Premanisme
Menguat, Negara Tamat
Oleh: Moh Khairul Anwar
Sikap antipati
pemerintah dalam memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya, akhirnya berpuncak
pada berdirinya kekuasaan-kekuasaan informal yang memerintah sebagaimana
pemerintah pusat menjalankan kekuasaannya. Dan kondisi semacam inilah yang
akhir-akhir ini sering disebut dengan ‘pemerintahan di dalam pemerintahan’ (government within the goverment).
Sehingga, kekhawatiran masyarakat
terhadap semakin maraknya perilaku yang berbau premanisme, tentu bisa kita
pahami dengan melihat kondisi pemerintahan saat ini. Memberi pendidikan politik
yang baik, mewujudkan ketentraman, menginternalisasi paham inklusifitas
beragama, dan menjalankan ‘ekonomi kerakyatan’ tidak kunjung terlaksana secara
maksimal. Padahal, beberapa poin tersebut adalah inti dari seperangkat tugas
dan wewenang pemerintah, yang jika tidak dilaksanakan, setidaknya akan menuai
benih kekacauan sosial.
Kekacauan sosial atau great distruption, meminjam istilah
Francis Fukuyama, merupakan akumulasi dari berbagai persoalan kebangsaaan yang
cenderung diabaikan oleh pemerintah, itupun kalau kita tidak ingin mengatakan
bahwa pemerintahlah penyebab utamanya. Lebih-lebih, dengan terus merajalelanya
aksi premanisme yang berkuasa di setiap relung kota merupakan indikasi akan
lemahnya fungsi dari penegak hukum di negeri ini. Bisa dikatakan begitu, sebab
memberi keamanan kepada masyarakat umum adalah substansi dari tugas penegak
hukum itu sendiri.
Dengan demikian,
berdasar pada wacana memberantas premanisme di negeri ini, seharusnya mendapat
tanggapan serius dari pemerintah. Ketentraman dan keamanan adalah harga mati
yang harus dipenuhi. Sedangkan rakyat akan dengan senang hati memberi sokongan
secara positif, bilamana pemerintah bersikap tegas sebagaimana dibutuhkan saat
ini. Terlepas, dari adanya asumsi bahwa preman murni atau preman yang berkedok
Organisasi Masyarakat adalah antek pemerintah sendiri.
Maka, untuk mewujudkan
pemberantasan premanisme secara maksimal, mau tidak mau harus kita kembalikan
kepada pemerintah. Sebab, sebagaimana dikatakan sejarawan Ong Hok Ham, berkembangnya premanisme berhubungan erat
dengan tidak adanya negara sentral (pusat) dengan institusi kekuasaan yang kuat.
Dan sejatinya, kondisi pemerintahan kita saat ini paralel dengan asumsi
tersebut.
No comments:
Post a Comment