14 January 2011

Identitas Bangsa Dibalik Football

Identitas Bangsa Dibalik Football
Oleh: Moh Khairul Anwar*

Bukan main girangnya bangsa ini setelah Timnas kita berhasil menunjukkan ketangguhannya dalam beberapa pertandingan, tak terkecuali di semi final. Betapa tidak, layaknya Bambang Pamungkas, tidak sekedar menjadi bintang iklan Extra Joss melainkan telah benar-benar membintangi dalam kancah persebak bolaan nasional dengan membakar semangat kawan-kawannya.
Yang dalam hal ini tentu saja tidak mengesampingkan bintang-bintang lainnya. Karena dalam konteks saat ini,  dengan mata telanjang kita bisa melihat betapa mengagumkannya komunikasi yang mereka bangun ketika sedang berada di medan pertempuran. Seakan secara otomatis menganulir interpretasi bahwa Timnas Indonesia butuh berpuluh-puluh tahun lagi untuk bisa berpartisipasi di Piala Dunia (World Cup).
Menjelang final, kondisi inipun tidak boleh merosot sedikit pun. Karena, football adalah satu-satunya harapan bangsa untuk mengangkat kembali nama indonesia di ranah internasional. Apalagi, setelah sebelumnya pada laga Bulu Tangkis para utusan indonesia di jungkir balikkaan oleh pemain-pemain Kincir Angin dan lain-lainnya.
Belum lagi, hampir dalam berbagai sektor seperti pendidikan, keamanan dan lainnya, sampai saat ini kita masih berada jauh di belakang dibanding negara-negara Asia, terutama negara-negara Barat. Oleh karenanya, inilah yang penulis maksud sebagai ‘identitas nasional’ (eksistensi bangsa indonesia) di balik kompetisi sepak bola. Sehingga, harus dipahami betul oleh seluruh bangsa ini dengan memberi dukungan penuh terhadap Timnas. Pun, semoga pemain kita lebih menunjukkan sikap sportifitas dibanding katarsis sosial, sebagaimana telah diwanti-wanti oleh Azyumardi Azra (Kompas, 24/12).
Sehingga, terkait dengan gambaran realitas di atas, patutlah bila Timnas lebih dikokohkan lagi dengan dilakukan proses kaderisasi, bahkan dari umur yang sangat muda sekali pun. Karena, seperti halnya Bambang dan Cristian Gonzalez untuk beberapa tahun lagi, terkait persoalan umur, bisa dipastikan tidak akan sanggup lagi membela Tim Nasional (Timnas). Sehingga, mau tidak mau harus segera ada yang menggantikannya supaya perjuangan ini tidak hanya berjalan, serta berhenti pada satu masa saja.
  Demikian pula, kemenangan yang diraih sejak mulai babak penyisihan jangan sampai dipahami sebagai hasil, yang itu berarti sebagai titik akhir dari harapan dan usaha Timnas selama ini. Justru sebaliknya, prestasi ini-saya mengatakan demikian karena sudah biasa kita lolos ke babak final, sehingga bukanlah sesuatu yang patut untuk terlalu dibangga-banggakan (kecuali) menjadi juara Asia-adalah sebuah awal yang harus dilakukan berbagai cara untuk memperjuangkannya. Yang salah satunya dengan dilakukannya proses kaderisasi.
Proses ini tentu saja sangat dibutuhkan adanya perhatian lebih dibanding sebelum-sebelumnya dari pemerintah. Dari mulai anggaran yang cukup serta disediakan fasilitas untuk dilakukannya penggodokan. Mengingat, bila mengacu pada club-club papan atas, Timnas harus lebih banyak lagi digenjot dalam persoalan mental, fisik, dan strategi permainan.
Sementara itu, untuk masalah sistem kaderisasi yang baik semua dipasrahkan kepada pihak-pihak terkait (PSSI). Hanya saja perekrutan sejak dini adalah satu cara yang tidak boleh ditinggalkan, bahkan mungkin yang paling utama. Apalagi, sebenarnya proses ini sudah dipermudah dengan semakin banyaknya daerah-daerah yang mendirikan sebuah club, di mana hal ini bisa dipahami sebagai semakin meratanya kesadaran masyarakat di daerah untuk berpartisipasi dalam memperbaiki iklim persebak bolaan di negeri ini.
Sekali lagi, sudah waktunya disadari bahwa sepak bola bukan semata-mata sebuah game yang konsekuensinya menang dan kalah. Jauh lebih berharga dari itu adalah mempertegas eksistensi kita dalam kancah internasional. Bahwa, tidak selamanya kita menjadi pengikut, akan tetapi pada suatu hari akan benar-benar menjadi macan. Di mana, sudah diprakarsai oleh Soekarno.

No comments: