Oleh: Moh Khairul Anwar**
Sebuah agenda yang apabila ingin mendapatkan kesuksesan lebih besar harus didasari serangkaian rencana (persiapan). Begitu pula, dua sepasang sejoli yang hendak merangkai hubungan lebih erat (resmi), dalam paradigma umum, mau tidak mau harus memehuni berbagai persyaratan. Seperti pacaran atau tunangan. Tak ketinggalan, seorang siswa yang mendapatkan kesadaran untuk lebih mamantapkan lagi mental, jiwa nasionalismenya, dan yang terpenting spesifikasi keilmuannya akan berkenalan dengan namanya orientasi pengenalan akademik (OPAK).
Yang apabila dikaji secara histories, orientasi seperti demikian sudah bermula sejak zaman kolonial yang dikenal dengan “perploncoan”. Sebuah istilah yang bermakna dan bertujuan untuk menumbuh kembangkan daya kritis, kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial, atau memperjuangkan keutuhan Negara dan keharmonisan bangsa. Dan yang sebelumnya masih dicekoki teori-teori dan tuntutan agar sami’na watha’na. Siapa yang lebih tua maka dialah sosok panutan, walaupun tidak memungkiri akan semakin meratanya paradigma kritis transformative di semua lini dan berbagai jenjang usia.
Namun dalam perjalannya, perploncoan tadi keluar dari batas-batas yang ditentukan dan mulai melakukan tindakan di luar sifat kemanusiaan. Di mana sebelumnya menggodok mental dan psikis siswa tapi realitas di lapangan malah berupa intimidasi dan berbagai bentuk penyiksaan lainnya. Dan oleh karena demikian, pasca kemerdekaan, partai-partai komunis seperti PKI dan dll menolaknya dengan alasan bahwa ritual pengenalan tersebut adalah warisan kolonialisme dan feodalisme. Sehingga pada tahun 1963 berganti nama menjadi Masa Kebaktian Taruna, tahun 1968 berganti lagi menjadi Masa Prabakti Mahasiswa (MAPRAM), tahun 1991 menjadi Pekan Orientasi Studi, sampai akhirnya menjadi Orientasi Studi Pengenalan Kampus (OSPEK), sementara sejak tahun 2008 di UIN sunan kalijaga mengalami konversi lagi menjadi orientasi pengenalan akademik (OPAK).
Keruwetan tersebut terjadi diakibatkan oleh adanya penyelewengan dari eksistesi orientasi itu sendiri. Antara arti dan impelementasinya malah terjadi dikotomi yang seharusnya saling kait mengait agar mencapai substansi agenda. Sebaga misal, selama proses orientasi, secara ideal, harus tercipta kesan dan pesan yang baik dalam diri peserta. Tidak peduli apakah dalam bentuk pemberian materi, unjuk keberanian, sampai hukuman, semuanya harus bermuara pada kesadaran baru.
Kesadaran baru yang dimaksud tersebut adalah seperti yang terjadi di koloni inggris di mana sekarang menjadi AS, sebagaimana disinggung Darmanto dalam bukunya “”Tradisi Kehidupan Akademik”, harus memenuhi tree R’s yaitu, read, (w)rite, dan (a)rithmatics. Ketiga aspek ini dalam berbagai bentuknya akan menentukan masa depan yang cerah bagi suatu bangsa. Dalam artian semakin besar angka penduduk yang mampu membaca, menulis, dan menghitung adalah merupakan suatu kekayaan yang tak bisa ditukar dengan apapun. Bahkan nantinya akan menjadi modal utama dalam survive dan menghadapi tantangan zaman.
Namun terlepas dari itu, masa orientasi adalah moment penting yang paling efektif untuk melakukan segala hal. Universitas (universitas magistrorum et scholarium) sebagai sebuah institusi pendidikan yang menjadi tempat pengembangan berbagai bidang keilmuan adalah seakan sudah menjadi trendy bagi masyarakat modern. Lebih dari itu, dari universitas seseorang bisa mencetak dirinya seperti yang telah dicita-citakan dan dan menempuh targetan-targetan sebagaiman diharapkan. Pun, bagi yang namanya senior merupakan peluang besar dalam melakukan doktrinasi. Mengingat mahasiswa baru adalah ibarat anak baru lahir yang masih buta dengan hiruk pikuk dunia. Seperti demonstrasi, debat dengan guru (dosen), mampu bertukar pikiran dengan siapa pun dan dalam hal apapun, serta menjadi pengontrol pemerintah (agent of force/control) atau pengembang masyarakat (agent of development).
Pada saat orientasi itulah, berbagai tugas dan tanggung jawab tersebut dapat disosialisasikan. Sekaligus mengklasifikasikan tentang seberapa besar dari peserta yang sanggup melaksanakannya dan jumlah peserta picisan (orang-orang yang bukan murni atas dasar kesadaran kritis, atau lebih tepatnya hanya mengejar ijazah). Walaupun belum pernah ada penelitian dalam memecahkan persoalan ini, penulis yakin bahwa golongan kedua masih tetap mendominasi. Sehingga bila kondisinya memang benar sebagaimana penulis yakini, tidak hanya kerja ekstra, akan tetapi membutuhkan konsep-konsep baru dalam setiap tahunnya demi melahirkan kader-kader yang minimal benar-benar berideologi pancasila.
Kembali menyinggung di atas, supaya opak tak lagi dianggap tidak ubahnya seperti ritual bangsa-bangsa koloni dan feudal maka adanya kesan yang mulai timbul sebagai “ajang mencari jodoh” harus pula disikapi secara serius. Baik antara sesama panitia pelaksana, atau pun panitia dan peserta, dan sesama peserta. Dan lebih parahnya lagi, sampai sekarang, bagi sebagian banyak orang masih dianggap sebagai saat-saat untuk mengakhiri masa lajang sementara (pacaran). Alhasil, OPAK tidak lagi berfungsi sebagai UMB (Universitas Mencari Bakat) melainkan sarat dengan politik pencitraan (politic image). Di mana pada tahap selanjutnya, menekan parahnya pergaulan bebas (free style) yang adalah salah satu tugas utama mahasiswa, sekarang, malah ikut memberdayakannya. Lantas kemudian, siapa objek yang patut disalahkan terkait hal ini? Senior. Mereka yang lebih accessible untuk bergaul sebagai sesama mahasiswa serta paham betuk akan semakin menipisnya angka keperawanan dan keperjakaan remaja. Belum lagi terus meningkatnya pemuja alkohol dan obat-obatan terlarang. Yang untuk persoalan itu semua, tidak mungkin kita menyerahkan kepada pihak kampus an sich (baik para birokrat kampus atau dosen), di saat market oriented atau komersialisasi pendidikan terus dilanjutkan. Dengan alasan bahwa apabila hal tersebut terus saja dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan akan gagalnya rencana-rencana di atas. OPAK bukan lagi sebuah orientasi melainkan disorientasi.
*Opini untuk Shadat Post EDISI II
**Redaktur Kajian Sosial-Politik (KOSPOL) UIN Suka Sejaligus Menjabat Sebagai Koordinator Departemen Kaderisasi Dan Intelektual Rayon Syahadat Periode 2010-2011.
No comments:
Post a Comment