03 November 2011

Pemuda Harus Menguasai Zaman


Pemuda Harus Menguasai Zaman
Oleh: Moh Khairul Anwar

Janganlah peringatan hanya dijadikan sebatas ritual kosong, tanpa menghasilkan sesuatu yang produktif. Lebih baik, diadakan dzikir bersama supaya semuanya bisa berjalan dengan penuh khidmat. Dan tentu saja harus dimotori oleh pemerintah (utamanya).
Walaupun, telah sekitar 83 tahun sejak dideklarasikannya sumpah pemuda pada tahun 1928 oleh sebuah organisasi kepemudaan yang beranggotakan pelajar dari seluruh Indonesia, tapi seiring perjalanan waktu semakin kita tidak mendapatkan hawa ataupun tanda-tanda akan adanya revolusi dari bawah. Yang dalam hal ini, diprakarsai oleh para pemuda di mana sebelumnya telah mensinergiskan antara satu ide dan ide lainnya menjadi satu visi misi bersama. Bersama-sama menyingsingkan lengan maju demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik.
Bukanlah hal demikian yang tersirat dalam tiga butir sumpah para pendahulu kita? Sebuah sumpah yang mengatasi segala sumpah-sumpah serapah para petinggi negeri ini. Di mana mengisyaratkan bahwa segala apa yang berkaitan dengan bangsa dan negara ini tidak ubahnya seperti milik dan keluarga kita sendiri. Oleh karenanya, andaikan ada orang dengan tanpa aturan menyaplok bagian dari kekayaan kita, mengintervensi keuangan kita, mengebiri jalannya pemerintahan (politik) di keluarga kita, sudah sepantasnya dengan segenap jiwa dan raga kita memperjuangkannya.
Dan yang lebih penting lagi untuk dijadikan bahan perenungan bersama adalah tentu kita tidak menginginkan anarkisme membelenggu daya kreatifitas para pemuda. Karena yang selama ini terjadi, justru demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan setiap memperingati hari-hari besar nasional tidak kunjung kita mendapatkan hasilnya (namun penulis tidak akan mengatakan bahwa langkah seperti ini buruk). Terlepas, apakah aspirasinya dihiraukan oleh pemerintah atau tidak. Secara teoritis, dari sisi psikologis tentu hal tersebut hanya menjadikan memuncaknya emosional yang semakin tak terkendali.
Berangkat dari kondisi yang sebenarnya kurang produktif tersebut, sedari sekarang harus dilakukan perbaikan pola pikir. Dari pada kita bertindak terlalu praktis lebih baik mengedepankan intelektualitas yang pada gilirannya akan menggiring kita untuk berpikir bahwa sistem hanya berlaku sementara. Dan hanya segelintir orang yang memegang kendali penuh konstelasi perpolitikan di negeri ini. Oleh kerananya, jangan sampai kita rela ditelikung oleh sistem tersebut, sembari mengusahakan bahwa publik juga memiliki kebenaran di mana pemerintah pun harus tunduk kepadanya. Dengan catatan, hal ini akan terwujud lagi-lagi bilamana para pemuda mampu mengintegrasikan segala cita-cita dengan membuat terobosan-terobosan besar, sehingga akan terbukti bahwa pemuda saat ini belum mati.
Evaluasi besar semacam ini memang sangat krusial untuk saat ini. Adanya stigma, bahwa pemuda hanyalah pemuda yang cenderung bersikap liar, adalah kata kunci yang harus segera dicarikan pemecahannya. Sebab, percaya atau tidak stigma tersebut masih terus melekat dibenak masyarakat secara umum. Padahal, idealnya seharusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Bahkan, pemuda mampu menguasai zaman dan punya agenda (minimal) untuk sepuluh tahun kedepan. Akhir kata, semoga setelah peringatan Sumpah Pemuda kemarin pemuda indonesia mampu mengendalikan zaman, bahkan melampauinya, dan bukan malah terperosok di dalamnya.

No comments: