Pasar Tradisional Sebagai Penjaga Nasionalisme
Sudah menjadi persoalan umum bahwa pasar-pasar yang ada di daerah-daerah pelosok (pedesaan) selalu menjadi alternatif untuk membeli kebutuhan di saat kondisi ekonomi seseorang sedang mengalami ganggauan.
Walaupun oleh sebagian orang, pasar tradisional disebut sebagai “pasar rakyat”, oleh karena pasar tersebut identik dengan konsumen yang tingkat ekonominya menengah ke bawah, bahkan waktu beroperasinya pun temporal (berkala). Akan tetapi, bukan menjadi sesuatu yang tabu apabila kita mendapatkan banyak dari orang-orang dari kalangan elit juga menikmati barang-barang yang disediakan di pasar ini.
Alasan Keterbiaran
Tak bisa dipungkiri bahwa pasar menjadi tempat bertemunya manusia dengan satu tujuan, dimana selain itu juga menanggung berbagai kepentingan yang berbeda-beda. Para bangsawan, birokrat, petani dan tukang becak sama-sama berdiri sejajar dalam melakukan negosiasi atau saling berlomba untuk mendapatkan barang yang disukai, tanpa ada rasa canggung serta perasaan gengsi antara satu sama lain. Yang membedakan hanyalah isi dompetnya, yaitu selain dua golongan yang disebutkan pertama cenderung lebih ringan.
Proses komunikasi yang dilakukan antara penjual dan pembeli, terlepas dari pangkat yang dimiliki, adalah yang saya maksudkan sebagai hakekat pasar tradisional dalam perannya menjaga nilai-nilai nasionalisme. Hal yang lebih menarik lagi adalah dimana kondisi heterogenitas (keberagaman) dan egaliter (duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi) tersebut sangat sulit, atau bahkan tidak kita temukan di pasar-pasar modern, seperti Supermarket dan Indomaret.
Hanya saja masalahnya sekarang, sebuah keniscayaan tersebut tidak semua pemerintah daerah bisa memahaminya. Sehingga, berakibat pada terabaikannya pasar tradisional dengan mempertimbangkan bahwa sudah ada pilihan yang lebih praktis dan komplit, yaitu pasar modern, seperti sering dikeluhkan oleh banyak kalangan selama ini.
Maka, apa sebenarnya akibat paling parah dari kegagalan pemahaman tersebut? Jawannnya sederhana, bahwa masyarakat saat ini kian diajari untuk tidak saling mengenal. Alasannya jelas, di saat kita membeli suatu barang di suatu pasar modern, maka (minimal) itu tidak akan diberitahukan kepada lainnya. Dalam artian, akan berangkat secara sendiri-sendiri. Karena, “kebutuhanku adalah rahasiaku, sedangkan kebutuhannmu adalah urusannmu sendiri.” Pernyataan seperti ini merupakan indikasi bahwa sampai saat ini kita didorong untuk berkesadaran, yaitu kepentingan pribadi tidak ada hubungannya dengan (manfaat) kebersamaan. Padahal, tidak demikian kenyataannya. Dengan kita men-sharing-kan kebutuhan kita karena siapa tahu teman atau saudara kita mempunyai keinginan yang sama, sehingga bisa pergi bersama-sama dan adanya kemungkinan untuk mendapatkan harga yang lebih murah pun akan lebih besar. Dan itupun kalau kita ke pasar tradisional.
Sebuah pemikiran yang sederhana, akan tetapi manfaatnya sangat besar andaikan disadari oleh para pemerintah daerah untuk memperbaiki kondisi fisik pasar-pasar tradisional. Sehinga, pengunjung tidak lagi merasa jijik untuk sekedar melihat-melihat. Maka, sudah jelaslah bahwa tak ada alasan untuk tidak memperhatikan dan membiarkan tersingkirnya pasar tradisional oleh pasar modern.
1 comment:
ini bagus untuk menumbuhkan kesadaran kita dalam memberdayakan pasar tradisional......
Post a Comment