03 November 2011

Reinterpretasi Pemuda

Reinterpretasi “Pemuda”
Oleh: Moh Khairul Anwar

Sampai saat ini kita masih terus bertanya, di mana semangat kaum muda yang dari dulu selalu digaung-gaungkan? Ditambah dengan konstelasi perpolitikan di dalam negeri yang tak jelas arah dan tujuannya, seakan semakin membuat mereka buta arah. Apa yang harus dilakukan serta bagaimana caranya ikut adil dalam membuat perubahan hanyalah sebutir kegelisahan dari gunung persoalan.
Istilah “kebingungan” rasanya sangat relevan bila kita ingin secara sungguh-sungguh memperbincangkan tentang kondisi pemuda saat ini. Oleh karenanya, sangat tepat bila dilakukan kembali reinterpretasi pemuda, di  mana secara merata kita pahami bahwa pemuda adalah tonggak sejarah. Pemuda yang gigih, cerdas, dan tidak mau diperbudak oleh zaman-dalam mana  kecenderungannya menggiring pada pola hidup hidonis dan pragmatis-adalah cikal bakal suatu bangsa akan segera menikmati perbaikan.
Siapa lagi yang akan memotori lahirnya sebuah perubahan kalau bukan kaum muda, sementara pada sisi yang lain pemerintah masih terus saja sibuk memikirkan kepentingan politiknya. Yaitu, kepentingan sesaat (temporal) yang tentu tidak akan ada nilai positifnya bagi rakyat. Kondisi semacam inilah yang semestinya dijadikan dasar berpijak pemuda sebagai manifestasi dari semangat kepemudaannya.
Terlepas dari itu, pemuda adalah sasaran empuk para kaum kapitalis dan para pemuja meterialisme. Namun demikian, sekalipun dua predikat tersebut berarti kurang baik, yang tak dapat dipungkiri adalah mereka seringkali menjadi inisiator sekaligus inovator pertama terkait perkembangan teknologi. Dan dengan melihat realitas yang ada, kayaknya alasan inilah yang dijadikan patokan oleh anak-anak muda dalam setiap gerak-geriknya. Sekaligus, yang sangat disayangkan, mereka tidak segan-segan memperaktekkan apa yang terjadi di sana, dalam mana banyak yang bertolak berlakang dengan prinsip dan tradisi hidup di negeri ini.
Pengebirian prinsip hidup nasional inilah yang menjadi inti dari reinterpretasi pemuda. Karena, yang seharusnya terjadi ialah nasionalisasi atas setiap produk luar. Ambil contoh, misalnya, gaya hidup (lifestyle) atau lebih tepatnya gaya hidup bebas (freestyle) yang kian merata memuhi otak atau pikiran para pemuda. Kalau hal ini dibiarkan, maka pemuda justru menjadi ancaman dan jelas tidak lagi etis untuk diharapkan. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, jika pemuda sudah pupus dari zona harapan, maka rakyat secara keseluruhan akan merasakan akibat negatifnya. Oleh karenanya, bukan hanya kalangan politikus yang berdosa besar karena memeraktekkan politik kotor, atau pemerintah yang mengabaikan rakyatnya, melainkan termasuk juga kaum muda karena telah membiarkan praktek korupsi menjalar kemana-mana serta ketidakadilan yang merenggut hak-hak rakyat.
Peringatan sumpah pemuda bisa dimaknai sebagai evaluasi atas diri dan kondisi yang telah, sedang, dan akan terjadi. Menjadikan yang telah berlalu sebagai pelajaran, memperbaharui semangat kepemudaan, dan membuat ide besar tentang perjalanan selanjutnya. Semoga harapan ini bisa dipahami oleh para pemuda pasca peringatan kemarin. Dan segera melakukan segala upaya “secara bersama-sama” untuk mematerialkan bahwa pemuda masihlah agent of change.
Tulisan ini juga bisa dilacak di (http://www.kampus.okezone.com/suaramahasiswa).
 

No comments: