Pemuda
Harus Menguasai Zaman
Oleh:
Moh Khairul Anwar
Janganlah
peringatan hanya dijadikan sebatas ritual kosong, tanpa menghasilkan sesuatu
yang produktif. Lebih baik, diadakan dzikir bersama supaya semuanya bisa
berjalan dengan penuh khidmat. Dan tentu saja harus dimotori oleh pemerintah
(utamanya).
Walaupun,
telah sekitar 83 tahun sejak dideklarasikannya sumpah pemuda pada tahun 1928
oleh sebuah organisasi kepemudaan yang beranggotakan pelajar dari seluruh
Indonesia, tapi seiring perjalanan waktu semakin kita tidak mendapatkan hawa
ataupun tanda-tanda akan adanya revolusi dari bawah. Yang dalam hal ini,
diprakarsai oleh para pemuda di mana sebelumnya telah mensinergiskan antara
satu ide dan ide lainnya menjadi satu visi misi bersama. Bersama-sama
menyingsingkan lengan maju demi terwujudnya Indonesia yang lebih baik.
Bukanlah
hal demikian yang tersirat dalam tiga butir sumpah para pendahulu kita? Sebuah
sumpah yang mengatasi segala sumpah-sumpah serapah para petinggi negeri ini. Di
mana mengisyaratkan bahwa segala apa yang berkaitan dengan bangsa dan negara
ini tidak ubahnya seperti milik dan keluarga kita sendiri. Oleh karenanya,
andaikan ada orang dengan tanpa aturan menyaplok bagian dari kekayaan kita, mengintervensi
keuangan kita, mengebiri jalannya pemerintahan (politik) di keluarga kita,
sudah sepantasnya dengan segenap jiwa dan raga kita memperjuangkannya.
Dan
yang lebih penting lagi untuk dijadikan bahan perenungan bersama adalah tentu
kita tidak menginginkan anarkisme membelenggu daya kreatifitas para pemuda. Karena
yang selama ini terjadi, justru demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan setiap
memperingati hari-hari besar nasional tidak kunjung kita mendapatkan hasilnya
(namun penulis tidak akan mengatakan bahwa langkah seperti ini buruk).
Terlepas, apakah aspirasinya dihiraukan oleh pemerintah atau tidak. Secara
teoritis, dari sisi psikologis tentu hal tersebut hanya menjadikan memuncaknya
emosional yang semakin tak terkendali.
Berangkat
dari kondisi yang sebenarnya kurang produktif tersebut, sedari sekarang harus
dilakukan perbaikan pola pikir. Dari pada kita bertindak terlalu praktis lebih
baik mengedepankan intelektualitas yang pada gilirannya akan menggiring kita
untuk berpikir bahwa sistem hanya berlaku sementara. Dan hanya segelintir orang
yang memegang kendali penuh konstelasi perpolitikan di negeri ini. Oleh
kerananya, jangan sampai kita rela ditelikung oleh sistem tersebut, sembari
mengusahakan bahwa publik juga memiliki kebenaran di mana pemerintah pun harus
tunduk kepadanya. Dengan catatan, hal ini akan terwujud lagi-lagi bilamana para
pemuda mampu mengintegrasikan segala cita-cita dengan membuat
terobosan-terobosan besar, sehingga akan terbukti bahwa pemuda saat ini belum
mati.
Evaluasi
besar semacam ini memang sangat krusial untuk saat ini. Adanya stigma, bahwa
pemuda hanyalah pemuda yang cenderung bersikap liar, adalah kata kunci yang
harus segera dicarikan pemecahannya. Sebab, percaya atau tidak stigma tersebut
masih terus melekat dibenak masyarakat secara umum. Padahal, idealnya
seharusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Bahkan, pemuda mampu menguasai zaman
dan punya agenda (minimal) untuk sepuluh tahun kedepan. Akhir kata, semoga
setelah peringatan Sumpah Pemuda kemarin pemuda indonesia mampu mengendalikan
zaman, bahkan melampauinya, dan bukan malah terperosok di dalamnya.
No comments:
Post a Comment