Reinterpretasi
“Pemuda”
Oleh:
Moh Khairul Anwar
Sampai
saat ini kita masih terus bertanya, di mana semangat kaum muda yang dari dulu
selalu digaung-gaungkan? Ditambah dengan konstelasi perpolitikan di dalam
negeri yang tak jelas arah dan tujuannya, seakan semakin membuat mereka buta
arah. Apa yang harus dilakukan serta bagaimana caranya ikut adil dalam membuat
perubahan hanyalah sebutir kegelisahan dari gunung persoalan.
Istilah
“kebingungan” rasanya sangat relevan bila kita ingin secara sungguh-sungguh
memperbincangkan tentang kondisi pemuda saat ini. Oleh karenanya, sangat tepat
bila dilakukan kembali reinterpretasi pemuda, di mana secara merata kita pahami bahwa pemuda
adalah tonggak sejarah. Pemuda yang gigih, cerdas, dan tidak mau diperbudak
oleh zaman-dalam mana kecenderungannya
menggiring pada pola hidup hidonis dan pragmatis-adalah cikal bakal suatu
bangsa akan segera menikmati perbaikan.
Siapa
lagi yang akan memotori lahirnya sebuah perubahan kalau bukan kaum muda, sementara
pada sisi yang lain pemerintah masih terus saja sibuk memikirkan kepentingan
politiknya. Yaitu, kepentingan sesaat (temporal) yang tentu tidak akan ada
nilai positifnya bagi rakyat. Kondisi semacam inilah yang semestinya dijadikan
dasar berpijak pemuda sebagai manifestasi dari semangat kepemudaannya.
Terlepas
dari itu, pemuda adalah sasaran empuk para kaum kapitalis dan para pemuja
meterialisme. Namun demikian, sekalipun dua predikat tersebut berarti kurang
baik, yang tak dapat dipungkiri adalah mereka seringkali menjadi inisiator
sekaligus inovator pertama terkait perkembangan teknologi. Dan dengan melihat
realitas yang ada, kayaknya alasan inilah yang dijadikan patokan oleh anak-anak
muda dalam setiap gerak-geriknya. Sekaligus, yang sangat disayangkan, mereka
tidak segan-segan memperaktekkan apa yang terjadi di sana, dalam mana banyak
yang bertolak berlakang dengan prinsip dan tradisi hidup di negeri ini.
Pengebirian
prinsip hidup nasional inilah yang menjadi inti dari reinterpretasi pemuda.
Karena, yang seharusnya terjadi ialah nasionalisasi atas setiap produk luar.
Ambil contoh, misalnya, gaya hidup (lifestyle)
atau lebih tepatnya gaya hidup bebas (freestyle)
yang kian merata memuhi otak atau pikiran para pemuda. Kalau hal ini
dibiarkan, maka pemuda justru menjadi ancaman dan jelas tidak lagi etis untuk diharapkan.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, jika pemuda sudah pupus dari zona harapan,
maka rakyat secara keseluruhan akan merasakan akibat negatifnya. Oleh
karenanya, bukan hanya kalangan politikus yang berdosa besar karena memeraktekkan
politik kotor, atau pemerintah yang mengabaikan rakyatnya, melainkan termasuk
juga kaum muda karena telah membiarkan praktek korupsi menjalar kemana-mana
serta ketidakadilan yang merenggut hak-hak rakyat.
Peringatan
sumpah pemuda bisa dimaknai sebagai evaluasi atas diri dan kondisi yang telah,
sedang, dan akan terjadi. Menjadikan yang telah berlalu sebagai pelajaran,
memperbaharui semangat kepemudaan, dan membuat ide besar tentang perjalanan
selanjutnya. Semoga harapan ini bisa dipahami oleh para pemuda pasca peringatan
kemarin. Dan segera melakukan segala upaya “secara bersama-sama” untuk
mematerialkan bahwa pemuda masihlah agent
of change.
Tulisan ini juga bisa dilacak di (http://www.kampus.okezone.com/suaramahasiswa).
No comments:
Post a Comment