19 November 2011

Potret Pahlawan Kontemporer


Potret Pahlawan Kontemporer
Oleh: Moh Khairul Anwar

Mengacu pada sejarah, pahlawan dipahami sebagai orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan mengusir penjajah serta memperoleh kemerdekaan tanah air, sekalipun tidak harus selalu ikut mengangkat senjata. Termasuk pula, yang menjadi icon dalam melahirkan ide-ide perubahan.
Dengan terus berubahnya zaman, memang salah juga jika mengatakan bahwa berjuang dengan mengangkat senjata masih menjadi tugas utama seluruh rakyat, sekalipun pada suatu waktu tertentu tetap diperlukan. Seperti, ketika kekayaan alam kita diambil secara tidak sah oleh bangsa lain, ataupun perebutan suatu pulau sebagaimana beberapa kali dipraktekkan oleh tetangga sekaligus musuh bebuyutan, yaitu Malaysia. Namun demikian, hal inipun telah menjadi tanggung jawab Tentara Negara Indonesia (TNI). Tidak harus rakyat pada umumnya ikut terjun langsung.
Oleh karenanya, benturan fisik untuk zaman kekinian memang sudah melewati zamannya, alias tidak relevan lagi. Namun demikian, hal ini harus kita pahami menggunakan nalar idealis sekaligus realistis. Dalam artian, dengan menggunakan akal sehat alias inklusif kita harus memandang dunia modern sebagai suatu anugerah, sebaliknya kita pun tidak boleh terkecoh oleh kemolekan tawaran zaman-yang notabenenya bertentangan dengan kebudayaan bangsa Indonesia. Serta, dengan berlandaskan kepada keyakinan agama masing-masing di mana sama-sama meniscayakan sebuah kedamaian dan hidup yang tentram, paling tidak membuat kisa sadar bahwa dalam mana menyikapi segala bentuk penyimpangan sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari perbaikan kurikulum pendidikan serta menggalakkan komunikasi antara satu sama lain.
Kalau dipahami dengan teliti, gambaran di atas sudah bisa menggambarkan pahlawan idealis di zaman kontemporer ini. Mengingat, kata kuncinya adalah No Crime and Open Mind (tidak ada kekerasan, tapi membuka pikiran selebar-selebarnya), atau perang pikiran. Sebagaimana sudah lazim kita pahami, perang pikiran tidaklah lebih mudah dibanding perang senjata. Sebab, tidak hanya keberanian yang diperlukan, akan tetapi mental, kecerdasan, pengetahuan, bahkan nasionalisme. Untuk memenuhi keempat poin ini saja, dibutuhkan sinergitas antara pemerintah dan rakyatnya. Oleh karena, pemerintah yang baik adalah bilamana setiap kebijakannya mampu membuka cakrawala berpikir serta menyejahterakan rakyatnya, begitupun akan disebut rakyat yang baik bilamana setiap tindakannya berlandaskan pada asas kebersamaan.
Lebih lanjut, peran kaum muda di zaman kontemporer masih menjadi perhatian utama. Praktek korupsi yang semakin mewabah, kenakalan remaja yang kian tak bisa dibendung, serta sentimen antar kelompok yang juga masih diragukan berakhirnya, tentu saja tak bisa dilepaskan dari peran aktif kaum muda. Dan memang pada titik inilah kalau kita ingin membicarakan tentang pahlawan yang sesungguhnya.
Dengan demikian, kalau pada zaman penjajahan antara pemerintah dan rakyat berbondong-bondong mengangkat senjata, namun pada zaman sekarang baik pemerintah, rakyat secara umum, dan kaum muda, berbondong-bondong memutar pikiran untuk menanggulangi imoralitas, korupsi, etnosentris, dll, yang semua itu menjadi ancaman terbesar terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara.

No comments: