10 July 2011

Redupnya Etika Akademis Mahasiswa


Oleh: Moh Khairul Anwar

Diberitakannya mahasiswa UMM, UGM, UIN Jakarta, dan lainnya telah menjadi korban NII merupakan pukulan telak bagi dunia pendidikan kita. Sepintas muncul pertanyaan dalam benak penulis, akankah sudah pupus harapan kita terhadap generasi muda?
Pertanyaan di atas memang sangat sederhana, hanya saja dengan melihat perilaku beberapa generasi muda (tak terkecuali mahasiswa) pada era ini menjadikan pandangan kita ke depan semakin suram. Seperti, tawuran antar sekolah, bentrokan mahasiswa dua fakultas berbeda, beredarnya video asusiala, dan merebaknya tindakan-tindakan kriminalitas (kontra produktif) lainnya di berbagai tempat. Ditambah lagi, dengan makin banyaknya mahasiswa yang tergoda mengikuti kelompok-kelompok aliran keras.
Sampailah kita pada kesimpulan bahwa zaman modern memang menggiurkan, dan jarang yang masih mau berpegang teguh pada pola hidup tradisionalnya. Beberapa contoh penyimpangan di atas, merupakan indikasi bahwa sistem pendidikan di negeri ini mengalami disorientasi. Mahasiswa yang seharusnya menjadi motor penggerak, kian hari terlihat semakin kelimpungan menghadapi tantangan zaman. Hal itu, tidak lain diakibatkan oleh karena mereka sudah meninggalkan kebudayaan utama (menurut Ashley Montage, kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasarnya) yang memang menjadi tanggung jawabnya sebagai masyarakat akademis, yaitu pengembangan pengetahuan. Indikasi dasar ini tentu saja menjadi persoalan serius oleh karena apabila mahasiswa sudah tidak peduli lagi akan tugas utamanya, maka pertanyaan di atas dibutuhkan seminar besar untuk menjawabnya.
Ditinggalkannya kebudayaan atau etika akademis tersebut adalah menjadi PR kita semua. Sehingga, yang dibutuhkan kemudian adalah jangan sampai forum-forum diskusi di kampus-kampus semakin punah, selain kuliah yang pendapatan keilmuannya tidak seberapa. Pentingnya forum tersebut mengacu pada jejak (alm.) Gus Dur, sewaktu dia menuntut ilmu di timur tengah. Seorang guru bangsa yang kita semua mengakui akan pengaruh dan kedalaman keilmuannya. Beliau lebih banyak dan gemar menghadiri forum-forum diskusi di tempat ngopi, mengingat ilmuan banyak berkumpul disana. Karena, bukan hanya ilmu yang akan kita dapat di tempat-tempat seperti demikian, akan tetapi kita akan bisa membedah persoalan lebih dalam lagi.

No comments: