Potret Pahlawan Kontemporer
Oleh: Moh Khairul Anwar
Mengacu
pada sejarah, pahlawan dipahami sebagai orang-orang yang ikut berpartisipasi
dalam perjuangan mengusir penjajah serta memperoleh kemerdekaan tanah air,
sekalipun tidak harus selalu ikut mengangkat senjata. Termasuk pula, yang
menjadi icon dalam melahirkan ide-ide perubahan.
Dengan
terus berubahnya zaman, memang salah juga jika mengatakan bahwa berjuang dengan
mengangkat senjata masih menjadi tugas utama seluruh rakyat, sekalipun pada
suatu waktu tertentu tetap diperlukan. Seperti, ketika kekayaan alam kita
diambil secara tidak sah oleh bangsa lain, ataupun perebutan suatu pulau
sebagaimana beberapa kali dipraktekkan oleh tetangga sekaligus musuh bebuyutan,
yaitu Malaysia. Namun demikian, hal inipun telah menjadi tanggung jawab Tentara
Negara Indonesia (TNI). Tidak harus rakyat pada umumnya ikut terjun langsung.
Oleh
karenanya, benturan fisik untuk zaman kekinian memang sudah melewati zamannya,
alias tidak relevan lagi. Namun demikian, hal ini harus kita pahami menggunakan
nalar idealis sekaligus realistis. Dalam artian, dengan menggunakan akal sehat
alias inklusif kita harus memandang dunia modern sebagai suatu anugerah,
sebaliknya kita pun tidak boleh terkecoh oleh kemolekan tawaran zaman-yang
notabenenya bertentangan dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Serta, dengan
berlandaskan kepada keyakinan agama masing-masing di mana sama-sama
meniscayakan sebuah kedamaian dan hidup yang tentram, paling tidak membuat kisa
sadar bahwa dalam mana menyikapi segala bentuk penyimpangan sekarang ini tidak
bisa dilepaskan dari perbaikan kurikulum pendidikan serta menggalakkan
komunikasi antara satu sama lain.
Kalau
dipahami dengan teliti, gambaran di atas sudah bisa menggambarkan pahlawan
idealis di zaman kontemporer ini. Mengingat, kata kuncinya adalah No Crime and Open Mind (tidak ada
kekerasan, tapi membuka pikiran selebar-selebarnya), atau perang pikiran.
Sebagaimana sudah lazim kita pahami, perang pikiran tidaklah lebih mudah
dibanding perang senjata. Sebab, tidak hanya keberanian yang diperlukan, akan
tetapi mental, kecerdasan, pengetahuan, bahkan nasionalisme. Untuk memenuhi
keempat poin ini saja, dibutuhkan sinergitas antara pemerintah dan rakyatnya. Oleh
karena, pemerintah yang baik adalah bilamana setiap kebijakannya mampu membuka
cakrawala berpikir serta menyejahterakan rakyatnya, begitupun akan disebut rakyat
yang baik bilamana setiap tindakannya berlandaskan pada asas kebersamaan.
Lebih
lanjut, peran kaum muda di zaman kontemporer masih menjadi perhatian utama.
Praktek korupsi yang semakin mewabah, kenakalan remaja yang kian tak bisa
dibendung, serta sentimen antar kelompok yang juga masih diragukan berakhirnya,
tentu saja tak bisa dilepaskan dari peran aktif kaum muda. Dan memang pada
titik inilah kalau kita ingin membicarakan tentang pahlawan yang sesungguhnya.
Dengan
demikian, kalau pada zaman penjajahan antara pemerintah dan rakyat
berbondong-bondong mengangkat senjata, namun pada zaman sekarang baik
pemerintah, rakyat secara umum, dan kaum muda, berbondong-bondong memutar
pikiran untuk menanggulangi imoralitas, korupsi, etnosentris, dll, yang semua
itu menjadi ancaman terbesar terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara.
No comments:
Post a Comment