14 January 2011

TAHUN BARU DENGAN MENTAL BARU


TAHUN BARU DENGAN MENTAL BARU
Oleh: Moh Khairul Anwar

Jumat (01/01) adalah pintu masuk pada tahun baru 2011. Sebagaimana tradisi-tradisi sebelumnya, di malam pergantian tahun semua manusia berkumpul pada tempat-tempat tertentu untuk bersama-sama menjadi saksi atas peralihan tahun. Di mana, kembang api biasanya dijadikan simbol dalam memeriahkannya, yang dalam setiap letusannya melahirkan bentuk (seni) tersendiri.
 Bagaimana dengan bangsa di negeri ini, setelah sebelumnya sama-sama meratapi kekalahan timnas atas Timnas Negeri Jiran? Masihkan hati dan perasaannya diliputi kekecewaan yang mendalam? Seharusnya tidak. Setiap datangnya tahun baru itu adalah momen penting yang tidak boleh di sia-siakan untuk melakukan refleksi, evaluasi, sekaligus membangun stategi baru.
Mengingat, itu hanyalah satu dari sekian tumpukan persoalan yang sedang melanda bangsa ini. Penting rasanya pada kesempatan ini kita mengevaluasi perkembangan bangsa ini, yang bila ditarik sejak proklamasi kemerdekaan, sudah semestinya kita menjadi bangsa yang besar; kaya akan pengetahuan; sejahtera sebab dilestarikannya sumber daya alam; dan bermental baja berkat para pengurus negara yang benar-benar mendedikasikan dirinya untuk bangsa dan Negara.
Mental Tampe
Sayang, realitasnya menampilkan hal sebaliknya. Besarnya hanya secara kwantitas, karena pada kenyataannya masing-masing individu disibukkan oleh kepentingan pribadi-pribadi. Yang kaya melegalkan segala cara untuk mempertahankan kakayaannya, sedangkan si miskin tidak peduli pantas atau tidak yang penting bisa mendapatkan sesuap nasi. Yang bila dilihat penyebabnya, ini tidak lain adalah akibat dari pemerintah kita sendiri tidak mendasarkan setiap kebijakannya atas aspirasi dari bawah. Sementara, dalam bidang pengetahuan kita masih menjadi pengonsumsi teori dari pada penggagasnya. Sebagai akibat dari APBN yang dianggarkan khusus untuk pendidikan selalu dipangkas, serta tidak dijadikan perioritas.   
Maka, jadilah bangsa ini bermental super elastis (tempe). Hanya saja, dalam konteks ini saya ingin mengajak membongkar kembali kesadaran kita, di mana, banyak dari kita yang selama ini menyepakati bahwa kondisi ini diakibatkan oleh pendudukan bangsa kolonial yang terlalu lama. Bila dilihat dari kacamata sejarah, anggapan ini mungkin bisa dibenarkan, akan tetapi jangan sampai dijadikan pegangan terus menerus sehingga pintu refleksi tertutup rapat-rapat. Melainkan, kembali pada seorang pemimpin. Kapabilitas serta totalitas seorang pemimpin suatu negara akan menjadi indikasi cerahnya masa depan rakyatnya. Begitu pula sebaliknya.
Dengan demikian, karakter ataupun mental suatu bangsa itu adalah bentukan, baik sengaja atau tidak, oleh perilaku pemerintah (terutama) pemimpinnya. Karena, sadar atau tidak rakyat akan menjadikan sikap dan pola hidup pamimpinnya sebagai patokan dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam hal ini bisa diamil contoh misalnya, sebagaimana diberitakan oleh media bahwa sekitar 50 % anggota DPR absent sudah merupakan hal biasa, ketua DPR ribut dengan anggotanya, pajabat dari lembaga legislatif dan yudikatif terjerat kasus korupsi, pemimpin yang lamban dan cenderung hitam putih dalam menanggapi suatu persoalan, dll. Dalam mindset masyarakat yang berjalan sementara ini, mungkin hal terebut dianggap tidak ada kaitannya dengan mental rakyat. Seiring tidak pernah adanya gejolak yang signifikan dari bawah. Padahal, secara psikologis tentu saja hal tersebut merupakan pukulan telak, karena: pertama, yang notabene pada saat PEMILU telah memilihnya; kedua, secara yuridis mereka bertanggung jawab untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa ini.   
Nah, kesadaran seperti inilah yang semestinya telah menggenang dalam pikiran rakyat selama ini, dan penulis berupaya mengokohkannya kembali pada awal tahun 2011 ini. Fokus dari tulisan ini memang untuk rakyat karena sudah terlalu banyak saya kira aspirasi rakyat yang telah diajukan pada pemerintah, walaupun tidak semua direspon secara positif. Sehingga, biarkanlah aspirasi-aspirasi tersebut dipertimbangkan kembali.
Sebaliknya, dalam realitas seperti tergambar di atas, lebih tepat rasanya apabila kita (para intelektual yang prorakyat) untuk lebih intens berkomunikasi langsung dengan rakyat, yang kata lainnya adalah pembangunan dari bawah. Solusi ini saya anggap sangat penting untuk saat ini dengan alasan karena posisi rakyat yang serba dilematis. Pada satu sisi, mereka harus melanjutkan kehidupannya dengan memanfaatkan fasilitas dan sumber-sumber yang ada, akan tetapi di sisi yang lain, pemerintah terkesan setengah-setengah dalam mengakomodir semua kebutuhan tersebut. Maka, tidak ayal bila kemudian mereka (rakyat) pesimis hidup di negara demokrasi seperti Indonesia ini.
Harapan di Tahun 2011
Semua orang mempunyai harapan bahwa cita-citanya akan terwujud pada tahun berikutnya, tidak terkecuali bangsa Indonesia. Lantas, apa sebenarnya yang menjadi harapan kolektif bangsa Indonesia? Apabila kesejateraan ekonomi tidak bisa segera diwujudkan, karena disadari bahwa proses mewujudkannya memang tidak seenteng kata-katanya, minimal tercipta mental yang kuat dalam diri bangsa ini dengan cara ditingkatkan dedikasinya oleh semua elemen di pemerintahan. Di mana, dengan mental tersebut diharapkan tidak melulu menunggu-nunggu pelayanan dari pemerintah. Lebih dari itu, timbul kesadaran bahwa konsep ‘‘Berdikari’’, sebagaimana telah diamanahkan oleh presiden pertama (Soekarno) sudah waktunya diterapkan oleh rakyat secara keseluruhan.
Alhasil, proses pendampingan dari kaum intelektual dengan Instansi Swadaya Masyarakat terkait, sifatnya krusial untuk dilakukan. Selain pembelaan akan hak-haknya terus dilakukan, mereka juga mempunyai tanggunggung jawab untuk melakukan pembangunan dalam arus bawah.
Soalnya, dalam konteks semaraknya tahun baru, perlu diingat bahwa tidak semua lini masyarakat merasakan serta merayakannya. Ini terjadi oleh karena tergantung kepada kepedulian akan hari dan tanggal. Jelas, untuk hal tersebut orang-orang perkotaan lebih mempunyai kepedulian lebih besar ketimbang orang pedesaan. Sedangkan, tidak ada lain yang menjadi fokus pikiran untuk golongan terakhir kecuali kesejahteraan dan respon terhadap nasib sengsara mereka.
Akhirnya, agar ucapan ‘‘selamat menempuh tahun baru’’ akan bermakna untuk semua, maka golongan-golongan seperti disebutkan di atas tadi benar-benar memperaktekkan kesadaran sosialnya.

No comments: