasuk pemain film, sinetron, musisi, dan presenter). Di setiap episode pun bisa dipastikan akan selalu ada berita sensasional, ditambah dengan informasi murni hasil kemasan di wartawan infortainment. Yang akhirnya, berita-berita tersebut bukan saja membosankan, akan tetapi sudah pasti menyesatkan.
Untuk selanjutnya, pada judul tulisan ini sengaja oleh penulis dibuat ambigu untuk mengondisikan dengan isu yang saat ini sedang hot. Walaupun untuk sementara ini hampir semua media menggunakan bahasa yaitu beredarnya video mesum “mirip artis” kondang. Namun demikian, sebagai salah satu orang yang masih berakal sehat, justru hal tersebut yang akan coba dianalisis dengan tujuan agar pandangan masyarakat tidak ikut suram. Pemilihan (baca: penambahan) kata “mirip” secara teori analisis teks media mempunyai maksud dan efek yang berbeda (apakah wartawan sebagai pemroduksi berita atau pembaca), dengan apabila ditiadakan. Dengan deretan pertanyaan, apa yang mendasari penggunaan kata tersebut? Benarkah tindakan tersebut mendukung rakyat (UU), objek, atau malah sekedar prediksi tak berdasar?
Dua buah pertanyaan di atas, merupakan penegasan bahwa kasus yang sedang berlangsung ini sangat besar pegaruhnya. Dan membutuhkan minimal satu lembaga yang membuat hukum kita tak lagi bisu. Terutama, menutup pintu atas kemungkinan dialihkan pada isu lain. Sehingga sebelum persoalan utama terpecahkan-yaitu asli tidaknya video-mestinya jangan terlalu jauh untuk berpindah pada persoalan sekunder (seperti penyebar video). Yang alasannya, tidak menutup kemungkinan bahwa semua itu adalah satu paket, pelaku sekaligus penyebar.
Sebagai tambahannya, biar proses penyelesaian masalah ini tidak terkesan dipolitisir, seharusnya diambil ahli telematika yang paling kredible (menurut pemerintah dan masyarakat). Signifikansinya, perbedaan keterangan hanya akan memperlambat proses penyelesaian masalah. Kita tahu bahwa persoalan ini tidak bisa disamakan dengan skandal bank century yang harus mendatangkan saksi ahli dari berbagai bidang terkait. Tentu dengan catatan, ahli telematika tersebut yang memegang profesionalisme dalam bekerja. Kalaupun misalnya belum ada yang bisa memenuhi persyaratan tersebut, mau tidak mau harus mendatangkan ahli dari luar negeri. Mengingat, apabila pintu utama ini sudah bisa dibuka maka pintu-pintu di dalamnya akan mudah dibobol.
Kalau selama ini yang kita dengar tentang keartisan hanya seputar perceraian atau jalin hubungan, hal tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan publik. Namun akan menjadi urusan bersama apabila sudah berbicara perilaku amoral (tak beradab). Selain secara kultural seorang artis bergelut dengan masyarakat langsung, semua sikap dan pola hidupnya juga dijadika teladan oleh kebanyakan orang. Sebagai bahan pertimbangan, jika Miyabi ditentang kehadirannya oleh banyak pihak, lalu mengapa kita membiarkan pelaku sex bebas memenuhi setiap sudut lingkungan kita. Yang konsekuensinya, apakah perilaku tersebut atas dasar paksaan, mau sama mau, sehingga merekamnya hanya untuk koleksi, harus sama-sama dijerat hukuman.
Apalagi jika berbicara masalah masa depan bangsa (integritas) secara praktis harus dimulai dari menjaga komitmen bersama. Selain Indonesia dikenal sebagai Negara hukum, juga dikenal sebagai Negara islam (mayoritas penduduknya beragama islam) yang dengan demikian harus menjunjung tinggi adab serta menindak tegas para penggiat sex bebas, sebagai penyakit sosial yang bertolak belakang dengan ajaran islam. Bagaimana mungkin kita mengandaikan bangsa yang terhormat, sementara pola hidup masyarakatnya masih amoral.
No comments:
Post a Comment